Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Sugeng Rawuh


__ADS_3

Usai bersalin Ervita dan Pandu memutuskan untuk menginap satu malam di Rumah Sakit. Sebenarnya siang, Ervita sudah ingin pulang. Akan tetapi, Pandu memilih menambah satu malam supaya Ervita lebih pulih kondisinya.


Sekarang, Pandu meminta Ervita menunggu terlebih dahulu karena Pandu hendak melunasi biaya persalinan Ervita. Di dalam kamar perawatannya, Ervita menunggu dengan menggendong bayinya. Teringat dulu ketika dia melahirkan Indi, saat dia hendak melunasi biaya persalinan, rupanya sudah ada seorang dermawan yang melunasi semua biaya persalinan. Seorang dermawan yang sekarang menjadi suaminya.


Hingga hampir sepuluh menit, Pandu sudah kembali masuk ke dalam kamar, dan kemudian menemui Ervita. "Sudah semuanya, Dinda ... mau pulang sekarang?" ajaknya.


"Boleh, Mas ... aku juga sudah kangen sama Indi," balasnya.


Ini memang menjadi kali pertama Ervita pergi dan tidak membawa Indi. Tidak pernah berpisah sebelumnya dengan Indi. Sehingga, memang sekarang ingin bertemu dengan Indi.


Akhirnya mereka keluar dari Rumah Sakit, dan Pandu tampak mendorong koper milik istrinya. Memang sudah waktunya untuk pulang, Ervita sudah bisa berjalan, selain itu Indi juga membutuhkan orang tuanya.


"Bisa Nda?" tanya Pandu ketika kini mereka sudah berada di depan mobilnya.


"Bisa kok, Mas," balasnya.


Pandu menunggu sampai Ervita sudah masuk ke dalam mobil, dan kemudian melajukannya perlahan-lahan. Beberapa kali Pandu tersenyum dan mengamati Ervita yang menggendong bayinya itu. Begitu lucu, dan rasanya Pandu juga ingin menggendong bayinya. Walau dia belum jago menggendong, tapi Pandu mau berusaha dan juga belajar untuk menjadi Ayah yang siap dengan babynya.


Hampir setengah jam berlalu dan sekarang mereka sudah sampai di rumah. Pelan-pelan Pandu menuntun istrinya itu dan juga kembali menatap si Baby Irene yang membuat Pandu jatuh cinta rasanya.


"Sugeng rawuh," ucap Pandu.


Sugeng rawuh sendiri adalah selamat datang dalam bahasa Jawa. Mempersilakan istrinya untuk pulang ke rumah. Rupanya di rumahnya sudah berkumpul seluruh keluarga Hadinata dan Pertiwi juga di sana.


"Wah, Bayinya sudah pulang," ucap Bu Tari yang sudah keluar dari pintu rumah dan menyongsong Ervita dan Baby Irene.

__ADS_1


Indi pun berlari keluar dari rumah dan berlari ke arah Ayah dan Bundanya. "Yayah ... Bunda," teriak Indi.


Pandu pun menundukkan badannya dan kemudian membuka kedua tangannya dan memeluk Indi. Sang Ayah segera menggendong Indi yang sudah kelihatan kangen dengan Ayah dan Bundanya.


"Yayah, itu adik?" tanya Indi.


Pandu menganggukkan kepalanya. "Iya, itu adalah Adiknya, Indi," ucap Pandu.


Begitu sudah sampai di dalam rumah, di ruang tamu, Indi pun turun dari gendongan Yayahnya dan kemudian berdiri di samping Bundanya. Sekarang Indi tampak mengamati wajah bayi kecil di gendongan Bundanya itu.


"Nda," sapa Indi.


"Iya Mbak Didi ... Bunda kangen kamu," balas Ervita dengan merangkul putrinya itu.


"Ini adik bayi ya Nda?" tanya Indi lagi.


"Namanya siapa, Nda?" tanya Indi lagi.


"Namanya Irene ... sama-sama dari huruf I, sama kayak Mbak Didi," balasnya.


Indi pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Kemudian Bu Tari mengajak Indi berbicara. "Adik Bayinya untuk Eyang Putri boleh enggak?"


Indi kemudian menggelengkan kepalanya. "Endak dong, Eyang ... ini kan adiknya Didi. Sama seperti Mbak Lintang yang memiliki Langit. Didi punya Irene," balasnya.


Semua yang ada di sana pun tertawa. Rupanya Indi yang kecil sudah tahu apa itu kakak dan adik. Bahkan Indi bisa menilai berdasarkan pengamatan sama seperti Lintang.

__ADS_1


"Eyang gendong adik bayinya boleh?" tanya Bu Tari lagi.


"Boleh Eyang ...."


Akhirnya Bu Tari meminta Baby Irene dari gendongan Ervita dan menimangnya. Sementara Indi beralih duduk di samping Eyang Putrinya. Kemudian Pandu yang baru saja datang dari dapur membuatnya Teh hangat dengan sedikit madu untuk istrinya.


"Diminum dulu, Nda ... teh hangat madu, biar memulihkan tenaga kamu," ucapnya.


Pertiwi rupanya tertawa. "Sweetnya adikku ini. Jos, Ndu ... sayang istri," balas Pertiwi.


"Harus dong, Mbak ... apalagi kemarin melihat perjuangan Ervita sampai kayak gitu, harus lebih sayang dong sama istri," balasnya.


Pak Hadinata yang ada di sana pun turut menganggukkan kepalanya. "Ya, perjuangan wanita melahirkan memang seperti itu, Ndu. Gimana lagi, itu kodratnya wanita, harus kesakitan saat melahirkan. Yang penting, suami itu siaga, menjaga, dan melindungi istri dan anak-anaknya. Kalau sudah tahu gimana besarnya wanita saat melahirkan, harusnya semua pria itu setia kepada istrinya. Dijaga selalu," ucap Pak Hadinata.


"Benar, Bapak ... jadi merasa berdosa kalau dulu pernah bandel sama Ibu. Padahal, usaha Ibu untuk melahirkan anaknya sampai seperti itu," balas Pandu.


Bu Tari kemudian menatap Pandu. "Kamu gak bandel, Ndu. Biasa saja, dulu remaja kayak apa. Cuma kalau main layang-layang sampai lupa waktu aja," balasnya.


"Maaf nggih, Bu," balas Pandu.


"Tidak apa-apa. Ibu justru bersyukur kamu sudah jadi anak yang baik, jadi suami yang baik, dan jadi ayah yang baik ya, Ndu," ucap Bu Tari.


"Iya, Bu ... Pandu selalu berusaha," balasnya.


Ini adalah keluarga Hadinata yang benar-benar memiliki kebersamaan yang menjunjung nilai dalam kekeluargaan. Kembali pulang ke rumah, dan disambut keluarga besar tentunya menyenangkan. Selain itu, banyak kisah yang terajut selanjutnya.

__ADS_1


Happy Reading^^


__ADS_2