Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Liburan Tahun Baru


__ADS_3

Penghujung tahun akan segera tiba, kini Pandu sudah dalam fase libur karena memang setiap tahunnya dia memberikan cuti kepada stafnya di kantor konsultan interior design mulai dari tanggal 25 Desember hingga tanggal 1 Januari. Mereka akan dipersilakan untuk bekerja mulai tanggal 2 Januari lagi.


"Yayah tidak bekerja?" tanya Indi kepada Ayahnya yang tumben hari ini tidak masuk bekerja.


"Yayah libur ini Didi ... sampai tanggal 1 Januari," balasnya.


"Yeay ... Didi seneng ... bisa main sama Yayah," teriak Indi yang merasa begitu senang karena Ayahnya libur untuk waktu yang cukup lama.


"Mau jalan-jalan sama Ayah dan Bunda?" tanyanya.


"Mau ... ke Candi dong Ayah, mau lihat candi," balasnya.


Pandu pun menganggukkan kepalanya perlahan, "Boleh yuk ... Bunda, jalan-jalan ke Candi yuk ... Indi pengen ke candi mana dulu? Di Jogjakarta ini ada banyak candi Indi ... ada Prambanan, Borobudur, Plaosan, Candi Ijo, Istana Ratu Boko, dan banyak lagi candi lainnya," ucap Pandu.


"Candi Prambanan saja, Ayah ... Indi mau," pintanya.


"Ya, sudah ... yuk, ganti baju dulu yah," balas Pandu.


Keluarga kecil itu kini kompak menggunakan baju warna kuning dan juga, Pandu meminta Ervita mengenakan sepatu yang flat saja, supaya membuatnya nyaman untuk jalan-jalan. Kemudian, dia mengajak Indi dan Ervita menaiki mobil melaju ke arah Sleman, dan tujuannya sekarang ada ke Candi Prambanan.


"Pernah ke Candi Prambanan sebelumnya, Nda?" tanya Pandu kepada istrinya itu.


"Pernah Mas ... waktu kecil dulu, sama Bapak dan Ibu, naik sepeda motor berempat loh Mas ... Bapak, Ibu, aku, dan Mei. Luar biasa banget zaman dulu itu," kenang Ervita sewaktu kecil dia pernah mengunjungi Candi Prambanan dengan mengendarai sepeda motor dari Solo hingga ke Jogjakarta untuk mengunjungi Candi Prambanan yang memang begitu megah itu.


"Orang zaman dulu juga begitu, Nda ... sudah seneng banget ya naik sepeda motor jauh, di pantat sampai panas yah," balas Pandu.

__ADS_1


"Iya, bener ... udah situ sampai ke Candi Prambanan panas banget, cuma ya seneng aja. Namanya juga anak kecil," balasnya.


"Dulu, enggak mampir ke rumah, Nda ... bisa nginep dulu kalau kamu mau," balasnya.


Ervita pun terkekeh geli di sana, "Emangnya dulu kenal? Kalau sejak dulu udah kenalan, mungkin sekarang malahan kita tidak bersama, Mas," balasnya.


"Mas siapa Nda?" tanya Indi dengan tiba-tiba.


"Itu, Mas Pandu," jawab Ervita dengan menunjuk Pandu yang sedang mengemudikan mobilnya.


"Bukan ... itu Yayah, bukan Mas," jawab Indi.


"Iya yah? Kok Bunda manggilnya Mas yah," balas Ervita dengan nada bercanda.


"Mas Yayah ya Nda?" tanya Indi lagi.


"Bukan, maafkan Bunda yah ... ini Yayahnya Didi," balas Ervita meluruskan panggilan supaya Indi tidak ikut-ikutan untuk memanggil suaminya itu dengan panggilan Mas Yayah.


"Macet banget Yah," ucap Ervita memperhatikan jalanan di Jogja yang benar-benar macet.


"Iya Nda ... maklum, kalau akhir tahun dan menuju pembukaan tahun ya seperti ini. Jalanan penuh sesak."


"Oh, baru tahu ... soalnya beberapa tahun di Jogja kan baru keluar-keluar setelah menikah denganmu. Sebelumnya di rumah saja, hamil dan mengasuh Indi," balas Ervita.


Memang jalanan penuh sesak, sampai dari rumah Pandu ke Candi Prambanan saja membutuhkan waktu 1 jam, padahal biasanya waktu yang butuhkan lebih cepat. Begitu memarkirkan mobilnya, Pandu menggandeng Ervita di tangan kanan, dan Indi di tangan kirinya. Tidak lupa, Ayah Pandu membelikan tiket masuk dahulu untuk ketiganya.

__ADS_1


Kemudian mereka melintasi area taman dan juga sudah terlihat candi Prambanan yang begitu megah dan menjulang tinggi.


"Yayah, itu Candinya?" tanyanya.


"Iya, itu candinya. Bagus kan?" tanyanya.


"Iya bagus banget," balas Indi.


Sebelum memasuki pelataran candi, kemudian Pandu mengajak Ervita dan Indi untuk foto bersama terlebih dahulu. Apalagi di sana ada jasa sewa foto yang bisa memotret para wisatawan di area Candi Prambanan.


"Lihat ke sana, Didi ... kita foto dulu yah," ucap Pandu meminta Indi untuk menatap ke arah kamera.


Ketiga berfoto bersama dengan Pandu yang menggendong Indi, dan menggandeng tangan Ervita. Bahkan Pandu sampai mencetak foto sampai tiga kali. Ervita sampai geleng kepala melihat suaminya yang terlihat begitu bersemangat itu.


Kemudian mereka melanjutkan perjalanan ke pelataran Candi Prambanan. Lantaran tangga untuk masuk ke dalam candi cukup terjal, Pandu meminta Ervita untuk menunggu di bawah saja. Dia khawatir jika Ervita ikut masuk dan kandungannya bisa bermasalah nanti.


"Nda di bawah dulu saja yah ... aku dan Indi masuk ke Candi Siwa dulu, mau nunjukin Roro Jonggrang ke Indi," ucap Pandu.


"Padahal itu patung Dewi Siwa loh, bukan Roro Jonggrang,' balas Ervita dengan terkekeh geli.


"Terkenalnya kan Roro Jonggrang, Nda ... ya sudah, tunggu aku ya Nda ... jangan kemana-mana, nanti hilang," balasnya.


"Iya, aku duduk di sana ya Mas ... santai saja, aku tidak akan kemana-mana kok," balas Ervita.


Dari tempatnya duduk, Ervita melihat Pandu dan Indi yang saling bergandengan tangan dan kemudian Ervita memotret keduanya dari belakang. Sungguh seorang Ayah yang hebat untuk Indi. Nanti saat bayinya lahir, akan lebih seru karena ada dua tangan kecil yang akan digandeng oleh suaminya itu.

__ADS_1


Di tempatnya duduk, Ervita merasakan angin yang bertiup sepoi-sepoi dan melihat pemandangan di sekitaran Sleman yang terlihat dari pelataran candi Prambanan. Bersama Pandu, tempat yang dulu dia datangi semasa kecil menjadi lebih indah, termasuk dengan Indi yang juga menikmati hari liburan dengan Ayahnya.


__ADS_2