
Ada satu hal yang membuat Wati lega karena Ervita justru sudah memaafkan kesalahan Firhan sejak dulu, bahkan sebelum suaminya itu datang dan meminta maaf. Di mata Wati sekarang bahwa Ervita memang adalah wanita yang baik, sosok yang memiliki hati yang lapang seluas samudra. Bagi beberapa orang apa yang sudah Firhan lakukan adalah bentuk kesalahan yang tidak termaafkan. Akan tetapi, Ervita nyatanya bisa memaafkan Firhan.
Bahkan Pandu pun adalah sosok yang bijak. Tidak meluapkan amarahnya, melainkan memberi tahu bahwa semua yang sudah menjadi masa lalu, biarlah tetap menjadi masa lalu. Tugas Pandu di sana juga hanya untuk mendampingi Ervita saja. Namun, jika nyatanya kedatangan Firhan untuk maksud yang tidak baik, tentu saja Pandu akan berdiri di garda terdepan untuk melindungi Ervita.
"Sudah lupakan saja semuanya yang dulu pernah terjadi. Bahkan jika memang menganggapnya seolah tak pernah terjadi pun tidak apa-apa," balas Ervita.
Bahkan Ervita sampai mengatakan bahwa menganggap semuanya seolah tidak pernah terjadi pun tidak apa-apa. Tentu kenangan itu begitu pahit, hingga getir ketika dulu Ervita merasakannya. Namun, Ervita menyadari bahwa masa lalu walau sepahit apa pun sudah mengajarinya makna dalam kehidupan. Mendewasakannya, dan juga mengajari cara untuk menyelesaikan masalah yang sekarang dia hadapi.
"Maaf, Vi ... bagaimana pun dulu aku sudah bersalah," ucap Firhan dengan menundukkan wajahnya.
Sikap arogan Firhan yang dulu pun seakan hilang dengan sendirinya. Bahkan sekarang, Firhan seakan untuk menatap wajah Ervita saja tidak bisa. Sementara Wati tadi juga sempat menitikkan air matanya kala meminta maaf kepada Ervita.
__ADS_1
"Serius sudah dimaafkan, Mbak?" tanya Wati kemudian.
"Iya, sudah," jawab Ervita.
Lagi, air mata Wati menetes begitu saja. Ketika Wati berada di rumah dan kemudian mereka menuju ke rumah orang tua Ervita, Wati sudah berpikiran buruk bahwa mungkin saja Ervita tidak akan memberikan maaf untuk Firhan. Mengingat kesalahan Firhan sangat besar.
"Semudah itu Mbak Ervita memaafkan suaminya Wati?" tanya Wati lagi.
Terasa ada genggaman tangan Pandu di tangan Ervita. Pandu seakan juga kehabisan kata-kata. Dia melihat sendiri bagaimana jatuh bangunnya Ervita kala dulu. Tinggal dalam keterasingan. Ketika hamil besar pun masih harus bekerja di Kios Batik. Bahkan dari persalinan dari melahirkan Indi, dan mengurus Indi sebagai Ibu tunggal, semuanya bisa Pandu saksikan. Bahkan bisa dikatakan bahwa Pandu adalah saksi mata dari semua kisah sedih yang dialami oleh Ervita.
"Sudah, tidak apa-apa, Firhan ... jika boleh sedikit menyampai pesan, jadikanlah masa lalu sebagai pelajaran. Tidak ada salahnya sesekali menengok ke belakang dan memperbaiki diri kita di masa yang akan datang."
__ADS_1
Pandu hanya ingin memberikan pesan saja. Semua orang pernah memiliki masa lalu entah itu baik atau buruk. Namun, setidaknya ketika menengok ke belakang adalah untuk melihat kekurangan kita di masa lalu, dan memperbaikinya di masa yang akan datang.
"Makasih," balas Firhan.
Hingga di detik ini saja Firhan masih belum berani untuk menatap wajah Ervita. Dia masih merasa bersalah. Ketika Ervita sudah memaafkannya, tapi ada rasa bersalah yang masih menghimpit diri Firhan.
Sebenarnya Firhan juga ingin bertemu dengan di mana anaknya Ervita. Dia hanya ingin melihat saja, benarkah anak kecil itu memiliki kemiripan dengannya. Akan tetapi, Firhan tidak memiliki keberanian untuk bertanya.
"Kita pulang Mas?" tanya Wati kemudian.
Dia hanya berpikir bahwa tujuannya datang adalah untuk meminta maaf. Sehingga, ketika sudah dimaafkan, maka Wati mengajak suaminya itu untuk pulang.
__ADS_1
Sampai terdengar suara jejak kaki yang menuruni anak tangga dan suara nyaring yang memanggil sang Ayah. Di sana, dada Firhan terasa begitu sesak. Apakah anak kecil dan suara yang dia dengar sekarang adalah anak dari hasil kesalahannya di masa lalu?