
Selang satu bulan berlalu, rupanya di Solo benar-benar ada pernikahan yang dihelat oleh keluarga Firhan. Ya, pada akhirnya Firhan memilih untuk melakukan ta'aruf dengan seorang gadis yang dikenalkan dari seorang pemuka agama kenalan dari Bu Yeni. Gadis yang berasal dari sebuah kabupaten di sebelah Timur, kota Solo.
Gadis yang bernama Wati akan menjadi pendamping hidup Firhan yang dimulai benar-benar dari proses ta'aruf. Wati adalah gadis yang sederhana dan juga polos. Pendidikannya memang hanya SMA, tetapi Wati adalah gadis yang baik. Sosok ini dinilai tepat untuk bisa mendampingi Firhan. Bahkan Wati juga tidak mempermasalahkan dengan kondisi kaki Firhan yang memang tidak begitu sempurna kala berjalan.
Tidak melakukan pernikahan besar-besaran. Akan tetapi, mereka cukup dengan melakukan akad saja yang dilakukan di rumah. Benar-benar sebuah pernikahan yang dilangsungkan dalam kesederhanaan. Hanya tetangga di kanan dan kiri saja yang diundang, tidak membuat acara besar-besaran. Akan tetapi, Firhan dan keluarga memberikan mahar yang cukup besar untuk wati yang berupa rumah yang akan mereka tempati bersama usai pernikahan nanti.
Hanya janur kuning yang melengkung dan sebuah penjor di depan rumah. Tidak ada pelaminan, karena memang mereka hanya sebatas akad saja. Tidak ada catering, karena memang untuk konsumsi sepenuhnya dimasak oleh tetangga satu RT saja. Pun ada Bu Sri yang turut hadir dalam acara rewangan (acara masak memasak ketika ada tetangga yang sedang memiliki kerja). Bu Sri datang tidak dengan tangan kosong, melainkan dengan memberikan pemberian berupa Beras, Gula, Teh, dan uang sebagai sumbangan. Memang begitulah di Solo, beberapa kampung di mana ada tetangga yang memiliki kerja, maka tetangga dekat akan datang dengan memberikan pemberian sebagai sumbangan berupa beras, gula pasir, teh, atau bahkan berbagai jenis pemberian lainnya selain uang.
"Bu, kok repot-repot ... sudah dibantuin, saya sudah berterima kasih," ucap Bu Yeni kepada Bu Sri yang merasa sungkan.
"Tidak apa-apa, Bu ... sewajarnya hidup bertetangga dan bermasyarakat," balas Bu Sri.
"Sebelumnya, maafkan Firhan untuk masa lalunya ya Bu," ucap Bu Yeni lagi yang sekarang mengungkapkan permintaan maafnya kepada Bu Sri untuk masa lalu putranya.
Tentu masa lalu yang dimaksud oleh Bu Yeni adalah perihal tindakan Firhan kepada Ervita beberapa tahun yang lalu. Jujur, di dalam keluarga Firhan hanya Bu Yeni saja yang meminta maaf kepada Bu Sri. Sementara keluarganya yang lain memilih diam. Padahal, diam tidak menyelesaikan masalah. Masalah baru benar-benar selesai, ketika pihak saling meminta maaf dan saling memaafkan.
"Yang lalu biarlah berlalu, Bu ... toh, Ervi sudah bahagia bersama suaminya, Mas Pandu. Saya doakan Firhan juga akan bahagia bersama Wati. Membina rumah tangga dengan baik. Sakinah, Mawaddah, dan Wa'rahmah," balas Bu Sri.
__ADS_1
Di dalam hati Bu Yeni merasa benar-benar malu sebenarnya. Ketika apa yang dilakukan Firhan dan keluarganya sangat tidak pantas. Akan tetapi, pihak Bu Sri dan juga keluarga Ervita bisa memaafkannya. Bahkan Bu Yeni sendiri melihat bagaimana baiknya seorang Pandu Hadinata yang dulu mau menolongnya untuk mengantarkannya ke Rumah Sakit.
"Baik Bu ... saya berkumpul dengan tetangga untuk rewangan dulu," pamit Bu Sri kemudian.
Kurang lebih menjelang jam 10.00 siang, mulailah kedua penganting dipertemukan bersama. Firhan yang kala itu mengenakan Jas berwarna hitam dan kemeja putih, dengan dasi yang terpasang di kerah kemejanya. Juga sebuah peci berwarna hitam yang bertengger di puncak kepalanya. Sementara untuk sang pengantin wanita, dia berias cantik dalam balutan kebaya berwarna putih.
Mulailah petugas dari Kantor Urusan Agama datang dan hendak menikahkan keduanya, mempersatukan keduanya dalam satu kalimat akad yang akan diucapkan Firhan di sana.
"Bisa kita mulai sekarang?" tanya petugas dari Kantor Urusan Agama kepada pengantin, wali, dan saksi.
"Bisa," jawab Ayah Wati yaitu Utomo.
"Aku nikahkan dan aku kawinkan, engkau Firhan Maulana dengan putriku Wati Arini dengan mas kawin dan seperangkat alat sholat, tunai!"
Firhan menghirup udara sebanyak-banyaknya dan mulai mengucapkan kalimat akad, sembari menjabat tangan Pak Utomo di sana.
"Saya terima nikah dan kawinnya Wati Arini binti Utomo dengan mas kawin tersebut tunai!"
__ADS_1
Suasana begitu hening, hanya suara Firhan saja yang terdengar di sana. Menunggu penghulu mengucapkan sah, rasanya Firhan merasakan jantungnya berpacu, bahkan keringat dingin bermunculan begitu saja di keningnya. Sungguh, Firhan pun tidak mengira bahwa sebelumnya dia akan mengiyakan proses ta'aruf dan menikah gadis yang baru ditemuinya dua kali sebelum akad.
"Sah!"
"Alhamdulillah!"
Orang tua, saksi, dan para tamu undangan yang hadir pun mengucapkan syukur karena akad pada pagi menjelang siang ini bisa dilampaui dengan baik. Setelah sempat gagal ketika hendak menikah, akhirnya kali ini Firhan berhasil menikah pula.
Dari jauh, Bu Sri yang mendengarkan Firhan mengucapkan kalimat akad pun bernafas lega. Dia berharap bahwa pernikahan Firhan ini adalah untuk yang pertama dan terakhir. Wati yang baik dan sederhana akan menjadi pelita dalam hidup Firhan dan juga akan membimbing Firhan ke dalam jalan yang benar.
Sementara Pak Supri juga merasa begitu lega karena putranya akhirnya menikah. Setelah drama pernikahan dengan Tiana yang urung terwujud, atau dengan masalah pelik dengan Ervita, akhirnya Firhan bisa menikah juga. Keinginannya ketika kesehatannya semakin menurun adalah Firhan bisa menikah terlebih dahulu, dan adiknya Firhan yaitu Erma akan lulus kuliahnya.
Sepasang mempelai yang sudah disahkan dalam ikrar pernikahan yang dinamakan akad itu pun akhirnya dipersilakan berdiri, karena acara akan dilanjutkan dengan pemasangan cincin. Wati diberikan cincin terlebih dahulu, gadis itu menyematkan cincin emas di jari manis Firhan yang sekarang sudah resmi menjadi suaminya. Usai menyematkan cincin, Wati pun mencium punggung tangan suaminya. Dilanjutkan Firhan yang diberikan cincin dan kemudian menyematkannya di jari manis Wati, dan pria itu mencium kening Wati di sana.
Bu Yeni yang melihat Firhan dan Wati sudah resmi bersatu dalam ikatan perkawinan pun merasa terharu. Memang ada banyak salah dalam diri Firhan, di kemudian hari ketika Wati mengetahui buruknya suaminya semoga Wati bisa menerima Firhan baik dan buruknya. Terlebih untuk masa lalu Firhan dengan Ervita, dan ada anak yang hamil di luar nikah, semoga Wati bisa menerimanya.
Memang rumah tangga ini dimulai dengan sepenuhnya ketidakjujuran. Akan tetapi, semoga ke depannya akan selalu baik adanya. Usai akad, pengantin yang sudah sah itu duduk tanpa pelaminan dan menyalami para undangan yang hanya dari kerabat dekat dan juga tetangga sekitar saja.
__ADS_1
Benar-benar tidak ada pesta meriah. Jika di Solo biasanya orang yang punya kerja akan menyetel tape rocorder berupa lagu-lagu dangdut, campur sari, dan sebagainya. Tidak di rumah Firhan, hanya terdengar obrolan dari para tamu yang hadir. Pernikahan yang memang amat sangat sederhana. Memang kedua belah keluarga lebih mengedepankan sahnya sebuah ikatan. Mereka merasa tidak perlu melakukan pesta. Mengingat pernikahan yang juga hanya ta'aruf dan juga ada rasa takut kembali gagal sebelum akad digelar.
Oleh karena itu, memang pernikahan sederhana di rumah dan cukup hanya dengan menggelar akad saja. Firhan juga berharap, kartu demi kartu yang belum dia buka akan masa lalunya, tidak akan menjadi boomerang dalam kehidupan pernikahannya bersama dengan Wati.