Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Tanpa Target


__ADS_3

"Aku cinta kamu, Dinda," ucap Pandu dengan mengecup kening Ervita.


Ucapan cinta yang merupakan legitimasi bahwa semua yang terjadi di antara keduanya adalah terjadi atas nama cinta. Bukan sekadar mengejar kenikmatan sendiri, tetapi adalah wujud saling mencintai.


"Aku juga … cinta kamu, Mas," balas Ervita dengan menstabilkan nafasnya yang masih begitu terengah-engah.


Perlahan, Pandu beringsut, pria itu berguling ke sisi kanan Ervita, dan membawa Ervita ke dalam pelukannya. Akan tetapi, Pandu tidak menarik selimut, hanya sebatas memeluk Ervita saja.


"Kenangan indah di kamar mantan Jejaka ya Dinda," ucapnya.


Ervita pun tersenyum dan menenggelamkan wajahnya di dada suaminya itu, "Kamu bisa saja sih Mas, sudah tidak perjaka lagi," balas Ervita.


“Aku bangga bisa melepas jejaka sama istriku sendiri. Maaf ya Nda … aku begitu menyala-nyala dan bersemangat,” balas Pandu lagi.


“Tidak apa-apa Mas … penting menyala-nyala dan bersemangatnya sama istri sendiri ya Mas … jangan sama yang lain,” balas Ervita.


Pandu tersenyum, dia menggerakkan dagunya ke kanan dan ke kiri di puncak kepala Ervita, dan mendekap erat istrinya itu. “Iya Nda … cuma sama kamu saja,” balas Pandu.


Lantas Pandu sedikit beringsut dan juga menyangga kepalanya dengan satu tangannya, menatap Ervita di sana. “Mau mandi enggak Nda?” tanyanya.


“Iya mau … gantian saja Mas,” balas Ervita kemudian.


“Barengan aja Nda … yuk,” ajak Pandu.


Tidak menunggu lama, pria itu sudah beringsut dari tempat tidur dan membopong istrinya untuk menuju ke dalam kamar mandi. Ervita baru kali ini melihat kamar mandi yang didominasi warna cokelat, sisi etnik dan juga tradisional dari kamar mandi di dalam kamar mantan jejaka itu.


“Cuma ada shower, Nda … tidak ada bath up seperti di rumah,” ucap Pandu.


“Tidak apa-apa Mas,” balas Ervita.

__ADS_1


Terlihat Ervita membersihkan wajahnya dan menggosok gigi terlebih dahulu, pun demikian juga dengan Pandu. Di cermin yang ada di dalam kamar itu, Ervita melihat area dadanya yang tercetak jelas tanda merah di sana. Rasanya sampai nyeri di setiap bagian yang berhasil suaminya gigit dan hisap hingga menghasilkan tanda merah.


“Banyak banget Mas … kalau di leher, bisa bahaya ini,” balas Ervita.


Pandu tersenyum, “Nikmat, Nda … aku suka,” balasnya.


Setelahnya, Pandu membimbing tangan Ervita, kemudian kini sama-sama berdiri di bawah shower box. Gemericik air hangat membasah keduanya. Ervita memekik saat suaminya memutar tubuhnya untuk membelakanginya, membuatnya menghadap pada dinding. Lantas, Pandu menyelampirkan rambut panjang Ervita, kemudian mengecupi bahu yang polos dan basah milik istrinya. Ervita bisa melihat penampilan keduanya dari pantulan shower box. Dalam keadaan basah di bawah guyuran air, nyatanya Pandu tidak segan-segan untuk mengecupi, tangannya juga bergerak dan meraba lekuk-lekuk feminitas milik istrinya.


Ya, kedua tangan ini kini membelai dan meremas dua buah persik yang begitu bulat dan indah. Sentuhan yang membuat Ervita kembali meremang. Ervita  hanya memejamkan matanya, sebelah tangannya terangkat dan memegangi telapak tangan suaminya dan berusaha menyingkirkannya telapak tangan yang memainkan, meremas, memilin bagian puncaknya.


"Mas ... Pandu," ucapnya sembari menyingkirkan telapak tangan itu.


"Hmm, ya," sahut Pandu, tetapi telapak tangan itu masih bermain dengan nyaman di sana.


Permainan yang membuat keduanya sama-sama kehilangan akal. Pikirannya seperti terselimuti kabut kenikmatan yang mereka berdua rasakan. Pria itu memutar badan Ervita, membuat wanita itu berhadapan dengannya. Pria itu kemudian meraup bibir istrinya itu memberikan ciuman yang dalam dan intens.


Pria itu kemudian sedikit mengangkat paha istrinya, mengalungkan ke pinggulnya. Dengan sedikit menahan nafas, ia membawa pusaka Lingga untuk kembali memasuki cawan surgawi Yoni yang begitu hangat, erat, dan tentunya nikmat.


"Aku cinta kamu, Dinda ... aku cinta kamu," ucap Pandu dengan nafas yang terengah-engah dan mencerukkan wajahnya di dada istrinya.


Sementara Ervita yang juga merasakan badai kenikmatan hanya bisa memeluk erat tubuh suaminya itu dengan nafas yang terengah-engah. Oh, Tuhan ini adalah penyatuan kedua dengan sensasi basah yang benar-benar menenggelamkan mereka di dalam samudera yang seluruh airnya adalah cinta. Perjalanan dari hulu ke hilir, dengan sensasi yang begitu indah dan juga nikmat. Pusara cinta yang memabukkan dan membuat keduanya tak mampu lagi berkata-kata.


***


Selang Lima Belas Menit kemudian …


"Mau minum sesuatu Dinda?" tanya Pandu dengan tersenyum melihat Ervita yang terlihat lemas dan duduk di kursi kayu yang ada di sudut kamar itu.


"Boleh Mas," balas Ervita kemudian.

__ADS_1


Pandu pun keluar dari kamarnya dan menuju ke dapur. Kali ini pria itu membuatkan Cokelat dingin untuk Ervita. Cokelat mengandung kalori, karena itu setidaknya kalori dalam cokelat bisa memberikan kekuatan dan memulihkan tenaga Ervita. Tidak berlangsung lama, Pandu sudah kembali ke dalam kamarnya dengan membawa segelas Cokelat dingin.


"Ini Dinda ... diminum dulu," ucap Pandu dengan tersenyum.


"Makasih Mas," balas Ervita dengan suara yang terdengar lirih.


"Capek yah?"


"Lumayan Mas ... nyeri sedikit," balas Ervita dengan sedikit mendesis.


Pandu tersenyum, "Belum terbiasa ya Sayang ... maaf yah, nanti lama-lama juga terbiasa."


"Baru kali ini dua kali semalaman, jadinya lemes dan nyeri," balas Ervita dengan jujur. Memang selama menikah dengan Pandu baru kali ini dalam semalam terjadi dua kali pertempuran panas, bahkan jeda yang diambil tidak lebih dari setengah jam.


"Tapi enak enggak?" tanya Pandu kemudian.


"Hmm, iya," balas Ervita dengan menyandarkan kepalanya di bahu suaminya itu.


"Semoga nanti segera ada dedek bayi ya Nda ... Indi juga sudah hampir tiga tahun, jadi kayaknya pas kalau punya adik," balas Pandu.


"Mas, punya adik kalau Indi berusia 3 tahun susah loh. Nanti Indi masuk SMA, adiknya masuk SMP. Kalau Indi kuliah, adiknya masuk SMA. Untuk segi uang pendidikan harus menabung banyak," balas Ervita.


Pandu pun tersenyum di sana, "Tidak apa-apa. Aku akan bekerja untuk menyekolahkan anak-anak kita. Tenang saja, Nda ... aku akan menjadi suami dan Ayah yang bertanggung jawab," balasnya lagi.


"Yakin tidak apa-apa?" tanya Ervita.


"Sangat yakin ... dulu kamu hamil dan melewati semuanya sendirian. Nanti, ada aku yang selalu menjaga kamu. Hmm, cuma kalau bisa satu atau dua bulan dulu aja, biar aku bisa puas menggarap ladang batinku," balas Pandu.


Ervita pun memukul lengan suaminya itu, "Isshs, modus deh ... ya sudah, sedikasihnya saja ya Mas ... tidak usah membuat target," balas Ervita.

__ADS_1


"Iya ... aku senang, Nda ... akhirnya aku membuat kenangan indah dengan istri aku di kamarku. Kamu wanita pertama yang memasuki kamar ini. Luar biasa, Nda ... aku tidak akan lupa," balas Pandu dengan mendekap erat Ervita.


__ADS_2