
Hari ini Ervita sedang mengumpulkan dan menyimpan semua dokumen yang dia miliki. Tujuannya adalah semua dokumen tidak tercecer, tapi semuanya tersimpan dalam satu map penyimpanan. Kala itu, rupanya Indi juga menemani Bundanya untuk memilah dan menyimpan dokumen.
"Bunda ini apa namanya?" tanya Indi dengan menunjuk salah satu dokumen.
"Oh, itu namanya dokumen penting negara Mbak Didi ... ada Kartu Keluarga, ada Buku nikahnya Yayah dan Bunda juga," jelas Ervita.
Indi merespons dengan menganggukkan kepalanya. Kemudian mulai melihat cara Bundanya menyimpan satu demi satu dokumen itu. Juga, melihat Bundanya yang menyimpan dengan begitu rapi. Indi pun beberapa kali mengamati Bundanya.
"Disuruh Yayah ya, Nda?" tanyanya lagi.
"Tidak Mbak Didi ... Bunda ingin melakukannya sendiri. Biar semua dokumen terkumpul menjadi satu. Kalau nanti butuh, mau fotokopi dan sebagainya kan sudah tahu tempatnya," balas Ervita.
"Oh, kirain disuruh Yayah," balas Indi.
Kadang memang Indi mendengar bahwa Yayahnya kadang meminta tolong kepada Bundanya untuk mempersiapkan sesuatu. Sehingga, sekarang Indi juga berpikiran demikian. Padahal, Ervita sendiri yang berinisiatif untuk menyimpan semuanya.
Sampai pada akhirnya, Indi melihat fotokopi akta kelahiran miliknya dan milik adiknya, Irene. Kemudian Indi pun bertanya lagi kepada Bundanya.
"Nda, namanya Indi kok cuma Indira Hayuningtyas saja ... kalau Adik kok memakai namanya Yayah? Hadinata. Kenapa Nda?" tanya Indi kemudian.
Jujur, Ervita tidak menyangka bahwa Indi akan menanyakan demikian. Tentu saja, Ervita memiliki alasan khusus kenapa Indi tidak memakai nama belakang Hadinata. Semua itu juga karena, dulu dia belum menikah dengan Pandu. Selain itu, Ayah biologis Indi bukanlah Pandu.
Namun, belum Ervita memberikan jawaban. Indi sudah berbicara lagi. "Tidak apa-apa ya, Nda ... yang penting Didi anaknya Yayah kan?" tanya Indi kemudian.
Akhirnya, Ervita tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Ada masa justru Indi lah yang bisa mengerti dan memahaminya. Sementara, terkadang orang tua menyimpan banyak hal dari seorang anak. Tidak dipungkiri ada kesedihan yang terlihat di senyuman Ervita.
__ADS_1
"Iya, Didi selalu menjadi putrinya Yayah," balas Ervita.
"Didi selalu sayang Yayah loh, Nda. Sayang banget sama Yayah. Makanya waktu ada Om itu mengaku sebagai ayahnya Didi, Didi sedih," ceritanya kini.
Ternyata Indi sendiri masih ingat dengan peristiwa di Solo beberapa saat yang lalu kala Firhan datang dan mengatakan bahwa dia adalah Ayahnya. Lebih lanjut, Indi mengaku sedih. Sebab, bagaimana sosok Ayah yang sudah dia kenal adalah Pandu.
"Iya, Nak ... bantuin Bunda, ambil itu yah. Biar Bunda simpan," ucap Ervita sembari menunjuk sebuah dokumen.
Indi menganggukkan kepalanya. Dia mengambil apa yang ditunjuk oleh Bundanya, dan kemudian memberikannya kepada Bundanya.
"Buku dari Bank ya Bunda?" tanya Indi lagi.
Indi memang baru usia 4 tahun. Namun, dia sudah bisa membaca. Sama seperti sekarang, Indi tahu kalau buku yang baru saja dia ambil dengan sampul berwarna biru itu adalah buku dari sebuah bank.
"Yayah menabung di bank?" tanya Indi lagi.
"Iya, Yayah menabung di bank. Buat masa depan kita. Buat sekolahnya Indi dan Irene nanti," balas Ervita.
"Didi akan sekolah yang pinter, Nda. Biar Nda dan Yayah bangga sama Didi," balasnya.
Ervita kembali tersenyum dan mengusapi puncak kepala putrinya yang ceriwis dan kritis itu. Sekecil itu saja, Indi sudah memiliki keinginan untuk bisa membuat bangga Ayah dan Bundanya. Yang Ervita harapkan, semoga saja Indi bisa menjaga diri kala dewasa nanti. Tidak terjerumus dalam kesalahan yang seperti pernah dia lakukan. Biar Ervita sendiri yang menanggung semuanya.
"Nda, kala namanya Didi ditambahin kayak Adik gak bisa yah?" tanya Indi kemudian.
Ervita tersenyum. Sekali lagi, hatinya merasa getir mendengarkan pertanyaan dari Indi. Jika tadi Indi bisa menerima, sekarang justru ingin namanya juga ditambahkan nama Hadinata, seperti Ayahnya.
__ADS_1
"Kenapa Mbak Didi? Katanya tadi tidak apa-apa," tanya Ervita.
"Biar sama seperti Adik, Nda," balasnya.
"Itu Mbak Lintang dan Mas Langit saja, namanya tidak memakai Hadinata juga kok," balas Ervita.
Indi kemudian diam. Namun, dalam hatinya ada rasa tertarik. Benarkah Lintang dan Langit juga tidak memakai nama Hadinata sepertinya?
"Ya sudah. Yang penting Didi anaknya Yayah dan cucunya Eyang kan Nda?" tanya Indi lagi.
"Iya, Didi kan anaknya Yayah. Biasanya Yayah panggil Indi apa?"
"Putri kecil Yayah," balas Indi sekarang.
Ervita kembali tersenyum, walau matanya sudah berkaca-kaca, tapi sebisa mungkin, dia berusaha untuk menahannya. "Tuh, jadi ... siapa putri kecilnya Yayah Pandu?" tanya Ervita.
"Didi dong," jawabnya.
Usai itu Indi beringsut dan dia memeluk Bundanya. Anak berusia empat tahun itu membawa kepalanya dekat dengan dada Bundanya, dan tangan kecilnya yang memeluk Bundanya begitu erat.
"Love U, Nda," ucap Indi.
"I Love U too, Putri kecil Nda," balas Ervita.
Setitik air mata lolos begitu saja dari pelupuk matanya. Akan tetapi, Ervita buru-buru menyekanya. Tidak akan berbagi air mata itu dengan Indi. Biarlah dia harus menyimpan rasa getir itu sendiri.
__ADS_1