Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Perkembangan Kondisi Firhan


__ADS_3

Tidak terasa telah satu pekan berlalu. Kala itu di kota Solo, Firhan sudah diperbolehkan untuk pulang ke rumahnya. Akan tetapi, karena patah tulang yang dia alami di kakinya, membuat aktivitas Firhan pun rasanya terbatas. Dalam hati, ingin rasanya melakukan banyak kegiatan, apa daya kemampuannya untuk bergerak sangat terbatas. Bahkan lantaran cidera kaki dan masih mengenakan gips, untuk menuju satu ruangan, Firhan masih harus menggunakan kruk.


"Butuh apa Han? Biar Ibu ambilkan?" tanya Bu Yeni kepada putranya itu.


"Mau minum, Bu ... Firhan haus," ucapnya.


Bu Yeni pun meminta kepada Firhan untuk duduk terlebih dahulu, setelahnya barulah Bu Yeni menuju ke dapur dan mengambilkan minum untuk Firhan. Bagi Bu Yeni pun ini adalah kondisi yang sulit, suaminya masih melakukan terapi supaya sembuh, sementara Firhan mengalami kecelakaan pada kakinya. Praktis seluruh kegiatan di rumah, harus dilakukan sendiri oleh Bu Yeni.


"Ini diminum dulu ... kalau butuh apa-apa, bilang saja sama Ibu," ucap Bu Yeni sembari menyodorkan segelas air putih kepada anaknya.


"Makasih Bu," balas Firhan dan kemudian meminum air itu perlahan-lahan.


Usai, meminum air putih itu, Firhan kemudian bertanya kepada Ibunya, "Dulu waktu Firhan kecelakaan itu, yang mengantar Ibu ke Rumah Sakit siapa?"


"Oh, itu ... waktu itu Ibu dianter sama Mas Pandu, suaminya Ervi," balas Bu Yeni.


Terlihat jelas dari jawaban yang diberikan oleh Bu Yeni, bahwa Bu Yeni tidak ingin menutupi fakta bahwa saat itu memang Pandulah yang mengantarkannya ke Rumah Sakit. Mendengar nama Pandu disebut, Firhan tampak membolakan kedua bola matanya. Sangat tidak mengerti kenapa harus pria itu yang mengantarkan Ibunya ke Rumah Sakit.


"Apa tidak ada yang menolong selain dia tow Bu?" tanya Firhan lagi.


Dengan cepat Bu Yeni menggelengkan kepalanya, "Tidak ada ... Bapakmu sekarang tidak bisa naik Sepeda Motor. Tetangga di sini gak ada, jadi Ibu ke rumahnya Pak Agus, dan di sana Pandu yang akhirnya menolong Ibu," cerita Bu Yeni.


"Kenapa harus dia, padahal Firhan benci sama Ervita," balas Firhan dengan dada yang bergemuruh.

__ADS_1


"Kadang kala kehidupan seperti itu, Han ... orang yang pernah kita sakiti, di kemudian hari justru merekalah yang menolong kita ketika kita terpuruk dan sangat membutuhkan bantuan. Sudah dua kali keluarga Ervi menolong kita. Yang pertama saat Bapakmu dilarikan ke Rumah Sakit, Pak Agus yang mengomando untuk memberikan pertolongan dan menyelesaikan bersih-bersih rumah dengan melepaskan tenda dan janur-janur yang sudah menghiasi rumah kita. Sekarang, Pandu yang menolong Ibu dan mengantarkan Ibu ke Rumah Sakit," cerita Bu Yeni.


Kali ini, Firhan memilih untuk diam. Akan tetapi, ada yang dia sesalkan kenapa justru keluarga Ervita lah yang harus menolongnya. Dari sekian banyak tetangga yang ada kenapa hanya keluarga Ervita saja yang menolongnya.


"Tidak usah dimasukkan hati. Memang begitu, Tuhan kalau membuka manusia itu bisa dengan banyak cara. Intinya dia diminta untuk mawas diri, Han ... jangan terus-menerus melakukan hal yang membuat kita malu. Kamu juga, pamitnya jagong (menghadiri pernikahan) kok justru kecelakaan," balas Bu Yeni.


Ada des-ahan keputusasaan dari diri Firhan, pria itu kemudian berbicara kepada Ibunya.


"Hh, iya datang ke pernikahan. Ibu tahu enggak, yang menikah adalah Tiana dan Rudy," ucapnya.


"Ya, berarti mereka jodoh. Sekarang itu, berpikirannya yang positif saja. Hanya berperilaku buruk yang bisa merugikan diri sendiri," balas Bu Yeni.


"Mereka nikung Firhan, Bu ... hanya selang sebulan," balas Firhan dengan terlihat begitu kesal.


Sekali lagi, Firhan hanya bisa diam. Di saat dia sudah begitu sayang dengan Tiana dan mantap untuk menatap hari esok dengan Tiana. Apa adanya mereka justru dipermalukan dan juga Tiana kini justru menjadi milik Rudy.


"Yang sabar ... di saat Tuhan banyak menguji kita seperti ini, kita diminta untuk bersabar. Banyak istigfar, dan juga berbenah diri."


Bu Yeni masih menasihati Firhan. Lika-liku dalam hidup tak ubahnya adalah cobaan dari Tuhan. Untuk itu, ketika kita mendapatkan cobaan, itu berarti Tuhan masih sayang kepada umat-Nya, kita masih diberi waktu untuk berbenah diri.


"Hmm," sahut Firhan dengan singkat.


Usai itu Bu Yeni dan Firhan memilih diam. Keduanya seolah merenungi cobaan demi cobaan yang sudah Tuhan berikan kepadanya. Memang sebagai manusia hanya bisa menjalani, tetapi di dalam hatinya Bu Yeni mengharapkan Tuhan menyudahi cobaan yang sangat berat dalam hidupnya ini. Serta menggantikannya dengan berkah dan nikmat yang indah dari-Nya.

__ADS_1


***


Sementara itu di Jogjakarta ....


Tampak Pandu dan Ervita tengah membersihkan rumah mereka bersama-sama. Di akhir pekan, mereka sering kali bekerja sama untuk membersihkan rumah mereka, dan menitipkan Indira ke rumah Eyangnya.


"Mas, yang di daerah sini tolong di pel yah ... aku mau bersihkan kamar mandi dulu," ucap Ervita sembari menunjuk bagian lantai yang masih kotor menurutnya.


"Iya, aku pel sekarang, Nda ... kamu pokoknya jangan ngepel yah. Urusan ngepel serahkan pada Kanda saja," balasnya dengan mulai mengayunkan alat pel ke lantai.


"Makasih Mas Pandu ... aku bersih-bersih kamar mandi dulu," balasnya.


Pandu pun menatap istrinya itu, "Yang bersih ya Nda ... biar malam nanti bisa basah-basahan di kamar mandi," balasnya.


"Ishss, kode melulu sih Mas," balas Ervita.


"Ya, enggak apa-apa, sama istri sendiri. Kalau sudah ini, aku kerjakan apa lagi, Nda?" tanyanya.


"Sudah semua kan Mas? Dari dapur, kamar tidur, kamar tamu, dan pendopo sudah bersih kok. Bisa istirahat dan menjemput Indi nanti, Mas," balas Ervita.


Pandu pun menganggukkan kepalanya perlahan, "Oke, Nda ... bersih-bersih dulu, nanti malam ke Swargaloka yah," ajaknya.


Ervita hanya bisa geleng kepala dengan suaminya yang kadang absurd dan selalu memiliki semangat 45 untuk meraih kenikmatan demi kenikmatan di Swargaloka. Walau kadang itu memang hanya ucapan semata, karena ada kalanya di malam hari banyak kegiatan yang mereka lakukan bersama.

__ADS_1


__ADS_2