
Mengantarkan Ervita menuju Rumah Sakit hendak bersalin sebenarnya bukan pengalaman pertama untuk Pandu. Dulu ketika Ervita hendak melahirkan Indi, juga Pandulah yang mengantarkan Ervita menuju ke Rumah Sakit. Sekarang, kondisinya sudah berubah karena Pandu adalah suami Ervita sekarang.
"Sakit banget, Nda?" tanya Pandu yang sebenarnya panik.
Walau mengantar Ervita bukan pengalaman pertama, tetapi rasanya panik dan juga merasa kasihan dengan Ervita sekarang. Bahkan ketika sedang menyetir pun Pandu sesekali mengusapi perut Ervita di sana.
"Lumayan, Mas ... kok sakit," balas Ervita dengan menghela nafas.
Ini bukan pengalaman pertama, tapi hendak persalinan rasanya memang luar biasa sakit. Perut yang mulas, tubuh yang merespons dengan rasa sakit dari kepala hingga ujung kaki, pinggang juga merasa kencang dan panas rasanya.
"Sebentar lagi ya, Dinda ... mana lalu lintas juga macet. Ya ampun," ucap Pandu dengan menggelengkan kepalanya karena lalu lintas di kota Jogjakarta yang macet kala itu.
Lebih dari setengah jam berlalu, barulah mereka sampai di Rumah Sakit, dan Pandu segera mengantar istrinya ke Poli Kandungan. Di saat mulailah Ervita di tangani karena memang belum begitu banyak pasien. Ada seorang Bidan yang akan membantu Ervita sekarang.
"Ada apa Ibu?" tanya Bidan itu.
"Perut saya sakit, Bu ... tadi juga sudah keluar bercak darahnya. Mungkin kah sudah terjadi pembukaan?" tanya Ervita.
"Sudah berapa week?" tanya Bidan tersebut.
"Jika tidak salah ini menginjak 39 minggu," balas Ervita.
Mulailah Bidan itu meminta Ervita untuk bersiap karena akan dilakukan pemeriksaan dalam terlebih dahulu.
"Sekarang mohon dengarkan instruksi dari saya ya, Bu. Buka kakinya, tarik nafas panjang. Kita akan melakukan cek dalam terlebih dahulu dan jangan berpikiran yang aneh-aneh yah ya, Bu," instruksi dari Bidan itu.
Mulailah sang Bidan memasukkan tiga jari di bawah sana untuk mengecek berapa banyak pembukaan yang sudah terjadi. Tepat, ketika tangan sang bidan di tarik keluar di sana sudah tampak ada darah yang tentunya berasal dari serviks.
Melihat darah, dan rasa perih saat dilakukan cek dalam membuat Ervita menangis. Pandu benar-benar tidak mengira bahwa proses persalinan akan semenakutnya ini. Dulu dia hanya berdiri di luar dan menunggui Ervita. Sekarang bisa melihat sendiri dengan kedua matanya rasanya membuat Pandu tak kuasa menahan. Pria itu pun berkaca-kaca di sana.
"Sudah pembukaan empat, Bu Ervi ... ini anak pertama atau kedua?" tanya sang Bidan lagi.
__ADS_1
"Anak kedua, Bu," balasnya.
"Langsung di sini ya Bu? Sudah bawa barang-barang untuk Ibu dan bayi? Biasanya jika persalinan untuk anak kedua akan lebih cepat proses pembukaannya. Sembari menunggu Dokter Arsy, Bagaimana?" tanyanya.
Kali ini Pandu lah yang memberikan jawabannya. "Boleh, Bu ... untuk pembukaan empat ke pembukaan sempurna itu berapa lama yah?" tanyanya.
"Tergantung bayinya juga sih, Pak. Seperti ini kan ada kerja sama dari Ibu dan bayi. Sama-sama berusaha mencari jalan lahir. Namun, biasanya untuk anak kedua sih bisa lebih cepat. Mungkin lima atau enam lagi bisa terjadi persalinan," ucap sang Bidan.
Tidak mau mengambil risiko, Pandu pun memilih untuk menunggu di Rumah Sakit. Sekarang, Ervita berada di kamar rawat inap miliknya di kelas VIP di Rumah Sakit Khusus Ibu dan Anak itu. Sementara Pandu juga setia untuk mendampinginya.
"Kalau Bu Ervi masih kuat, bisa berjalan-jalan di ruangan ini. Jongkok dan berdiri juga boleh untuk menguatkan otot di panggul dan menstimulasi bertambahnya pembukaan. Sudah mau pembukaan lima itu artinya sudah memasuki fase aktif di mana rasa kontraksi akan datang lebih sering dan lebih sakit," ucap Bidan itu lagi.
"Apa rasa sakitnya tidak bisa dihentikan?" tanya Pandu yang sebenarnya panik dan tidak tega melihat Ervita kesakitan.
"Jika persalinan normal, memang tidak bisa dihentikan, Pak. Kalau terjadi kontraksi, Bapak bisa mengusapi punggung istrinya," balas Bidan tersebut.
Sekarang di kamar perawatan itu hanya tinggal Ervita dan Pandu. Sebenarnya, Ervita berusaha kuat supaya tidak membuat suaminya itu khawatir. Dia hanya meneteskan air matanya saja. Sebab, rasa sakitnya setiap kali kontraksi memang bertambah sakit.
"Sakit sih, Mas ... ssshhss," jawabnya dengan sedikit berdesis karena memang begitu sakit.
"Sabar yah ... tidak lama lagi kita akan bertemu dengan baby kita. Aku baru tahu kalau persalinan sesakit ini. Aku tegang, Dinda," aku Pandu.
Tidak dipungkiri untuk pria yang baru pertama kali menemani istrinya bersalin, Pandu merasa tegang. Ingin melakukan sesuatu untuk Ervita, tapi dia juga tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Hanya bisa meminta Ervita untuk bersabar saja. Yang pasti, Pandu akan selalu mendampingi Ervita bersalin.
"Kuat ya Dindaku ... dulu aku menemanimu dari luar. Sekarang, aku akan menemani dari dalam. Di sini, aku akan selalu menemani kamu," ucap Pandu.
"Jangan ditinggal yah, Mas," balas Ervita.
Sekarang seolah pikiran dan kenangan beberapa tahun yang lalu melayang kembali. Ervita pecah tangisannya. Teringat bagaimana dulu dia melahirkan seorang diri, tidak ada sang suami yang menemaninya. Ada rasa sakit yang seolah kembali muncul, Ervita tak kuasa menahan air matanya.
"Iya-iya, Dindaku ... aku temenin. Walau aku sendiri sebenarnya sangat takut, tapi aku akan menguatkan diriku," balasnya.
__ADS_1
Pandu pun berkata jujur. Dia sebenarnya sangat takut. Tadi saja, sekadar melihat Ervita dilakukan pengecekan dalam, dia merasa ngilu dan meringis perih. Namun, Pandu sangat ingat bahwa sekarang Ervita sangat membutuhkan dirinya.
"Udah jangan nangis. Nanti kamu kecapekan kalau menangis terus. Simpan tenaganya untuk mengejan nanti, Dinda," balas Pandu.
Pria itu sendiri yang menyeka air mata Ervita. Menguatkan Ervita. Meminta Ervita untuk menyimpan tenaganya untuk mengejan nanti. Tidak ingin Ervita kelelahan hingga sukar untuk mengejan.
"Mau minum dulu enggak? Karena persalinannya normal kan pasien boleh makan dan minum, beda dengan Mbak Pertiwi dulu yang tidak boleh makan dan minum," balas Pandu.
"Dikit aja, Mas," balas Ervita.
Pandu dengan cepat mengambil botol air mineral, membuka sealnya, dan kemudian memberikan pippet untuk Ervita bisa minum dengan lebih nyaman. Usai itu Pandu kembali duduk di samping Ervita.
"Ada yang kamu butuh? Bilang aja ke aku, jangan sungkan," ucapnya.
"Mau menghubungi keluarga di Solo juga, Mas. Minta doa dari Bapak dan Ibu," balas Ervita.
Pandu pun akhirnya menghubungi keluarga di Solo dan juga memohonkan doa untuk Ervita. Selain itu, Pandu juga mengabarkan bahwa sekarang Ervita sudah pembukaan empat. Semoga saja tidak berselang lama, Ervita bisa melahirkan. Setelahnya Pandu juga menghubungi keluarganya dan menyampaikan kondisi Ervita. Keluarga Hadinata pun turut mendoakan dan mengharapkan supaya persalinan kali ini lancar.
Selang beberapa jam berlalu ...
Ervita merasakan sakit yang kian bertambah. Wajahnya hingga sembab, dan juga seluruh tubuh rasanya begitu sakit.
"Mas Pandu ... sakit banget, Mas," ucap Ervita berbalut tangisan air mata.
"Tahan dulu, Yang ... semoga gak lama lagi," balas Pandu.
"Kali ini sakit banget," keluh Ervita yang benar-benar tidak tahan dengan rasa sakitnya.
"Sabar ... kita tunggu sampai pembukaan lengkap dulu, nanti kita sambut baby kita bersama-sama," balas Pandu.
Pandu rasanya tidak tega melihat istrinya sekarang. Jika bisa, Pandu mau menggantikan posisi Ervita dan menanggung semua rasa sakit. Sakit bersalin adalah rasa sakit yang teramat sakit, seluruh tubuh rasanya diremukkan. Sekarang, Pandu melihat sendiri bagaimana kesakitannya Ervita untuk melahirkan baby mereka. Semoga tidak perlu lama lagi dan Ervita bisa bersalin dengan selamat.
__ADS_1