
Meninggalkan sejenak keluarga Firhan dan juga kisruh rumah tangganya. Di rumah Ervita, malam itu usai pengajian, Bapak Hadinata dan Ibu Tari berpamitan dengan Bapak Agus dan Ibu Sri. Mereka berterima kasih karena sudah disambut dengan baik. Selain itu, mereka akan menunggu kedatangan kedua orang tua Ervita ke Jogja, untuk upacara tujuh bulanan nanti.
"Terima kasih nggih Bapak Agus dan Ibu, kami sudah disambut dengan sangat baik. Sekarang, kami pamit ... kembali pulang ke Jogjakarta. Nanti ketika upacara Mitoni, kami harus Pak Agus dan Ibu bisa sowan ke Jogja," pamit dari Pak Hadinata kepada besannya.
"Nggih Pak ... wah, kami juga berterima kasih sudah disengkuyung untuk membuat pengajian dan Bancakan tadi," balas Pak Agus.
"Anak-anak masih di sini sampai besok, Pak ... kami yang duluan. Ditunggu kedatangannya di Jogja nanti," balas Pak Hadinata.
Usai itu, sudah ada sopir yang menjemput Pak Hadinata dan Bu Tari. Semua keluarga di Solo pun akhirnya juga beristirahat. Terlebih Mei yang sudah mengeluh pinggangnya kecapekan, jadi Mei minta izin untuk istirahat terlebih dahulu, sementara itu Pandu, Ervita dan Indi juga disuruh istirahat oleh Pak Agus dan Bu Sri.
Sekarang mereka sudah ada di dalam kamar Ervita. Indi sudah tertidur mungkin dia sudah kecapekan karena sejak datang ke Solo, Indi bermain-main dengan senang. Sehingga sekarang belum ada jam 20.00, Indi sudah tertidur.
"Kamu capek enggak Nda?" tanya Pandu kemudian kepada istrinya itu.
"Enggak tuh, Mas ... kenapa Mas?" tanyanya.
"Pengen muter-muter di Solo, Nda ... lihat tempat yang etnik di Solo pada malam hari," balas Pandu.
Ervita pun menganggukkan kepalanya, "Pamit sama Bapak dan Ibu dulu ya Mas ... takutnya enggak diizinin," balasnya.
Akhirnya Ervita dan Pandu meminta izin kepada Bapak dan Ibu terlebih dahulu dan meminta izin untuk bisa muter-muter Solo di malam hari. Pandu hanya ingin melihat tempat-tempat bersejarah yang lebih indah dengan cahaya lampunya. Bapak Agus dan Bu Sri pun mengizinkan, tapi keduanya tidak boleh pulang terlalu malam.
Sudah mendapatkan izin sekarang Pandu mengajak Ervita untuk muter-muter kutha Solo, atau yang bisa diartikan mengeliling Kota Solo. Sebatas ingin melihat lebih dekat, dan juga Pandu tertarik mungkin saja ada tempat yang lebih bagus di malam hari.
"Mau ke mana Mas?" tanya Ervita kemudian kepada suaminya.
__ADS_1
"Masjid Raya Sheikh Zayed, Nda ... ikon baru di Solo," balas Pandu.
Ya, Masjid Raya Sheikh Zayed yang adalah sebuah masjid yang dihadiahkan Pangeran Mohamed bin Zayed untuk Presiden. Ketika masjid ini sudah diresmiskan nanti, masjid ini akan mampu menampung hingga 10 ribu orang sampai ke selasar luar masjid. Masjid raya yang indah dan megah ini dibernuansa putih dan emas. Selain untuk ibadah, diharapkan akan menjadi Islamic Center dan wisata religi baru di Kota Solo.
Hingga Pandu pun menuju kawasan masjid ini. Pria itu menepikan jalannya sejenak dan melihat betapa megah dan agungnya masjid itu. Bahkan pria itu terlihat beberapa kali mengambil gambar di masjid yang belum resmi dibuka untuk umum itu.
"Ini desainnya bagus banget loh Nda ... mirip banget dengan SZ Grand Mosques di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab," ucap Pandu seolah menjelaskan kepada Ervita.
"Apa iya Mas?" tanya Ervita kemudian.
"Iya, kubah-kubah kecil dan ornamen bangunannya ini khas Timur Tengah. Indah banget," balas Pandu.
"Sayangnya belum dibuka untuk umum, Mas. Kalau dibuka untuk umum, kita sholat bersama di dalam yah," balasnya.
Usai dari Masjid Raya Sheikh Zayed, kemudian Pandu mengajak Ervita menuju kawasan Mangkunegara. Dia juga tertarik karena Adipati muda yang bertahta sekarang masih berusia muda. Pandu tertarik untuk melihat Pura Mangkunegaran dari dekat.
"Mangkunegaran beda sama Kasunanan ya Nda?" tanya Pandu kemudian kepada istrinya.
"Sebenarnya masih bersaudara, tapi beda. Dulu itu, ini adalah kadipaten, sementara Kasunanan itu pecahan dari Mataram Islam, Mas. Waktu Perjanjian Giyanti itu mataram dipecah menjadi dua yaitu Kasunanan di Solo dan Kasultanan di Jogja. Lalu, Mangkunegaran ini diberikan melalui Perjanjian Salatiga bahwa Mangkunegara I akan mendapatkan wilayah Kedung, Matesih, Honggobayan, Gunung Kidul, dan Pajang. Lalu, didirikan Pura Mangkunegaran ini tapi dengan syarat tidak boleh seperti keraton kasunanan. Tidak boleh ada alun-alun, dan Ringin Kembar. Dulu, tempat ini maju dengan budaya Jawa dari musik berupa gending-gending, sastra Jawa, dan tarian," jelas Ervita kepada suaminya.
"Bagus banget ya Nda ... wah, kami jelasin sudah kayak mengajak tour guide ini," balas Pandu.
"Gak gratis loh Mas," balas Ervita dengan terkekeh geli.
"Bayar yah?" tanya Pandu kepada istrinya.
__ADS_1
"Iya, bayarnya dengan cinta," balas Ervita.
Pandu kemudian memarkirkan mobilnya di Ngarsopura, dan mengajak Ervita untuk jalan-jalan sebentar. Di jalan protokol yang hits karena berada berhadap-hadapan dengan Pura Mangkunegaran ini di trotoar di hiasi dengan lampu-lampu jalan yang indah. Suasana Jawa pun terasa kental di sini.
"Ini Ngarsopuran, Mas ... biasanya kalau malam minggu ada Night Market di sini. Terus ini adalah Pasar Triwindu, kita bisa menemukan berbagai barang antik mulai dari patung, mata uang, hingga lukisan di sini. Semua yang antik dan memiliki nilai seni akan dijual di sini," jelas Ervita kepada suaminya.
"Ada kafe-kafe juga ya Nda," ucap Pandu.
"Iya, memang di sini ada tempat ngopi. Dulu belum ada Mas ... jadi ya baru saja ada, belum terlalu lama," balasnya.
Kemudian dari Ngarsopura, mereka berjalan sampai ke depan Pura Mangkunegara, Pandu juga mengamati keadaan Pura itu di malam hari.
"Konsepnya walau istana, tapi terbuka ya Nda," ucap Pandu.
"Iya, ini simbol bahwa Mangkunegara itu dekat dengan rakyatnya atau biasa disebut Mangkunegara kanggo Mangkunegaran. Pemimpin yang dekat dengan rakyat kan bagus Mas ... bisa tahu keadaan rakyat itu seperti apa, tahu penderitaan rakyatnya. Gitu sih," jelas Ervita lagi.
"Wah, mantap kamu, Nda. Keren. Agaknya, aku harus sering ngajak kamu jalan-jalan, biar aku belajar sejarahnya juga," balas Pandu.
Ervita pun tersenyum dan mengapit lengan suaminya, "Iya, boleh ... penting selalu cintai aku sampai akhir waktu," pintanya.
Pandu menoleh dan menundukkan wajahnya sedikit, mengecup puncak kepala Ervita di sana. Chup!
"Selalu tresna sliramu, Nda ...."
Ya, bagi Pandu dia akan selalu mencintai Ervita. Baru kali ini, Pandu merasakan rasa cinta yang begitu besar, dan itu adalah untuk Ervita. Dia akan selalu mencintai Ervita sampai akhir usia nanti.
__ADS_1