
"Sini, biar aku yang dorong sepeda motor kamu, Vi ... kamu sudah berjalan jauh yah?" tanya Pandu kepada Ervita.
"Lumayan Mas ... kalau cuma dorong sebenarnya tidak apa-apa, yang bikin tambah capek karena gendong Indi juga. Pegel rasanya," balasnya sembari mendorong sepeda motornya itu dari belakang.
"Tadi enggak kirim pesan ke aku aja, Vi ... aku yang drop barangnya ke jasa antar. Daripada kamu kecapekan kayak gini, malahan ban motor kamu juga bocor," sahut Pandu.
"Ya, enggak apa-apa, Mas. Orang bekerja kan ada halangannya. Baru kali ini juga kok. Kalau Masnya Paket yang biasanya ambil ke rumah itu kan yah, aku enggak ke mana-mana," balas Ervita.
Pandu menganggukkan kepalanya, pemuda itu terus berjalan dan mencari di mana ada tambal ban. Akan tetapi, sudah berjalan cukup jauh belum ada juga tempat tambal ban yang dia temui.
"Vi, kita tunggu di depan minimarket itu dulu saja yah. Aku telepon tambal ban langganan aku saja," ucap Pandu.
"Iya Mas ... ngak apa-apa," balasnya.
Akhirnya, Pandu memutuskan untuk berhenti di depan mini market kemudian dia menelpon tambal ban langganannya yang bisa dipanggil. Sebab, jika terus berjalan entah sampai kapan mereka akan menemukan tempat tambal ban.
"Sudah aman, Vi ... Mas Banu sudah mau ke sini untuk nambal ban kamu," balasnya.
"Iya Mas ... makasih," balas Ervita.
Kemudian Pandu masuk ke mini market dan membeli dua buah minuman dari mini market itu. "Minum dulu, Vi," ucapnya sembari menyerahkan botol berisi air mineral kepada Ervita.
"Makasih Mas ...."
Ervita menerima botol air mineral itu dan mencoba untuk membuka sealnya. Akan tetapi, karena telapak tangannya berkeringat, sehingga untuk memutar dan sampai sealnya terbuka sungguh susah. Kemudian Pandu tersenyum dan mengulurkan tangannya kepada Ervita, "Sini, biar aku yang bukain," katanya.
Pandu meminta botol itu kembali dan kemudian dia memutar tutupnya hinggal sealnya terbuka dan berbunyi 'klek', lantas barulah dia memberikannya kepada Ervita.
"Kalau butuh apa-apa minta tolong ke aku, juga enggak apa-apa loh Vi ... kan kita juga sudah kenal satu sama lain. Jadi, tidak masalah kalau kamu butuh bantuan itu bilang ke aku," ucapnya.
__ADS_1
"Iya Mas ... kan selama ini aku dan Indi juga sudah sering dibantuin sama Mas Pandu," balasnya.
Pandu kemudian tersenyum, "Kan aku yang berinisiatif bantuin. Coba kamu yang minta tolong duluan, pasti aku tolongin kok," ucapnya.
Perkataan itu begitu sederhana, hanya menginginkan Ervita berani mengatakan minta tolong kepadanya. Namun, kenapa ucapan Pandu itu seakan menyentuh hati Ervita. Seketika Ervita menjadi berpikir bahwa memang sejauh ini Pandu yang terus berinisiatif menolongnya, sementara dia menjadi pihak yang pasif dan hanya menunggu uluran tangan dari Pandu. Haruskah dia berinisiatif dan meminta tolong kepada Pandu terlebih dahulu.
"Mas Pandu baik banget," balas Ervita kemudian.
"Enggak juga, cuma aku suka menolong orang lain, Vi ... apalagi menolong kamu dan Indi itu aku suka. Jadi, butuh apa pun, jangan sungkan yah," balas Pandu lagi.
"Hmm, iya Mas ... beruntungnya nanti istrinya Mas Pandu, karena suaminya responsif dan juga suka membantu. Pasti nanti istrinya sering dibantuin deh," balas Ervita dengan tiba-tiba.
Pandu pun tersenyum di sana, "Kamu bisa saja, Vi ... aku saja masih single. Masih jomblo loh. Lagian kalau pacaran aku kayaknya trauma," balas Pandu kemudian.
Ervita mengernyitkan keningnya. Apa sebenarnya yang membuat Mas Pandu trauma dengan pacaran. Mungkinkah dulu pacarnya putus dan selingkuh darinya, saking cintanya sampai Pandu tidak mau berpacaran lagi.
"Kok bisa gitu Mas? Maaf, apa dulu Mas Pandu diselingkuhi?" tanya Ervita dengan memberanikan dirinya untuk bertanya.
Ervita kemudian tertawa di sana, "Bisa aja sih Mas ... kayak Bandung Bondowoso membangun Candi Prambanan saja sehari satu malam, nunggu ayam berkokok," balasnya.
Keduanya pun tertawa sambil menunggu Mas Banu yang akan menambal sepeda motor Ervita. Hampir sepuluh menit, barulah Mas Banu datang dan mulai mengecek ban motor Ervita.
"Mana Mas yang mau ditambal?" tanya Banu kepada Pandu.
"Iya Mas ... kelihatannya bocor atau apa ya Mas. Jadi, nuntun jauh banget tadi," balas Pandu.
Tanpa menunggu waktu lama, penambal ban itu mulai mengeluarkan ban, tangan meraba dan mencari-cari bila saja ada paku yang bersarang di ban tersebut. Beberapa saat tangannya bergerak, akhirnya dia menemukan sebuah paku.
"Kena paku ini, Mas..." ucap penambal ban itu sembari menunjukkan sebuah paku yang dia dapatkan.
__ADS_1
Pandu dan Ervita pun sama-sama melihat paku yang cukup besar itu. "Mau ditambal aja atau diganti ban dalamnya sekalian Mas? Ini sobeknya cukup panjang soalnya." ucap penambal ban itu.
"Ganti ban dalam saja Mas Banu, yang lebih awet," balas Pandu.
Akhirnya Mas Banu pun mengerjakan untuk mengganti ban sepeda motor Ervita, sementara Ervita dan Pandu duduk di dekat mini market yang di depan memang disediakan tempat duduk dan meja bundar kecil.
"Ban kamu robeknya panjang, jadi diganti saja yah ... kalau kamu make biar tenang," ucapnya.
"Makasih loh Mas ... oh, iya ... Mas Pandu sendiri kalau kapan-kapan butuh bantuanku bilang saja. Ya, mungkin aku tidak bisa berbuat banyak, cuma jadi temen ngobrol juga bisa kok, Mas," balas Ervita.
"Iya, ngobrol di Pendopo ya Vi ..."
"Boleh Mas ... lagian sapa tahu setelah cerita bisa move on. Aku doakan Mas Pandu enteng jodohnya," balas Ervita dengan tulus.
Di sisi lain, Pandu yang tersenyum dan melirik sekilas ke arah Ervita. Hanya saja memang ngobrol dan beberapa kerja bersama dengan Ervita membuat Pandu merasa cocok dan nyaman saja dengan Ervita. Bahkan untuk ngobrol pun juga rasanya nyambung.
“Amin … kamu juga ya, Vi,” balas Pandu.
Terlihat senyuman samar disertai dengan gelengan kepala dari Ervita. “Aku kayaknya gak bisa lagi Mas … kasusku kan beda. Aku sudah terlalu terluka,” balas Ervita kemudian.
“Kalau kamu move on, mungkin aku juga bisa move on,” balas Pandu lagi.
Ervita sekali lagi tersenyum di sana, “Jangan begitu Mas … kan situasi dan kondisi hati kita itu berbeda. Cara kita menyembuhkan luka di masa lalu pun beda dan waktu yang dibutuhkan juga beda. Jadi … tentu akan berbeda pula prosesnya,” balas Ervita.
Satu hal yang Ervita sadari bahwa kasusnya itu sangat berat. Hatinya juga terlanjur terluka. Sehingga, Ervita berada di satu titik di mana dia tidak ingin menikah lagi. Membesarkan Indi seorang diri menjadi pilihan bagi Ervita. Jujur saja, usai tragedi dengan Firhan, rasanya Ervita menjadi takut dengan sosok yang bernama laki-laki. Takut dikhianati, takut dipermainkan, dan takut jika habis manis sepah dibuang.
“Pasti sembuh, Vi … kasihan Indi yang mau Ayah juga,” balas Pandu.
“Mungkin dia masih kecil, Mas … jadi ingin kayak yang dilihatnya, ingin kayak Lintang yang ada Papanya. Cuma, aku tidak bisa memberikan itu, Mas,” balas Ervita.
__ADS_1
Ketika membicarakan itu saja, hati Ervita terasa begitu perih, Namun, Ervita pun juga sadar diri bahwa memberikan Ayah untuk Indira itu tidak bisa dilakukannya. Apa pun yang Indira mau, Ervita bisa mengusahakannya, tetapi jika yang diminta adalah Ayah, Ervita tidak bisa memberikan untuk putrinya itu.