
Ketika akhir pekan tiba, ada yang berbeda di kediaman Ervita dan Pandu. Kediaman Ervita dan Pandu kali ini lebih semarak, karena ada kunjungan dari kedua orang tua Ervita yang datang dari Solo. Lantaran keluarga Ervita datang, kali ini Bu Tari dan Pak Hadinata pun menyambut Besannya di kediaman Pandu dan Ervita.
"Selamat datang di Jogja Bapak dan Ibu," sapa Pak Hadinata dengan begitu ramah.
"Terima kasih Bapak dan Ibu Hadinata. Sebelumnya kami minta maaf karena waktu Ervita bersalin, kami orang tuanya justru tidak bisa datang. Kami berhalangan hadir karena Mei juga usai melahirkan di Solo," ucap Pak Agus.
Bu Tari dan Pak Hadinata pun menganggukkan kepalanya. "Tidak apa-apa, Pak. Kan di sini, Ervita juga banyak yang menunggu. Terlebih Pandu, yang benar-benar siaga," balas Pak Hadinata lagi.
Bukan bermaksud untuk memuji putranya sendiri. Akan tetapi, sebagai seorang suami, Pandu memang benar-benar siaga. Pria itu berani dan teguh selama mendampingi Ervita bersalin seorang diri. Bahkan terlihat Pandu yang turut terlibat selama Ervita masa pemulihan.
"Kami beruntung dan bersyukur, Pak. Sebab, Mas Pandu benar-benar bisa diandalkan. Begitu siaga untuk mengurus dan menjaga Ervita."
Kemudian Bu Sri menatap menantunya seraya berkata. "Terima kasih banyak Mas Pandu ... Ervi sudah didampingi selama bersalin. Maaf juga karena Bapak dan Ibu justru tidak bisa mendampingi Ervi."
"Sama-sama, Ibu. Sudah menjadi tugasnya Pandu sebagai suami untuk siaga kepada istri," balasnya.
Seketika, Bu Sri dan Bapak Agus menjadi begitu lega. Menantunya itu seolah adalah menantu idaman. Sosok suami siaga, dan juga Ayah yang tidak membedakan antara Indi dan Irene. Bahkan terlihat dengan jelas bagaimana Indi yang begitu menempel dengan Pandu.
"Eyang, Bulik Mei tidak ikut ke sini?" tanya Indi kepada Eyangnya.
"Enggak, Indi. Bulik Mei dan Om Tanto di Solo juga punya adik bayi kayak Indi gini. Nanti kalau adik bayinya sudah agak besar, Bulik Mei boleh ke sini sama bayinya?" tanya Bu Sri.
Dengan cepat, Indi pun menganggukkan kepalanya. "Boleh dong, Eyang. Nanti Dik Arka bisa main sama Dik Iyene," balasnya.
"Loh, hurufnya R kok berubah menjadi Y," sahut Pak Agus dengan tertawa.
__ADS_1
Memang begitulah Indi. Terkadang dia bisa memanggil Irene, tapi juga kadang berubah menjadi Iyene. Namun, justru itu menjadi lucunya Indi. Tak jarang, keluarga pun menjadi tertawa karenanya.
"Coba, nama adiknya Indi siapa?" tanya Pak Agus lagi.
"Iyene, Kakung," jawabnya.
"Ikuti Kakung yah, I ... Rene."
"I ... Rene," balas Indi.
"Nah, itu bisa. Jadi, nama adiknya Indi siapa?" tanya Kakung Agus lagi.
"Irene, Kakung," jawabnya.
Seluruh keluarga pun tertawa mendengar jawaban Indi. Sebab, memang begitu lucu. Selain itu, Indi saat berbicara suara cempreng dan lucu didengar. Sehingga sering membuat mereka yang mendengarnya menjadi tertawa.
Kemudian Bu Sri yang ingin menggendong Irene, sehingga Ervita memberikan bayinya itu untuk digendong Eyang Uthinya. Kedatangan Bu Sri dan Bapak Agus memang untuk mengunjungi cucu, sehingga benar-benar dimanfaatkan untuk dekat dengan cucu-cucu mereka.
"Sini, ikut Uthi yah Irene," ucap Bu Sri.
Sekadar menggendong bayi Irene saja, Bu Sri berkaca-kaca. Teringat dulu, beberapa tahun yang lalu mungkin cucu pertamanya Indi, sekecil ini dan tidak mendapat sambutan dan kasih sayang yang hangat seperti Irene sekarang. Teringat dengan kekerasan hati mereka dulu dan juga dengan Indi yang kala itu hanya memiliki Ervita saja di dalam hatinya.
Sebagai orang tua pun merasakan ada rasa bersalah di dalam hati. Bukan bermaksud membedakan cucu pertama dan cucu selanjutnya. Namun, dulu memang mereka sedang dipenuhi amarah, sehingga yang mereka pikirkan memang kesal dan juga kecewa dengan Ervita. Ketika hati dilingkupi amarah, terkadang juga orang tua seolah bisa begitu tega dengan anaknya sendiri.
Untuk itu, Bu Sri pun menggendong Baby Irene dengan merangkul Indi. "Mbak Didi, Uthi tadi bawakan oleh-oleh dari Solo. Ada Serabi Notosuman. Mbak Didi suka enggak?" tanyanya.
__ADS_1
"Iya, suka Uthi. Seperti yang dimakan di Solo itu kan?" tanyanya.
"Iya, ada yang rasa original dan rasa coklat. Mbak Didi suka yang apa?" tanya Bu Sri lagi.
"Suka yang coklat, Uthi," balas Indi.
Bu Sri kemudian berbicara lagi. "Nanti kalau Adik Irene sudah agak besar, Mbak Didi main ke Solo yah? Menginap di rumahnya Kakung dan Uthi yah?"
"Iya, Uthi," jawabnya singkat.
Sementara Ervita pun juga senang karena banyak oleh-oleh yang dibawakan Bapak dan Ibu dari Solo. Mulai dari Serabi, Intip, hingga aneka jajanan lainnya.
"Ibu, kok bawanya banyak banget sih?" tanya Ervita kepada Ibunya.
"Enggak apa-apa. Itu semuanya makanan kesukaan kamu," balas Bu Sri.
"Wah, terima kasih banyak, Bu," balas Ervita.
Kemudian Bu Sri tersenyum melihat Ervita dan kembali berbicara. "Maafkan Ibu ya, Vi ... dulu sewaktu kamu melahirkan Indi, tidak ada keluarga yang mendampingi kamu. Tidak ada yang menyambut bayimu. Ibu merasa bersalah," ucap Bu Sri lagi.
Akan tetapi, Ervita dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa, Bu. Kan semua adalah masa lalu. Indi pun tumbuh dengan baik dan dilimpahi dengan kasih sayang," balas Ervita.
Ya, walau memang anak yang lahir karena kecelakaan. Namun, Ervita sudah berjanji dalam hati bahwa dia akan selalu menyayangi Indi. Membesarkan putrinya itu dengan kasih sayang. Itu kian lengkap, ketika Pandu menikahinya dan kemudian Indi pun memiliki seorang Ayah. Mungkin, sampai batas waktu yang tidak diketahui, Indi akan mengenal Pandu sebagai Ayahnya.
"Maaf ya, Vi ... biar bagaimana pun, Ibu dan Bapak sudah bersalah," balas Bu Sri lagi.
__ADS_1
"Masa lalu tidak usah diingat-ingat lagi, Bu. Yang penting sekarang hubungan keluarga kita sudah baik," balas Ervita.
Ya, memang tidak ada baiknya mengingat masa lalu yang pahit. Yang jauh lebih penting sekarang adalah hubungan keluarga sudah dipulihkan. Indi juga diterima dan disayangi sebagai cucu mereka.