
Sebuah prosa pernah mengatakan, "Jika saja aku bisa memilih ... aku lebih memilih hidup sederhana asal Ayah selalu berada dii sampingku. Dibandingkan dengan hidup mewah, tapi jarang bisa melihat senyum sosok pahlawan yang menghidupiku."
Ungkapan yang begitu ironis untuk sosok Ervita dan Indira sekarang. Ayah adalah sosok pahlawan untuk istri dan anaknya, pahlawan keluarga. Akan tetapi, keduanya sama-sama tidak bisa merasakan sosok pahlawan itu dalam hidup sehari-harinya. Sehingga Ervita pun berusaha menenangkan dan menguatkan Indira dengan memberikan afirmasi kepada anaknya itu. Memang dia lahir tanpa sosok Ayah, tetapi bukan berarti dunia runtuh untuknya. Ervita selama dua tahun ini benar-benar berusaha menjadi sosok Bunda dan sekaligus Ayah untuk Indira. Ya, Ervita yang bekerja keras, ketika payu-daranya penuh karena meng-ASI-hi Ervita masih semangat bekerja. Ketika malam dia kurang tidur karena begadang, Ervita tetap bangun pagi. Ketika siang Indira yang sering kali rewel dan menempel ke Ibunya, alhasil Ervita memangku Indira sambil makan dan sambil merekap penjualan yang dia laporkan kepada Bu Tari. Bekerja keras, menabung untuk memenuhi kebutuhan hidup keduanya.
Indira yang mulai tenang rupanya kembali bertanya. "Yayah Didi, na?" (Ayahnya Indi di mana?)
Ervita tersenyum di sana, walau hatinya begitu getir dengan pertanyaan dari Indira.
"Indi punyanya Bunda," balasnya.
"Au Yayah ... Didi au," Indir kembali menyahut dia mau Ayah, ya Indi juga mau memiliki Ayah.
"Bunda bisa membelikan susu, biskuit, baju, dan boneka untuk Indi ..., tapi Bunda tidak bisa memberikan Ayah untuk Indi," balasnya.
Dengan tenang dan menekan perasaannya sendiri, Ervita berusaha menenangkan anaknya yang kali ini berkata menginginkan Ayah. Akan tetapi, Ervita merasakan gejolak yang dahsyat menghantam hatinya. Gejolak yang membuatnya menyadari bahwa dalam hidup ini ada banyak hal yang tidak bisa Ervita berikan kepada Indira.
"Kita ke dalam, Bunda ikut makan Eyang Putri dulu. Indi jangan menangis yah? Temanin Bunda yah," ucapnya.
Indira pun menganggukkan kepalanya, dan dia kembali memasuki rumah keluarga Hadinata, berkumpul di ruang makan. Rupanya keluarga itu juga belum makan dan menunggu Ervita.
"Sudah, nangisnya?" tanya Bu Tari dengan tertawa.
"Sudah Eyang Putri ... biasa rewel," balasnya.
"Nah, Ervitanya sudah bergabung ... yuk sekarang makan siang. Dihabiskan biar kenyang. Terlihat Bu Tari mengisi piring Bapak Hadinata, begitu juga dengan Mbak Pertiwi yang mengisi piring suaminya. Sementara Ervita dan Pandu mengisi giliran untuk mengisi piring mereka.
Pertiwi menempatkan Lintang di Baby chair sembari menyuapi Lintang dengan Opor Ayam yang tidak pedas itu. Sementara Ervita sambil memangku Indira.
__ADS_1
“Kamu makan dulu, Vita … sini biar Ibu yang ngajak Indi,” ucap Bu Tari yang memberi kesempatan untuk Ervita bisa menikmati makannya.
“Tidak usah, Bu … begini saja tidak apa-apa. Sudah terbiasa,” balasnya dengan tersenyum.
Bu Tari pun mengurungkan niatnya. Namun, juga merasa bangga dengan Ervita yang sejak Indira lahir terbiasa mengurus bayinya sendirian. Bahkan serewel apa pun Indira waktu bayi dulu, Ervita berusaha keras untuk menenangkannya sendiri, walau Ervita kadang ikut menangis dan kewalahan, tetapi Ervita begitu gigih dan ulet untuk mengasuh Indira.
“Lintang mau disuapin Papa,” rengek Lintang yang ternyata menjadi manja begitu Papanya itu datang.
Damar pun meminta sendok dari tangan istrinya dan menyuapi Lintang. Indira kecil yang melihat itu pun sudah mulai hendak menangis. Dia yang semula juga disuapin oleh Bundanya, tiba-tiba melakukan gerakan tutup mulut dan tidak mau makan.
“Nda, Yayah,” lirihnya pelan.
Ervita pun berbisik kepada Indira, "Makan yuk ... disuapin Bunda," bisiknya lirih juga ke telinga Indira.
Namun, Indira menggelengkan kepalanya, dan mengamati Lintang yang disuapi oleh Papanya. Ervita yang melihat itu sebenarnya merasa mellow. Akan tetapi, bagaimana lagi dia memang tidak bisa berbuat banyak untuk Indira.
"Kenapa Indi tidak makan?" tanya Pak Hadinata yang cukup memperhatikan Indira itu.
"Mau kerupuk, Kakung ambilkan kerupuk yah?"
Indira menggelengkan kepalanya lagi, tidak mau dengan kerupuk yang ditawarkan pria paruh baya yang dia panggil dengan sebutan Kakung itu. Pandu pun yang duduk di samping Ervita akhirnya melirik ke Indira.
"Indi mau ikut Om?" tanyanya. Memang selama ini Ervita dan Bu Tari membiasakan Indira untuk memanggil Pandu dengan sebutan Om.
Tidak menyangka, Indira pun mau. Sehingga kini Pandu makan dengan satu tangannya saja dan tangan yang lain memegangi Indira yang kini duduk di pangkuannya.
"Sudah dipangku Om ... sekarang Indi makan yah. Kalau Indi tidak makan, Bunda sedih loh," ucap Pandu yang ternyata juga meminta Indira untuk mau makan.
__ADS_1
"Om Yayah ...."
Balas Indira yang justru menyebut Pandu dengan Om Ayah. Bukan marah, keluarga di sana justru tertawa. Bahkan Damar dan Pertiwi pun seolah serentak berdehem. Di satu sisi Ervita hanya bisa menundukkan wajahnya. Sungguh, dia tidak pernah mengajari Indira. Akan tetapi, Indira justru dengan sendirinya memanggil Pandu dengan sebutan Om Ayah.
Pemuda itu pun tersenyum dan mengusapi kepala Indira, "Indi tadi panggil apa coba?" tanyanya.
"Oom Yayahh Didi ...."
Maksudnya Om Ayahnya Indi. Pandu tersenyum di sana, dan keluarga besar pun tertawa lagi. Secara usia memang Pandu sudah matang. Pemuda itu sudah berusia 29 tahun, tetapi masih menjomblo untuk waktu lima tahun belakangan. Bu Tari dan Pak Hadinata pun juga ingin putra bungsunya itu bisa segera melepas masa lajangnya.
"Om Pandu, Indi," balas Ervita.
Indira justru menangis dan menggelengkan kepalanya, "Yayah ... Om Yayah Didi."
"Cup Sayang ... iya, panggil Om Yayah aja tidak apa-apa," balas Pandu dengan mengkode sebuah lirikan dan anggukan kecil kepada Ervita.
Pandu tidak masalah jika memang Indira memanggilnya Om Ayah, lagipula Pandu juga sayang dengan Indira dan ada kalanya sering mengajak Indira main bersama, jika dia senggang.
"Enggak apa-apa, Ervi ... namanya juga anak kecil. Mungkin melihat Lintang sama Papanya, jadi dia juga pengen. Ya kan Indi?"
Bu Tari menyahut dan merasa tidak apa-apa. Lagian itu hanya anak kecil yang mungkin menginginkan sesuatu seperti kawan sebayanya.
"Nanti terbiasa loh Bu," balas Ervita.
"Selama Pandu tidak keberatan sih tidak apa-apa," balas Bu Tari.
"Dihalalin juga enggak apa-apa," sahut Pertiwi dengan gamblang.
__ADS_1
Ervita hanya bisa menundukkan wajahnya. Sementara Pak Hadinata dan Bu Tari juga tertawa saja. Memang menganggap Pertiwi jika bercanda seperti itu.
Ervita lebih memilih diam dan melanjutkan menghabiskan makanannya. Sungguh, kejadian ini tak terduga, Sementara Pandu juga asyik mengajak bicara Indira yang bicaranya belum lancar itu. Bahkan sejak dipangku Pandu dan juga sembari disuapi Ervita, Indira tidak menangis lagi dan juga terlihat biasa melihat Lintang yang memang baru manja dengan Papanya.