
Tidak terasa waktu dua pekan nyaris berlangsung. Malam ini di kota Solo, lebih tepatnya di kediaman Firhan, sebuah tenda tengah dipasang, tidak lupa janur kuning yang juga menghiasi depan rumah pria itu. Sementara tetangga yang tinggal di sekitar rumahnya juga berkumpul memasak untuk hidangan jamuan pernikahan. Sebab, rencananya pagi akan dilangsungkan akad dan dilanjutkan resepsi di pihak mempelai wanita, sementara malamnya akan dilangsungkan Ngunduh Mantu, di mana seluruh rangkaian prosesi pernikahan akan dilangsungkan dalam satu hari saja.
Menghemat waktu, sehingga memang acara dipadatkan. Setelahnya tidak ada lagi pesta, hanya Firhan dan Tiana yang diharapkan bisa memulai kehidupan rumah tangga yang bahagia. Akan tetapi, malam itu terjadi sesuatu yang kurang mengenakkan. Tanpa ada angin dan tanpa ada hujan, ada perwakilan dari pihak keluarga Tiana yang datang ke kediaman Firhan.
“Permisi … Pak Supri dan juga Bu Yeni,” sapa perwakilan dari keluarga Tiana yang diwakili oleh Pakdhe (Kakak laki-laki Ibunya Tiana) dan beberapa orang lainnya yang datang dan ingin bertemu dengan Pak Supri dan juga Bu Yeni.
“Monggo … silakan,” balas Pak Supri yang kala itu juga bingung.
“Kami datang ke sini untuk menyampaikan pesan dari Tiana dan keluarga, bahwa pihak keluarga Tiana berniat untuk … membatalkan pernikahan ini,” ucapnya.
Deg!
Sungguh, ini adalah kabar yang tidak baik dan tidak pernah mereka harapkan. Sebenarnya, apa yang terjadi hingga pihak keluarga Tiana berniat untuk membatalkan pernikahan, padahal akad akan dilangsungkan keesokan harinya.
Lantas, ada orang-orang yang turun dari mobil dan mengembalikan semua seserahan dari pihak keluarga Firhan yang sebelumnya sudah diberikan kepada Tiana sebagai seserahan perkawinan. Tentu saja, dengan banyaknya tamu dan tetangga yang ada di rumah Firhan itu membuat banyaknya buah bibir yang terjadi.
Bapak Agus dan Bu Yeni pun serasa mendapat malu, meminta penjelasan dari perwakilan keluarga Tiana dengan maksud dari semuanya ini.
“Bisa dijelaskan terlebih dahulu, Pak … sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Pak Agus.
“Bisa Bapak dan Ibu tanyakan kepada Firhan secara langsung saja … apa yang terjadi kepadanya dan Tiana dua pekan yang lalu,” ucap Pakdhenya Tiana itu.
Kini, Bapak Agus dan Bu Yeni pun meminta waktu untuk masuk ke dalam rumah dan juga ingin mendapatkan penjelasan dari Firhan terhadap apa yang terjadi dua pekan yang lalu dengan Firhan dan Tiana.
“Mohon ditunggu sebentar, kami akan berbicara dengan Firhan,” balas Pak Supri.
Kemudian Pak Supri dan Bu Yeni pun masuk ke dalam rumah dan hendak berbicara dengan Firhan. Kali ini mereka harus mencari tahu apa yang sebenarnya telah dilakukan oleh Firhan, sehingga membuat pihak calon pengantin wanita ingin membatalkan pernikahannya.
“Han, Firhan … sini. Sebenarnya apa yang terjadi, sampai pihak keluarga Tiana ingin membatalkan pernikahan kalian? Padahal esok akan akad,” ucap Pak Supri yang meminta penjelasan dari Firhan.
__ADS_1
Tampak Firhan diam, dan juga bingung harus memberi penjelasan yang seperti apa kepada orang tuanya. Hingga Pak Supri kembali bertanya, memang tidak berteriak, tetapi setiap kata-kata yang dia ucapkan terdengar dalam dan penuh penekanan.
“Jelaskan apa yang terjadi dengan kalian berdua dua pekan yang lalu?” tanya Pak Agus dengan sorot mata yang tajam dan ingin mendengar secara langsung dari Firhan.
Hingga akhirnya, Firhan pun bersuara kali ini dan memberikan penjelasan kepada kedua orang tuanya.
***
Dua Pekan yang lalu di Tawang Mangu ….
Firhan yang tengah mendekap tubuh Tiana dari belakang itu berkali-kali memberikan kecupan, hingga gigitan di telinga Tiana. Hujan yang turun di kaki Gunung Lawu dan udara yang dingin menusuk tulang tentu akan memicu kejadian untuk saling menghangatkan satu sama lain. Tangan Firhan bukan hanya memeluk Tiana, tetapi juga perlahan-lahan mulai memberikan rabaan bahkan remasan di buah persik milik Tiana.
Tiana sadar bahwa pernafasannya rasanya semakin berat. Hingga, Tiana dengan mempertahankan kewarasannya, dia menyingkirkan tangan Firhan dari dadanya. Wanita itu menjauh dan juga memilih berdiri di sisi ruangan yang lainnya.
“Please, Yang … jangan seperti ini. Tahan dua minggu lagi. Kan juga selesai dua minggu ini berlalu, kita sudah akan menjadi suami dan istri. Tahan,” ucap Tiana dengan kedua tangan yang bersidekap di dada dan juga berbicara tanpa menatap sosok Firhan di dekat ranjang yang ada di penginapan itu.
“Kan dua minggu lagi pasti aku akan menikahi kamu. Jadi, tidak perlu takut dan khawatir. Aku pasti tanggung jawab untuk hari ini,” balas Firhan.
Pria itu segera mencapit dagu Tiana di sana, dan kemudian melahap habis bibir Tiana. Memagutnya dengan nafas yang memburu, membelit lidahnya, hingga Tiana memekik karenanya. Akan tetapi, Tiana masih berusaha untuk menahan. Tidak akan terlena, sebelum janur kuning melengkung. Tangan Firhan pun berusaha meraba lekuk-lekuk feminitas di sana, bahkan baju yang Tiana kenakan sudah terlepas, dan Firhan lantas membuat tanda merah di sembulan buah persik milik Tiana.
Rasanya bermain-main di sembulannya saja tidak akan cukup, sehingga Firhan berusaha untuk melepaskan pengait yang bersembunyi di balik punggung Tiana. Namun, sebelum tangan Firhan berhasil untuk melepaskan pengait itu, Tiana menangkis tangan Firhan.
“Jangan Yang … tunggu dua pekan lagi. Setelahnya, aku akan memberikan semuanya kepadamu. Please, Yang … jangan paksa aku, aku tidak mau. Lagipula, sebelumnya kita sudah sama-sama bersepakat bahwa tidak akan melakukan hal yang lebih sebelum pernikahan nanti,” balas Tiana.
Kian takut dan bisa saja Firhan melakukan lebih kepadanya, Tiana mengenakan kembali bajunya, dan setelahnya dia berlari ke dalam kamar mandi. Tangisannya pecah kala itu, benar memang sebatas ciuman dan saling meraba saja sudah sering mereka lakukan, tetapi tidak sampai pada hubungan suami istri. Oleh karena itu, Tiana merasa sesak, cinta apa yang sedang dia jalani sekarang dengan Firhan. Cinta benar-benar cinta, atau cinta yang diselimuti hasrat di sana.
Firhan yang kesal akhirnya memilih tidur di ranjang dan tidak menghiraukan Tiana. Meminta maaf pun tidak. Setelah beberapa jam berlalu, Tiana membangunkan Firhan dan mengajak pria itu untuk turun ke kota Solo.
***
__ADS_1
Sekarang ….
“Kamu benar-benar gila, Firhan … dulu kamu melakukan sesuatu dengan Ervita dan sekarang kamu nyaris melakukannya lagi. Sekarang, pergi ke rumah Tiana. Minta maaf dan yakinkan dia … Bapak tidak mau mendapatkan penghinaan yang lebih dari ini,” ucap Pak Supri.
Firhan pun menganggukkan kepalanya, “Iya Pak,” balasnya.
Ketiganya lantas keluar untuk menemui rombongan dari pihak keluarga Tiana, Sementara orang banyak yang berada di sana sudah saling berbisik dan juga tentunya membuat apa yang terjadi sekarang ini ditambahi dengan berbagai bumbu.
“Firhan akan ke rumahnya Tiana dan memberikan penjelasan Pak,” ucap Pak Supri.
“Maaf Pak … hanya saja, Tiana merasa tidak perlu lagi mendengarkan penjelasan dari Firhan. Semuanya tidak penting bagi Tiana, selain membatalkan pernikahan ini,” jelas Pakdhenya Tiana itu.
“Jangan begitulah Pak … akad tinggal esok hari, dan semuanya ini begitu mendadak. Kami pun menanggung malu karenanya. Mohon dipertimbangkan lagi dan biarkan Firhan ke sana untuk meminta maaf dan juga memberikan penjelasan,” balasnya.
Cukup lama tarik ulur perdebatan terjadi. Namun, tiba-tiba Pak Supri yang sudah menahan emosi dan amarah, akhirnya pun tumbang. Sehingga pihak keluarga Tiana dan para tetangga pun panik dibuatnya.
“Tolong … tolong,” teriak Bu Yeni dan Firhan yang merasa sesaat jantungnya berhenti.
Pak Supri terlihat lemas, seolah pingsan di sana. Untung saja, ada tetangga Firhan yang bekerja di Rumah Sakit, sehingga segera meminta bantuan untuk ambulance bisa segera datang.
Satu malam menjelang akad yang harusnya dilalui dengan kebahagiaan dan juga ucapan syukur, nyatanya berubah menjadi kepanikan, malu, dan juga kondisi Pak Supri yang drop.
Bagaimana pernikahan Firhan dan Tiana selanjutnya, apakah kisah mereka tidak akan berlanjut ke pelaminan? Bagaimana juga dengan kondisi Pak Supri?
To be Continue!
Note:
Di dalam tradisi masyarakat Jawa, ketika calon mempelai membatalkan pernikahan dan mengembalikan seluruh seserahan yang diberikan dari pihak calon pengantin pria adalah penghinaan yang besar. Membatalkan lamaran secara sosial dan etika akan berdampak kurang baik bagi keluarga itu sendiri dan juga masyarakat. Membatalkan lamaran seyogyanya harus tetap menjaga nama baik bagi kedua belah pihak dan keluarga besarnya. Salah satu buktinya yakni mengembalikan semua pemberian yang diberikan pihak laki-laki. Pada dasarnya sebuah rencana pernikahan yang diawali dengan lamaran itu bentuk suatu itikad baik. Maka ketika lamaran itu, dibatalkan secara sosial akan mengakibat keluarga menjadi terhina. Itikad baik yang menjelang akad justru dibatalkan.
__ADS_1