
Selang sepekan berlalu, rupanya Pertiwi kembali main ke rumah Pandu dan Ervita. Kali ini karena Pertiwi merasa ingin cerita dengan Ervita. Beberapa kali curhat dengan adik iparnya itu membuat Pertiwi merasa nyambung. Oleh karena itu, kali ini Pertiwi kembali main sembari mengantar Lintang yang main dengan Indira.
"Kula nuwun," sapa Lintang begitu memasuki pintu gerbang rumah Om Pandu dan Bulik Ervi.
Dari dalam rumah, sudah kelihatan Indi yang menyambut Lintang. Sangat senang ketika ada Kakak sepupunya yang datang ke rumahnya. Pun, dengan Ervita dan Pandu yang menuju ke pendhopo rumahnya dan menyambut kedatangan Pertiwi dan Lintang.
"Bulik, mau main sama Indi," ucap Lintang yang datang dengan membawa paper bag yang berisi mainannya yang sengaja dibawa dari rumah Eyangnya.
"Sini, masuk yuk ke dalam," ajak Ervita kepada Lintang dan Mamanya yang datang.
"Sini saja, Vi ... mau ngajakin main loh ini Si Lintang," ucap Pertiwi.
Akhirnya mereka duduk di pendhopo, melantai di sana. Sementara, Lintang dan Indi sudah tampak begitu akrab bermain bersama, ada boneka hingga masak-masakan. Sementara orang tua duduk bersama sembari mengamati Indi dan Lintang yang bermain.
"Akhir pekan kalian berdua enggak kemana-mana?" tanya Pertiwi.
"Di rumah aja, Mbak ... menikmati liburan. Malas-malasan sedikit," balas Ervita.
Itu juga karena dengan semakin bertambahnya usia kandungan, Ervita merasa ada masa di mana dia malas dan hanya ingin berada di atas ranjang saja. Walau tidak tidur, tetapi bisa rebahan saja rasanya sudah enak.
"Semakin besar perutnya, Vi ... jadi enaknya bisa rebahan," balas Pertiwi.
"Benar Mbak ... bisa rebahan, sambil ciumin parfumnya Mas Pandu aja sudah seneng banget," balas Ervita.
__ADS_1
Di sana Pertiwi tertawa. Tidak mengira bahwa Ervita pun seorang wanita yang lugu dan bisa dengan jujur mengakui bahwa dia senang untuk menciumi aroma parfum suaminya. Membayangkannya saja rasanya lucu.
"Ada yang nempelin kayak koala enggak Ndu?" tanya Pertiwi kemudian.
"Enggak lah Mbak ... koala kan menempel di pohon, kalau Dinda mah beda," balas Pandu.
Pertiwi pun kian terkekeh geli dengan jawaban dari adiknya. "Bisa-bisane, Ndu ... memang istri kalau hamil gitu sering kali manja, jadi suami yang harus sabar," balas Pertiwi.
"Aku selalu sabar kok Mbak ... stok sabarku tak terhingga sih untuk Dinda," balas Pandu lagi.
Ervita pun memukul lengan suaminya itu. "Apa sih Mas ... malu loh," balas Ervita.
"Gak usah malu, kan ya cuma Mbak Pertiwi sendiri kok," balasnya.
"Jombo galau?" Ervita tertawa dan melirik suaminya itu. Benarkah bahwa Pandu dulu adalah seorang jomblo galau usai putus dengan Lina.
"Apaan sih Mbak," sahut Pandu.
Akan tetapi, Pertiwi pun tertawa dan menganggukkan kepalanya. "Benar, dulu itu galau banget. Kayak enggak keurus gitu. Untung bisa lulus kuliah dan bisa cumlaude loh. Cuma, kalau ceweknya amit-amit kayak nenek lampir, bisa-bisa Pandu dibuat bertekuk lutut ya Vi ... hii," balas Pertiwi.
"Jangan begitu Mbak ... dulu kalau jadi dia yang jadi adik iparnya Mbak Pertiwi loh," balas Ervita.
Pertiwi kemudian menggelengkan kepalanya. "Tuhan itu baik, Vi ... walau membuat Pandu menjomblo lima tahun, tapi diberi jodoh yang sepadan. Sarimbitan katanya Bapak dan Ibu. Kamu memang yang cocok kok untuk Pandu. Yang kalem dan lembut gini, cocok untuk Pandu," balas Pertiwi.
__ADS_1
"Memang idamanku itu yang kayak Putri Solo kok, Mbak," sahut Pandu.
Mendengar jawaban adiknya, Pertiwi pun tertawa. "Bisa aja kamu, Ndu ... tapi jujur, Ndu. Pasangan suami istri itu seperti air dan wadah airnya. Saling mengisi, saling menerima. Jika mendapatkan yang sepadan itu rasanya bahagia sekali," balas Pertiwi.
"Benar Mbak ... Mbak sendiri dan Mas Damar juga sama kan? Sepadan dan sarimbitan," balas Ervita.
"Ya, doakan saja Vi ... oh, iya. Akhirnya, aku memilih Caesar, Vi ... jadinya pekan depan Mas Damar akan datang. Aku terlalu takut menunggu dan juga perjalanan dari Lampung ke Jogja itu jauh, mending Caesar aja."
Kali ini akhirnya Pertiwi mengatakan kepada Ervita dan juga Pandu perihal pilihannya untuk melahirkan secara Caesar. Pilihan itu dipilih Pertiwi karena takut jika kontraksi datang dan suaminya belum ada di sisinya.
"Minggu depan minta tolong dijemputkan Mas Damar yah Ndu?" Kali ini Pertiwi meminta bantuan Pandu lagi untuk bisa menjemput suaminya.
"Bisa Mbak ... nanti biar aku yang menjemput," balas Pandu.
"Kalau aku melahirkan nanti, titip Lintang ya Vi? Palingan Bapak dan Ibu juga ada yang di Rumah Sakit. Pikiranku juga begitu kalau melahirkan di Jogja, kan Lintang bisa teralihkan karena bisa maen sama Indi," ucap Pertiwi lagi.
Ervita pun menganggukkan kepalanya. "Tentu boleh Mbak ... Lintang aman di sini, biar bisa main sama Indi. Fokus ke persalinan dulu saja, Mbak," balas Ervita.
"Makasih banyak ya Vi ... aku cuma ingin melahirkan dengan tenang dan ada Mas Damar di sisiku, itu saja," balasnya.
"Pilih yang terbaik, Mbak ... yang penting Mbak Pertiwi dan babynya selamat dan sehat," balas Ervita.
Kali ini Pertiwi merasa lega. Dia hanya bisa melahirkan dengan didampingi oleh suaminya. Oleh karena itu, dia lebih memilih untuk caesar. Toh, bagaimana pun Caesar hanya sekadar metode persalinan. Inti dari persalinan adalah kedua orang tua adalah bertemu dengan bayinya dalam keadaan sehat, lengkap, dan sempurna.
__ADS_1