
Sementara itu di Jogjakarta, keluarga Pandu dan Ervita benar-benar dilingkupi kebahagia dengan lahirnya Baby Irene. Pandu pun membuktikan ucapannya bahwa dia tidak akan membedakan antara Indi dan Irene. Di mata dan hati Pandu, keduanya adalah anaknya. Tidak membedakan anak sambung dan anak kandung.
Sama seperti pagi ini, Indi nyatanya sedang sedikit tantrum dan maunya dengan Bundanya. Untuk itu, Pandu pun seolah bertukar peran dengan Ervita. Sang ayah itu segera menenangkan Indi.
"Kenapa pagi-pagi kok Indi nangis?" tanya Pandu.
"Mau sama, Nda ... Yayah," balasnya dengan menangis sehingga berlinangan air mata.
"Sebentar ya Mbak Didi ... Bunda mandiin Adik Irene, dulu yah," balas Pandu.
"Nanti Didi maunya dimandiin Nda juga," balasnya.
Pandu pun menganggukkan kepalanya. "Iya, boleh ... sini digendong Yayah dulu yuk," ajak Pandu.
Akhirnya Indi menganggukkan kepalanya, kemudian dia mau untuk digendong Ayahnya terlebih dahulu. Tangan kecilnya melingkari leher Pandu, dan kemudian menyembunyikan wajahnya di dada Ayahnya itu. Dengan masih menangis sesegukan. Mungkin ada rasa iri di hati sebagai seorang Kakak. Biasanya, yang dipegang terlebih dahulu adalah dirinya, dan sekarang Bundanya harus memandikan adik bayi. Si sulung pun membutuhkan waktu untuk beradaptasi dan menerima keberadaan adik bayinya. Sebelumnya, Ervita juga sudah memberitahukan kepada Pandu bahwa untuk pengasuhan Indi keduanya ada kalanya juga harus bertukar peran.
"Yayah, Adiknya itu nanti sama Nda terus yah?" tanyanya.
"Tidak juga, Mbak Didi ... kan nanti Adik juga sama Yayah juga. Kalau adiknya bobok, kan Bunda bisa sama Mbak Didi juga."
Pandu memberikan penjelasan panjang lebar kepada putrinya. Selain itu, juga dengan memberikan pengertian kepada Indi, perlahan-lahan pasti Indi bisa menerima keadaan dan perubahan yang terjadi.
"Bunda tidak dimiliki adik kan Yah?" tanya Indi lagi.
"Tidak dong ... Bunda dan Yayah kan punya Mbak Didi dan Adik Irene. Jadi, saling sayang yah. Yayah dan Nda sudah pasti akan menyayangi Mbak Didi dan Adik Irene dengan sama besarnya."
__ADS_1
Pandu menjelaskan semuanya dengan nada yang lembut kepada Indi. Konsep kepemilikan seorang anak pasti akan berpikir seperti Indi, takutnya Ayah dan Bundanya menjadi milik adiknya saja. Padahal Ayah dan Bundanya adalah miliki Indi dan juga Irene.
Hingga akhirnya, Bunda Ervi keluar dengan membawa Irene yang sudah mandi terlebih dahulu. Kemudian Ervita hendak memberikan Irene kepada Pandu.
"Mbak Didi, yuk ... mandi sama, Nda," ajak Ervita.
Indi pun meminta turun dari gendongan dari Ayahnya. Kemudian berlari ke arah Bundanya. Indi mengamati adiknya yang sudah bersih dan wangi. Baby Irene yang kala itu kembali dibedong bagian tubuh dan kakinya saja, sementara tangannya tidak turut dibedong.
"Nih, adiknya Mbak Didi udah mandi," ucap Ervita.
"Udah wangi, Nda?" tanyanya.
"Iya, Mbak Didi mau sayang adiknya?" tanya Ervita.
"Irene harum, Nda ... kulitnya lembut," ucapnya.
"Dulu waktu Mbak Didi bayi juga seperti Irene ini. Sekarang Mbak Didi mandi sama Nda yuk? Adiknya ikut Yayah dulu yah?"
"Iya, adik sama Yayah," jawabnya.
Ervita kemudian menyerahkan Irene kepada Yayah Pandu. Sementara dia memandikan Indi terlebih dahulu. Ada kalanya, memang pagi hari menjadi hari yang hectic. Ini padahal baru hari ketiga usai melahirkan Irene, tetapi rasanya sudah begitu hectic, dan harus ekstra sabar di malam hari.
"Adik ikut Yayah dulu yah," ucap Pandu dengan menggendong Baby Irene hanya dengan memakai kedua tangannya.
Sebenarnya Pandu sendiri mengaku bahwa dia masih takut untuk menggendong bayi. Akan tetapi, Ervita meyakinkan suaminya itu bahwa pasti bisa menggendong bayi. Terlebih Pandu dan Irene juga harus sering-sering melakukan bounding, supaya si baby memiliki kedekatan dengan Ayahnya.
__ADS_1
"Irene sudah harum, sudah wangi, dan sudah cantik. Kamu cantik banget, Nak ... kayak Nda dan Mbak Didi," ucapnya.
Sekadar mengajak bicara Irene saja, kedua mata Pandu sudah tampak berkaca-kaca. Tidak menyangka bahwa Irene adalah buah hatinya dengan Ervita. Selama sembilan bulan, dia hanya bisa mengusapi perut Ervita, mengajak baby Irene berbicara dari luar dan sekarang bisa menatap wajah bayinya, mengamati kedua bola mata yang begitu bening dan juga menggendongnya. Rasa kebapakan seorang Pandu seolah bisa keluar dengan sendirinya.
"Ayah janji akan selalu menyayangimu, melindungimu. Kamu dan Mbak Didi adalah permata hati Ayah," ucap Pandu dengan sedikit mengangkat tubuh kecil Irene dan mengecup keningnya.
Hampir sepuluh menit berlalu, Ervita keluar dari kamar dengan menggandeng Indi yang juga sudah mandi. Kini, Indi juga ikut duduk di samping Ayahnya.
"Yayah, Didi sudah mandi ... disayang juga dong kayak Yayah sayang adik Irene," ucapnya.
Pandu tersenyum. Pria itu kemudian merangkul tubuh Indi dan mengecup pipi putrinya itu.
Cup!
"Wah, Mbak Didi juga sudah cantik dan harum, sama kayak Adik Irene," balasnya.
"Cantik dong, Yah ... kan seperti Nda," jawab Indi.
"Iya, kalian cantik-cantik. Kalau Yayah apa, Mbak Didi?" tanya Pandu.
"Yayah cakep dong," jawab Indi.
Ervita dan Pandu pun tertawa. Adakalanya jawaban spontanitas dari Indi justru menjadi alasan mereka tertawa. Kebahagiaan dalam keluarga pun tidak selalu harus mengeluarkan uang mahal. Cukup menyempatkan waktu bersama, bercanda, dan mengasihi saja rasanya sudah begitu bahagia.
Happy Reading^^
__ADS_1