Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Sepenuhnya Menjadi Ayah


__ADS_3

Pandu merasa pengalaman mendampingi Ervita melahirkan sangat mengubah hidupnya. Dia menjadi tahu bahwa perjuangan seorang wanita itu sungguh luar biasa. Perjuangan dengan darah dan air mata. Tak jarang para wanita meregang nyawa ketika melahirkan buah hatinya.


"Pengalaman mendampingimu benar-benar mengubah hidupku, Dinda," ucap Pandu.


Ervita yang baru saja dibersihkan dan dipindahkan ke ruang rawat inap pun tersenyum menatap suaminya ini. Hari sudah tengah malam, tetapi Ervita memang diminta tidak langsung tidur. Setidaknya satu jam usai bersalin, dia diminta untuk tetap terjaga. Oleh karena itu, Pandu mengajak Ervita mengobrol terlebih dahulu.


"Apa iya Mas?" tanya Ervita dengan suara yang lirih.


"Iya, Dinda. Bagaimana pun ini pengalaman pertama untukku, sehingga memang sangat mendebarkan dan tidak akan pernah ku lupakan," balas Pandu.


Terlepas dari rasa sayangnya untuk Indi, tetap saja Pandu merasa bahwa pengalaman melahirkan ini adalah yang pertama baginya. Oleh karena itu, momen ini menjadi begitu spesial untuk Pandu. Tidak dipungkiri juga bahwa anak kandungnya adalah Irene.


"Momen melahirkan memang selalu memiliki cerita dan tidak akan pernah terlupakan, Mas. Sama seperti dulu ketika aku melahirkan Indi. Ku jalani sendiri di ruang bersalin. Tidak ada tangan yang menggenggamku. Kebayang kan rasanya kepedihanku dulu?"


Ya, Ervita sebatas mengingat bahwa perjuangannya dulu terasa pilu. Tidak ada yang menemani. Tidak ada yang memotivasi dan menggenggam tangannya. Sehingga semuanya merasa begitu dramatis.


"Melihat perjuanganmu, yang menguras tenaga dan air mata, aku rasanya makin cinta sama kamu, Nda. Cinta banget. Menggantikan posisimu saja, aku tidak bisa. Justru seorang suami akan berdosa ketika mengkhianati istrinya, dan melupakan besar pengorbanan sang istri kala melahirkan buah hati mereka," balas Andreas.


Ervita mengulas senyuman di wajahnya. Sekali lagi, ini adalah Pandu suaminya yang hebat. Seorang pria yang menghargai wanita. Menempatkan wanita dalam posisi terbaiknya, dan juga ada rasa untuk komitmen dalam hubungan pernikahan.


"Iya Mas, jangan selingkuh ya, Mas ... nanti mungkin aku akan menjadi tidak menarik. Berat badanku yang bisa saja bertambah saat menyusui Irene, kegiatanku juga terbatas. Sekadar menyisir rambut saja susah. Di kala aku seperti itu jangan tergoda dengan yang lain ya Mas," pinta Ervita.


Pandu menggelengkan kepalanya. "Nanti, aku yang akan nyisirin rambut kamu, Nda. Aku suapin kamu sembari kamu memberikan ASI untuk Iren. Janjiku dulu akan aku lakukan, aku akan memperlakukanmu dengan baik seumur hidupku."


"Terima kasih banyak Mas Pandu," balas Ervita.


"Sama-sama Dinda ... tadi Irene sudah pinter yah menghisap ASI-nya. Semoga nanti Irene tumbuh sehat," balas Pandu.

__ADS_1


Ervita kemudian menatap suaminya. "Mas, nanti kalau Irene sudah keluar dari inkubator untuk observasi, jangan lupa di-adzanin dulu ya, Mas. Tadi kelupaan," balas Ervita.


Pandu menganggukkan kepalanya. "Ah, iya ... aku tadi hanya menyapanya, Dinda. Bilang Yayah sayang sama Irene, sama seperti sayangnya Yayah ke Mbak Didi. Iya, nanti kalau Irene sudah dibawa ke sini yah," balas Pandu.


"Dulu, mendengarkan kamu melantunkan adzan di telinga Indi waktu dia usai lahir, hatiku bergetar. Kala itu, aku berangan-angan, betapa bahagianya Indi memiliki Ayah yang baik seperti kamu. Rupanya, Tuhan mengabulkan semuanya. Indi menjadi putrimu," balas Ervita.


"Aku sudah ingin menikahimu sejak dulu, Dinda. Di mataku baik Indi dan Irene tidak ada bedanya. Hanya saja, ini tetap pengalaman pertamaku mendampingi bersalin, melihat bayi keluar dari jalan lahirnya, dan juga melihat seorang bayi ditengkurapkan di dada ibunya untuk melakukan Inisiasi Menyusui Dini. Masyaallah, luar biasa banget," balas Pandu.


Ervita memang sepenuhnya tahu bahwa pengalaman ini tetaplah yang pertama untuk suaminya. Ervita kemudian menggenggam tangan suaminya. "Sudah resmi dari Ayah sepenuhnya ya Mas?"


"Iya, Ayah biologis. Terwujud secara penuh hari ini. Terima kasih, Dinda. Semua terwujud karenamu," balas Pandu.


"Terima kasih juga Mas Pandu ... bersamamu, aku mendapatkan pengalaman melahirkan yang jauh lebih baik. Aku didampingi, dan aku selalu dimotivasi untuk bisa berjuang sampai akhir," balas Ervita.


Pandu menundukkan badannya, dan mendaratkan bibirnya tepat di kening Ervita. Mengecupnya untuk beberapa detik lamanya di sana.


"Aku selalu mendampingi kamu, Dinda. Sehat, sakit, susah, dan senang, kita akan lalui bersama. Jangan takut, hal buruk yang terjadi di masa lalu tidak akan terulang lagi," balas Pandu.


***


Beberapa jam setelahnya ....


Sisa malam akhirnya dihabiskan Ervita untuk beristirahat dan memulihkan kembali tenaganya. Hingga pagi hari, Pandu dikagetkan dengan ketukan dari luar kamar, rupanya ada petugas Rumah Sakit yang mengantarkan sarapan untuk pasien.


"Sarapan pagi untuk Pasien," ucap petugas itu.


"Baik, terima kasih," balas Pandu.

__ADS_1


Ervita yang sudah bangun pun, melihat Pandu dengan membawa nampan dan berisi makanan. "Mas," panggilnya lirih.


"Hmm, ya Dinda ... sudah bangun?" tanya Pandu.


"Iya, sudah ... bisa minta tolong, Mas?" pinta Ervita kepada suaminya.


"Kenapa, Nda?"


"Bantuin benarkan posisi brankarnya ya Mas, punggungku panas kalau berbaring terus. Mau bergerak juga susah karena tanganku masih dipasang selang infus," ucap Ervita.


Menganggukkan wajahnya, Pandu mengambil remote dan kemudian mengatur posisi brankar seperti yang diinginkan Ervita. Setelah itu, Pandu duduk di belakang Ervita. Tanpa diminta, Pandu sudah mengambil sisir dan merapikan rambut panjang Ervita, kemudian menguncirnya.


"Biar rapi yah, Nda," ucapnya.


Begitu telatennya Pandu untuk mengurus istrinya yang masih dalam masa pemulihan. Bahkan sekarang Pandu juga menawarkan sarapan kepada Ervita. Namun, Ervita belum mau karena memang belum laper.


Hingga akhirnya terdengar ketukan di pintu, dan Pandu kembali berdiri dan membukakan pintu itu. Rupanya seorang perawat dengan membawa box bayi yang di dalamnya ada putri kecil mereka berdua.


"Permisi Bu Ervita, baby-nya sudah diobservasi selama enam jam, dan sudah buang urine dan buang pup pertamanya. Sekarang, si kecil diberikan ASI dulu ya Bu ... ASInya sudah keluar apa belum?" tanya perawat itu.


Ervita menganggukkan kepalanya. "Iya, sudah keluar, Suster," balasnya.


Akhirnya, Baby Irene diposisikan di tangan Ervita, dan Pandu yang membantu membuka kancing kemeja yang dikenakan Ervita, melihat sendiri bagaimana bayi kecil itu meminum ASI. Pandu seolah takjub karena ada dorongan alamiah dari si bayi yang membuat si bayi bisa menghisap ASI dan Ervita tersenyum mengamati si bayi yang meminum sumber utama kehidupannya.


"ASI-nya sudah keluar banyak, Bu?" tanya perawat lagi.


"Lumayan sih Suster," balasnya.

__ADS_1


"Baiklah, nanti kalau sudah adik bayinya ditempatkan di box bayi lagi ya, Bu. Sudah bisa barengan sama Bundanya."


Pandu yang melihat buah hatinya itu kembali menitikkan air matanya. Irene, buah cintanya dengan Ervita. Buktinya nyata petualangan panjang menuju swargaloka, dan itu ada dalam diri Irene. Perpaduan sempurna antara Ervita dan juga Pandu.


__ADS_2