
"Sudah sampai, Vi ... yuk, aku temenin," ucap Pandu.
Bukan bermaksud untuk membuat Ervita kian cemas. Hanya saja, bagi Pandu segala situasi yang ada di depan kita harus dihadapi. Berani menghadapi, bukan melarikan diri. Walau Pandu tahu bahwa Ervita begitu takut, tetapi bukankah ada dirinya yang akan menjaga Ervita dan Indira?
"Ervi takut, Mas ...kira-kira Bapak marah enggak ya Mas?" tanya Ervita kemudian.
"Tidak tahu juga, Vi ... kan respons orang terhadap suatu masalah itu berubah. Jika dulu marah, tidak mungkin juga kan sekarang menjadi marah-marah. Lagian itu resepsinya sudah selesai deh, Vi ... itu orang-orang sudah pulang," ucap Pandu dengan melihat orang-orang yang sudah pulang dari acara resepsi.
"Tunggu para tamu pulang dulu ya, Mas ... usai resepsi malahan tidak apa-apa. Takut menjadi buah bibir," balas Ervita lagi.
Pandu pun akhirnya menganggukkan kepalanya, dan juga memberi waktu untuk Ervita bisa menenangkan dirinya. Toh, sudah jauh-jauh sampai ke Solo juga. Rumah keluarganya juga tinggal berjalan sedikit, sehingga Pandu pun justru bertekad untuk hadir.
"Mas Pandu enggak takut?" tanya Ervita kemudian kepada Pandu.
"Tidak ... jangan takut, Vi. Kesalahan kamu kan dulu, lagian semua ini bukan murni salah kamu. Harusnya kamu itu korban, Vi ... tetapi korban yang merasa kesakitan, berdosa, dan juga menanggung semuanya seorang diri. Pelakunya justru bisa hidup bebas loh," sahut Pandu.
Cukup lama mereka masih berada di dalam mobil, sampai para tamu sudah tidak ada yang pulang. Kemudian Ervita menganggukkan kepalanya kepada Pandu, "Sekarang ya Mas Pandu ... ehm, temani aku ya Mas," pintanya kali ini.
Pandu menganggukkan kepalanya dan menatap Ervita, "Pasti, aku akan selalu menemani kamu, Vi," jawabnya dengan sepenuh hati.
Siap tidak siap, berani tidak berani, hari ini Ervita harus menghadapinya. Wanita itu turun dari mobil dengan menggendong Indira. Akan tetapi, Pandu segera berjalan ke arah Ervita, "Sini, Indira biar aku yang gendong," ucapnya.
"Mas Pandu ...."
Tidak membutuhkan waktu lama, Indira pun sudah berganti ke dalam gendongan Pandu. Lantas pria itu menganggukkan kepalanya lagi. "Jangan takut, yuk ... ada aku," ucapnya lagi.
Dengan hati yang gentar, Ervita pun melangkah memasuki gang yang menuju ke dalam rumahnya, beberapa tetangga yang melihatnya pun ada yang menyapanya.
__ADS_1
"Itu Ervi loh ... Ervita."
"Yuh, setelah hampir tiga tahun ... Ervi pulang."
"Itu sama siapa pemudanya tampan dan gendong bayi, apa anaknya yang cowok."
"Yang merantau sudah pulang, Itu loh Ervi pulang."
Begitu banyak bisik-bisik tetangga. Ada yang hanya sekadar mengatakan Ervita sudah pulang, ada yang menduga bahwa Indira adalah anaknya Pandu, dan mungkin ada berbagai spekulasi yang lain. Hingga kian dekat ke rumahnya, Ervita sudah merasa matanya pedih, berusaha keras untuk menahan air matanya yang bisa jatuh kapan saja.
Dari jarak sekian meter, dia bisa melihat Bapak dan Ibunya, Bapaknya masih mengenakan Beskap dan Jarik, sementara Ibunya masih mengenakan Kebaya dan juga Jarik. Melihat kedua sosok orang tuanya, Ervita tak mampu lagi berbicara, air matanya menitik begitu saja.
"Bapak ... Ibu," sapa Ervita dengan lirih kepada orang tuanya.
Sekian tahun tak bertemu, sekian tahun hidup dalam ketakutan, hingga kini ketiganya dipertemukan kembali. Sama-sama tertegun, hanya air mata yang mengalir di sana.
"Ervi," balas Bu Sri yang sudah menangis dan lalu memeluk putri sulungnya itu.
Semua air mata larut menjadi satu. Pertemuan yang penuh dengan air matanya. Tubuh yang saling memeluk, dan air mata yang berderai dengan begitu derasnya. Pandu yang berdiri di samping Ervita berkali-kali sampai menghela nafas karenanya.
Beberapa saat keduanya berpelukan, hingga Ervita dan Ibunya mengurai pelukannya, lantas Ervita menatap ke Bapaknya.
"Bapak ... maafkan Ervi, Pak," ucapnya lirih. Ervita layaknya anak yang kedapatan nakal dan meminta maaf dari Bapaknya sendiri. Di sorot matanya ada ketakutan kala bertemu Bapaknya sendiri.
Tidak banyak berbicara, rupanya Pak Agus membuka kedua tangannya, mengisyaratkan kepada anaknya itu untuk memeluknya. Sebenci apa pun, semarah apa pun, seorang anak adalah tetap anak. Amarah yang dulu dulu meluap, sekarang agaknya sudah sirna.
"Bapak ... maafkan Ervi ya Pak," ucapnya lagi.
__ADS_1
"Nduk ... Ervi," balas Bapaknya yang juga tidak kuasa untuk meneteskan air matanya.
Sementara melihat kedatangan Ervita, Mei pun turun dari pelaminan dan mendatangi Kakanya itu.
"Mbak Ervi ... Mbak," ucapnya dengan menangis di sana.
Kakak dan Adik itu pun bertemu dalam saling menangis.
Terlihat jelas, masalah bercampur amarah hanya akan memisahkan para anggota keluarga. Anak berpisah dari orang tuanya, kakak berpisah dari adiknya, dan juga semua hidup dalam terkaannya masing-masing.
"Duduk dulu," ajak Bu Sri kemudian.
Lantas Ervita pun duduk di dekat situ, dan Pandu juga mengambil tempat untuk duduk di samping Ervita dengan sekarang memangku Indira.
"Yayah ... apa?" tanya Indira yang Pandu.
"Ini jagong, Indi ... ada yang menikah, ada pengantin," jelas Pandu secara sederhana kepada Indira.
"Manten?" tanya Indira lagi.
"Iya, itu pengantinnya Tante Mei dan Omnya," balas Pandu.
Ervita masih berusaha menenangkan dirinya, dan Pandu mengeluarkan sapu tangannya dari saku celananya dan menyerahkan kepada Ervita.
"Pakai ini, Vi ...."
"Makasih Mas," balasnya.
__ADS_1
Pandu pun melirik ke Ervita, "Sudah, jangan menangis ... tidak apa-apa. Aku temanin kamu," ucap Pandu lagi.
Walau amarah orang tuanya sudah sirna, tetapi jika bukan karena Pandu yang menemaninya, tidak mungkin juga Ervita akan memiliki keberanian sebesar ini untuk menghadapi orang tuanya. Tadi, Ervita nyaris mengajak Pandu kembali pulang ke Jogja.