
Hari ini rupanya Pandu benar-benar agak sore. Jika biasanya kurang lebih jam 15.00, pria itu sudah sampai di rumah. Kali ini, sudah hampir jam 17.00, dan Pandu masih belum tiba di rumah. Mungkin karena sudah terlampau sore sampai Indi bertanya berkali-kali kepada Bundanya kenapa Ayahnya belum pulang.
"Nda, kok Yayah belum pulang? Ini jam berapa Nda?" tanyanya.
"Sudah jam 5 sore, Sayang ... kan Yayah hari ini bantuin Eyang dulu," balasnya.
"Sampai jam berapa Nda?" tanya Indi lagi.
"Bunda belum tahu, Sayang ... kita tunggu di depan mau? Di pendopo," balas Ervita.
Indi pun menganggukkan kepalanya, "Didi sambil main boneka ya Nda ... boleh?" tanyanya.
"Iya, tentu boleh. Emangnya kalau Yayah sudah pulang, Didi mau ngapainĀ sama Yayah?" tanya Ervita kepada putrinya itu.
"Mau ajakin Yayah nonton kartun, Nda ... ditemenin Yayah, kan Didi sejak pagi sudah sama Nda," balasnya.
Rupanya Indi sudah kangen dengan Ayahnya. Sebab, biasanya akan ada Pandu yang sudah berada di rumah sejak jam 15.00, sehingga ketika hari sudah begitu sore dan beranjak petang, sementara Ayahnya belum ada di rumah membuat Indi mencari sosok Ayahnya itu.
"Sabar ... semoga sebentar lagi, Yayah akan pulang yah," balas Ervita.
Agaknya baru beberapa detik, bibirnya terkatup, sudah terdengar apa suara mobil yang masuk ke dalam gerbang rumah. Sudah bisa dipastikan bahwa itu adalah mobil milik Pandu, dan Indi sudah berdiri di pendopo itu, melihat sosok yang keluar dari mobil itu.
"Yayah," sapanya dengan begitu girang begitu sosok Ayahnyalah yang datang.
"Sudah mandi putrinya Yayah?" sapa Pandu di sana.
"Udah Yayah ... Didi tungguin Yayah," balasnya.
Pandu pun tersenyum, "Ini Ayah bawakan buah tangan, oleh-oleh untuk Didi dan Bunda."
__ADS_1
Tampak pria itu menyerahkan paper bag yang di dalamnya ada kue dan cokelat untuk Indi dan juga Ervita. Rasanya, Indi juga sangat senang karena Ayahnya pulang dengan membawa oleh-oleh.
"Makasih Yayah ... mau nonton kartun sama Yayah," pinta Indi.
"Sebentar Ayah mandi dulu sebentar yah?"
Indi pun menganggukkan kepalanya, dan berjalan mengekori Ayahnya untuk masuk ke dalam rumah. Sementara Ervita hendak menyeduhkan Teh hangat untuk suaminya terlebih dahulu.
"Didi tunggu di depan TV ya Nda," ucapnya.
"Iya ... Didi mau dibuatkan Susu tidak?" tanya Ervita kepada anaknya itu.
"Boleh Nda ... minta tolong ya Nda," pintanya.
Memang begitulah Ervita, dia sudah mengajarkan kata permisi, minta tolong, dan terima kasih kepada Indi. Tidak lupa mengajarkan minta maaf kepada Indi juga. Bahkan Ervita mengajarkan hal itu dengan sebuah lagu.
Kalau berbuat salah, bilang maaf
Kalau dapat hadiah, ucap terima kasih
Kalau kau mau lewat ucapkan, permisi
Dan di usianya yang baru 3 tahun, Indi pun sudah bisa mengusainya serta melakukannya setiap hari. Setidaknya ini adalah norma sederhana yang harus dikuasai oleh anak kecil seusia Indi.
Kurang lebih 15 menit berlalu, dan Pandu sudah keluar dari kamarnya dengan pakaian rumahan hanya berupa celana pendek dan kaos oblong saja, dengan rambut masih setengah basah di sana. Pria itu menyusul Ervita sebentar yang ada di dapur, dengan mendekapnya dari belakangnya. Dagu pria itu kini bertengger di bahu istrinya.
"Baru ngapain Istriku?" tanya Pandu dengan menggerak-gerakkan dagunya perlahan di bahu Ervita.
"Baru membuat Teh dan rotinya ini aku potong ya Mas," jawab Ervita.
__ADS_1
"Dipotong saja Dindaku ... kan aku beliin buat kamu dan Didi," balasnya dengan menelisipkan rambut Ervita dan mencium pipi Ervita di sana.
Ada senyuman yang mengembang di wajah Ervita dan melirik ke kanan, di mana dagu dan wajah suaminya yang berada di sisi bahunya. Pun dengan ciuman di pipi yang Pandu labuhkan beberapa kali di pipi itu.
"Pas banget ... tadi aku kepikiran pengen makan yang manis-manis. Sekarang, dibawain oleh-oleh. Makasih Yayah," balas Ervita.
"Sama-sama Nda ... perasaan kita kuat berarti ya Nda. Mau kemana sekarang?" tanya Pandu.
"Itu Indi minta ditemenin nonton kartun. Jadi, dibawa ke depan tv."
Pandu pun mengurai dekapannya dan sigap untuk membawa nampan berisi satu cangkir teh dan satu gelas berisi susu dengan rasa vanilla dan beberapa potongan kue di sana. Lantas, dia berjalan terlebih dahulu dan kemudian menuju ke ruang keluarga.
"Sudah mulai kartunnya?" tanya Pandu kepada anaknya itu.
"Iya sudah ... sudah mulai ini Yah," balasnya.
Pandu pun segera duduk di samping Indi dan merangkul Indi di sana, "Makasih Yayah untuk rotinya ... enak dan manis," balasnya.
"Sama-sama ... Didi suka?" balasnya.
"Iya, suka ...."
Pandu tersenyum menikmati kartun dengan Indi yang duduk di sebelah kirinya, dan Ervita yang duduk di sebelah kanannya. Kemudian pria itu berbisik kepada istrinya.
"Kamu di kanan dan Indi di kiri, nanti kalau adiknya Indi lahir, dia yang duduk di depannya Ayahnya, seru ya Nda ... seneng aku," ucap Pandu.
"Iya, butuh suntikan dulu Mas," ucap Ervita dengan menyandarkan kepalanya di bahu suaminya itu.
"Hmm, suntikan apa?" tanya Pandu.
__ADS_1
"Cium parfum kamu dan dusel-dusel kamu dulu. Miss U, Yayah," ucap Ervita dengan lirih.
Pandu mengulum senyuman di sana, dan menoleh ke kanan dan menggerakkan dagunya di puncak kepala Ervita. Begitu senang menikmati sore dengan anak dan istri yang ada di sampingnya. Nanti, kebahagiaannya akan bertambah dengan hadirnya si baby yang akan menambah kemeriahan rumahnya.