
"Bertanggung jawablah atasku, jangan mengingkari nasab anakmu," ucap Ervita kali ini.
Dalam imannya, terdapat hukum yang melarah seorang Ayah mengikari nasab anak-anaknya. Demikian pula seorang ibu diharamkan menghubungkan nasab anak bukan pada ayah yang sebenarnya. Demikian pula hukum mengharamkan menghubungkan nasab anak kepada ayah angkatnya.
Ervita kali ini hanya meminta dan bertanggung untuk haknya. Firhan yang semula merenggut kegadisannya sudah berjanji untuk bertanggung jawab atasnya. Untuk itulah, Ervita sampai memberanikan diri menemui Firhan lagi dan mendapatkan nasab untuk anaknya. Meminta Firhan untuk tidak mengingkari nasab anaknya.
Sungguh begitu perih hati Ervita membayangkan bahwa anaknya akan lahir tanpa nasab. Bahkan anak yang lahir di luar nikah saja akan mengikuti nasab sang Ibu. Lantas, bagaimana dengan Firhan yang menolak untuk tidak menikahinya, sudah pasti orang-orang akan tahu bahwa kehadiran bayinya hanya karena sebuah zina.
"Aku tidak peduli dengan nasab. Aku peduli dengan masa depanku. Menjadi orang yang berguna dalam hidup lebih berguna daripada menikahimu dan bertanggung jawab atas anakmu," balas Firhan.
__ADS_1
Sekali lagi, ucapan pria itu begitu menyakiti Ervita. Begitu tegakah calon ayah yang tidak mau bertanggung jawab atas darah dagingnya sendiri.
Firhan menatap nanar buku Kesehatan Ibu dan Anak berwarna pink magenta itu dan foto USG berbentuk persegi di sana, lantas melemparkan ke arah Ervita.
"Berapa kali pun kamu datang dan meminta pertanggungjawaban dariku, aku akan menolaknya. Pergi kau dari sini, wanita murahan!"
Firhan berbicara memang tidak keras, tetapi perkataan penuh penekanan itu mengiris perih hati Ervita. Wanita itu tergugu pilu di sana. Apakah memang jalan hidupnya harus sepilu ini?
Firhan menyeringai di sana, "Aku tidak akan pernah meminta maaf dan menemuimu lagi," balasnya.
__ADS_1
Ervita lantas memasukkan buku KIA dan foto USG dua dimensi itu ke dalam tasnya, lantas Ervita pergi dari kantin itu. Kini Ervita menetapkan hatinya tak akan menoleh ke belakang. Pintu maafnya untuk Firhan tak akan pernah terbuka.
Dengan berjalan gontai, Ervita berjalan menyusuri fakultas ilmu Ekonomi dan Bisnis menuju halte yang letaknya di belakang kampus. Bunga Tabebuya kuning yang berguguran terlihat indah, tetapi tidak dengan hatinya. Bunga Tabebuya kuning yang berguguran nyatanya membuat hati Ervita kian sesak rasanya. Ervita menjerit dalam hati meratapi nasib buruknya.
"Cela ini akan kubawa sampai mati ya Tuhan. Aku yang berdosa, tetapi anakku pun tak akan bernasab dari Ayahnya. Dia hanya akan memiliki nasab dari Ibunya," gumamnya lirih dalam hati.
Banyak hal yang memenuhi pikiran Ervita saat ini. Perut dengan kehidupan baru di sana. Hidup yang tak stabil karena Ervita juga harus bekerja untuk bertahan hidup dan untuk menabung biaya persalinan nanti. Hanya saja Ervita meminta Allah menguatkannya. Di saat semua pintu tertutup, kiranya Allah sediakan satu pintu untuknya.
"Kita kembali ke Jogjakarta ya Dik ... tidak ada tempat bagi kita di sini. Semua orang menolak kita. Mungkin juga menolak kamu, tapi tidak dengan Ibu. Ibu menyayangimu, kamu adalah buah hati Ibu. Semua cobaan ini akan membuat Ibu semakin kuat," ucapnya.
__ADS_1
Dengan menaiki Bus Batik Solo Trans, Ervita kini menuju ke Stasiun Balapan. Dia akan kembali ke Jogjakarta. Perjalanan lintas kota dengan kereta api nyatanya tidak membuahkan hasil. Firhan tetap pada keputusannya untuk tidak bertanggung jawab atasnya. Sia-sia sudah perjuangan Ervita. Dia kira dengan menunjukkan foto pertama buah hatinya bisa menggugah hati Firhan, ternyata tidak. Firhan tetap mengeraskan hatinya. Firhan tetap menolak anaknya sendiri,