Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Momen Haru


__ADS_3

"Indi," panggil Firhan kepada Indi.


Rasanya dada sangat sesak memanggil putri biologisnya itu. Ada bertepatan dengan hari lebaran di mana setiap orang saling bermaaf-maafan, sehingga Firhan sudah terbawa suasana. Sementara Indi sendiri seolah was-was dan juga tidak mau jauh dari Pandu.


Walau bulan yang lalu, Indi bertemu dengan Firhan sudah tidak ada rasa takut. Akan tetapi, sekarang Indi tiba-tiba menjadi takut. Seolah dia membutuhkan keamanan dari Yayahnya.


"Disapa dulu," ajar Pandu kepada Indi.


Tidak langsung mengiyakan, tapi Indi menoleh dan menatap wajah Pandu terlebih dahulu. Seolah ada yang ingin dia sampaikan kepada Yayahnya di sana. Akan tetapi, Indi tak bisa berbicara sekarang.


"Indi, boleh Om Firhan bicara sebentar?"


Sekarang Firhan kembali memposisikan diri sebagai Om, itu juga supaya Indi tidak takut dengannya. Indi sudah nyaman dengan Pandu, maka Firhan menurunkan egonya dan membahasakan diri sendiri dengan panggilan Om saja.


"Indi mau enggak?" tanya Pandu.


Sekali lagi, Pandu juga tidak memaksakan. Membiarkan Indi untuk memilih. Sebab, anak seusia Indi sudah bisa memilih dan sudah bisa mengatakan apa yang dia mau.


"Ditemenin Yayah," balas Indi.


Usai itu, Pandu yang berbicara kepada Firhan. "Maunya ditemenin Yayahnya, Om Firhan," balas Pandu.


Sekarang Bu Sri dan Pak Agus memilih pergi. Sebagai orang tua, mereka merasa tidak mampu melihat apa yang terjadi nantinya. Terlebih Bu Sri yang sudah berusaha supaya air matanya tidak jatuh.


Pandu sendiri tidak enak hati. Di sini dua orang pria dewasa dalam fase berkecamuk hatinya. Di satu sisi merasa Ayah biologis, di sisi lain merasa ayah sambung yang turut membesarkan Indi.


"Di sini saja kok, Indi. Om cuma mau berbicara sebentar sama Indi," balas Firhan.


Firhan menatap Indi, matanya sudah memerah di sana. Kemudian Firhan bertanya lagi kepada Indi.


"Boleh Om Firhan pegang satu tangannya Indi?" tanyanya lagi.


Sekarang jawaban yang Indi berikan hanya anggukan kepala. Bibirnya sama sekali tak terbuka dan tidak mengeluarkan suara apa pun. Dia bingung sebenarnya kenapa yang dicari Om Firhan hanya dirinya saja dan bukan Irene.


Dengan menggenggam tangan kecil Indi, Firhan akhirnya kembali berbicara. "Indi di hari raya Idul Fitri ini, Om Firhan minta maaf yah sama Indi. Dulu, Om Firhan banyak salah sama Indi. Banyak salah dengan Indi dan Bundanya Indi. Maaf lahir batin ya, Sayang," ucap Firhan.

__ADS_1


Kesalahan lebih dari lima tahun yang lalu, baru sekarang Firhan meminta maaf kepada Indi. Di kesempatan yang lalu, Firhan pernah meminta maaf kepada Ervita. Namun, pria itu merasa juga harus meminta maaf kepada Indi.


"Om Firhan minta maaf yah," ucapnya lagi.


"Iya, tapi Om Firhan jangan berbicara kalau Om adalah ayahnya Indi. Indi sudah punya Yayah dan itu adalah Yayah Pandu. Bukan Om."


Rupanya Indi kecil bisa memberikan jawaban seperti itu. Jawaban yang tidak pernah diajarkan oleh siapa pun. Firhan yang mendengar ucapan Indi itu terpukul. Seolah dia sudah tertolak oleh buah hatinya sendiri. Indi mengatakan dengan tegas juga dan juga dia sudah memilih bahwa ayahnya adalah Yayah Pandu.


Jujur Pandu jika menuruti egonya saja, dia senang karena Indi memilih dirinya. Rasa sayangnya kepada Indi membuat Indi bisa memilih dirinya. Namun, Pandu bukan sosok yang egois. Pandu justru tak enak hati dengan Firhan. Sepahit apa pun masa lalu Ervita, darah yang mengalir di tubuh itu adalah darah Firhan. Pandu bisa berempati bagaimana pedih hatinya Firhan sekarang.


"Kenapa begitu, Ndi?" tanya Firhan.


"Kan Didi sudah punya Yayah, dan Yayahnya itu adalah Yayah Pandu," balasnya.


Indi menjawab benar-benar begitu polos. Dia sudah kenal dengan Pandu lama. Mungkin memori dari kecil dari sekarang, sosok yang dia kenal adalah Pandu. Sehingga, sukar untuk Indi menerima orang lain yang mengaku sebagai ayahnya.


"Kalau Om Firhan sayang sama Indi?" tanya Firhan kemudian.


"Kenapa sayang sama Didi?" balasnya.


Firhan tersenyum, walau hatinya pilu. Rupanya putrinya itu memang sangat kritis. Tidak akan mau menerima sesuatu begitu saja.


Jujur, sangat pedih hatinya Firhan sekarang. Padahal dia adalah Ayahnya dan juga Indi adalah putrinya sendiri. Namun, Firhan harus mengatakan demikian.


"Istrinya Om kan sudah hamil, nanti ada adik bayinya. Disayang yah Om, adik bayinya nanti," balas Indi.


Indi masih mengingat bahwa istrinya Om Firhan yang bernama Tante Wati sedang mengandung. Bahkan Indi tak segan untuk berpesan supaya Firhan nanti sayang kepada adik bayi yang akan lahir.


"Kalau nanti adik bayinya Om Firhan dan Tante Wati lahir, Mbak Indi mau enggak main ke rumahnya Om Firhan?" tanya Firhan sekarang.


"Ya, kalau Indi tidak sekolah dan Yayah mau mengantar ke Solo," jawabnya.


Firhan menganggukkan kepalanya. Yang Indi katakan juga benar itu semua juga karena Indi sudah sekolah. Sehingga saat di Solo pastinya akan menunggu ketika Indi tidak sedang sekolah.


"Baiklah, kalau Indi sudah libur dan nanti baby nya Om Firhan sudah lahir, main yah ke rumah. Tengokin yah adik bayinya," pinta Firhan.

__ADS_1


Indi bertanya kepada Yayahnya. "Kalau Yayah mau mengantar yah?"


"Iya, nanti kita tengok babynya Om Firhan yah," balas Pandu.


"Iya, Yayah."


Setelahnya cukup lama, Firhan hanya menatap Indi. Putrinya itu benar-benar cantik dan pintar. Seolah dengan sendirinya rasa sayang di dalam hatinya menjadi tumbuh.


"Indi, sekali lagi Om Firhan mohon maaf lahir dan batin yah. Maafkan Om Firhan yah," ucap Firhan lagi.


Indi sekarang mengangguk-anggukkan kepalanya. "Janji yah Om," balasnya.


"Iya, kalau hanya Om bukan Ayah, bolehkan?" tanyanya.


Kembali Indi menganggukkan kepalanya. "Iya, boleh," jawabnya.


Firhan tersenyum. Walau tetap itu adalah senyuman getir. Ternyata merebut hati seorang anak kecil begitu tidak mudah. Sama seperti Indi sampai memintanya untuk berjanji.


Setelahnya Firhan mengeluarkan amplop lebaran dengan gambar kartun yang lucu itu dan kemudian memberikannya untuk Indi.


"Ini untuk Mbak Indi yah satu. Yang satunya untuk adiknya Mbak Indi namanya siapa?" tanya Firhan lagi.


"Namanya Irene, Om," jawab Indi.


"Yah, satunya untuk Irene. Om Firhan pamit yah. Toss dulu," pinta Firhan.


Akhirnya Indi mengangkat telapak tangannya ke udara dan kemudian tos dengan Firhan. "Makasih yah, Om Firhan pamit yah," balas Firhan.


Akhirnya Firhan meminta pamit dia menyapa Ervita juga dan mengulurkan jabat tangan kepada Ervita.


"Vi, mohon maaf lahir dan batin ya, Vi. Di masa lalu, dosaku sangat banyak sama kamu. Maaf yah, Vi," ucap Firhan.


"Tidak apa-apa, Han. Semua sudah masa lalu," balas Ervita.


Lalu, kepada Pandu, Firhan juga berpamitan dan menjabat tangannya Pandu. "Lahir batin juga ya, Pandu. Nanti kalau ada waktu main ke Solo kalau babynya lahir," undang Firhan.

__ADS_1


"Lahir batin juga yah, nanti kabar-kabar saja yah. Kalau libur insyaallah bisa ke Solo," jawab Pandu.


Di satu sisi, Bu Sri sangat terharu. Dulu, banyak luka yang terjadi. Sekarang, ketika Firhan datang dan meminta maaf kepada Indi rasanya begitu mengharukan.


__ADS_2