Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Kejujuran Terpahit


__ADS_3

"Tidak a ..., apa Mas?"


Wati bertanya dengan berlinangan air mata. Dia sangat percaya bahwa sekarang ada sesuatu yang tengah coba disembunyikan Firhan darinya. Mungkin itu adalah berkaitan dengan masa lalu suaminya yang disimpan dengan rapat selama ini.


Sebagai seorang istri, Wati pun ingin mendapatkan penjelasan secara langsung dari Firhan. Yang bisa Wati lakukan sekarang adalah mendesak Firhan untuk bisa melanjutkan ucapannya yang terjeda. Wati sangat yakin bahwa ada sesuatu yang tidak dia ketahui tentang suaminya.


"Tidak ada apa-apa," balas Firhan.


Pria itu menegakkan punggungnya dan hendak pergi dari ruang tamu. Namun, Wati dengan cepat memegang tangan Firhan dan meminta suaminya itu tetap ada di sana. Baginya, suaminya itu berhutang penjelasan dengannya.


"Jelaskan, Mas. Apa ada yang Mas Firhan sembunyikan dariku selama ini?" tanya Wati.


Air mata Wati kian berlinangan. Dia berusaha menahan Firhan, dan meminta Firhan untuk bisa berkata jujur. Wati sangat tahu bahwa ketika suaminya itu akan berkata jujur, pastilah itu adalah kejujuran yang pahit. Akan tetapi, Wati pun akan siap untuk mendengarkan semua yang pernah terjadi di masa lalu suaminya.


"Ceritakan saja, Han ... sudah waktunya untuk Wati tahu semuanya," ucap Bu Wati.


"Tidak ada yang perlu diceritakan, Bu. Toh, semua ini terjadi gara-gara dia," balas Firhan.


Tahun demi tahun sudah berganti, tetapi pemikiran Firhan masih sama yaitu semua yang terjadi pada dirinya adalah karena Ervita. Seolah Firhan tidak melihat bahwa baik dan buruknya perilaku manusia semuanya ditakar oleh Tuhan. Karma pun berlaku, dan ada kalanya Sang Kuasa, memberikan karma buruk untuk mereka yang di masa lalu berlaku buruk.


"Gara-gara dia siapa?"

__ADS_1


Wati kian bertanya-tanya. Sebenarnya siapa yang dimaksud oleh suaminya sekarang. Kata 'dia' yang disebutkan Firhan sekarang mengacu kepada siapa?


"Jelaskan, Mas. Kita sudah menjadi suami dan istri. Tidak perlu lagi ada yang disembunyikan," balas Wati.


Sekarang Firhan begitu emosi dengan Wati. Mengapa istrinya itu justru menyudutkannya, dan juga meminta penjelasan untuk semuanya? Padahal menurut Firhan, masa lalu biarlah tetap menjadi masa lalu. Tidak perlu diungkit-ungkit dan diceritakan kembali.


"Aku sudah pernah memiliki anak! Puas kamu? Ha!"


Firhan membentak dan menghempaskan tangan Wati yang semula menahan tangannya. Kini pria itu begitu emosi jadinya. Wati yang mendesaknya. Hingga emosi Firhan itu dengan begitu cepatnya mendidih.


"Anak?"


Wati menangis dengan sesegukkan. Mendengar jawaban Firhan saja, begitu menghantam dirinya. Kenyataan pahit yang harus Wati dengar sekarang. Bu Yeni yang ada di sana pun menangis. Semua wanita mana pun akan terluka dengan pengakuan suaminya. Lagipula, ini adalah pengakuan yang benar-benar menusuk hati.


Ada kalanya masa lalu bisa menjadi boomerang di masa depan. Sama yang terjadi sekarang. Rumah tangga yang tidak harmonis, rasanya kian goyah dengan pengakuan Firhan barusan. Wati merasa bahwa suaminya itu sudah mengkhianatinya, berlaku tidak setia bahkan sampai memiliki seorang anak.


"Bagaimana ceritanya Mas?" tanya Wati.


Firhan nyatanya memilih berlalu pergi dan kemudian memilih duduk di serambi rumah. Pria itu mengeluarkan sebatang rokok dari celananya, menyalakannya, dan kemudian menyesapnya. Rasanya rokok dengan kandungan nikotinnya adalah teman yang tepat untuk menyelesaikan gundah gulananya dan emosinya yang sempat meninggi.


Sementara di ruang tamu, isakan dan tangisan Wati terdengar begitu mengiris hati. Pun Bu Yeni yang turut menangis.

__ADS_1


"Bagaimana ceritanya Bu?" tanya Wati.


"Kejadiannya sudah lima tahun yang lalu, Wati. Saat Firhan masih kuliah. Sudah lama, Ti," balas Bu Yeni.


Walau semuanya hanya masa lalu, dan dalam kurun waktu lima tahun yang lalu. Tetap saja, itu adalah kenyataan pahit yang Wati terima di masa kini.


"Tolong ceritakan, Bu," balas Wati.


"Dulu, Ti ... Firhan memiliki pacar. Mereka berpacaran cukup lama, dan kemudian Firhan dan gadis itu melakukan hubungan sebelum pernikahan. Namun, tidak ada pernikahan. Sebab, kami semula pernah bersalah karena tidak mengakui anak itu. Jadi, Firhan sudah memiliki anak biologis. Makanya, Ibu sangat kaget ketika kamu mengatakan Firhan tidak bisa memiliki anak. Sebab, di masa lalu, dia bisa memiliki anak," jelas Bu Yeni.


Tidak ada lagi yang ditutup-tutupi oleh Bu Yeni. Dia pun mengakui salahnya dulu kepada Wati. Menurut Bu Yeni, semua masalah pernah salah, dan sekarang waktunya untuk bisa mengakui salahnya dulu.


"Maafkan Ibu dan Firhan, Ti," ucap Bu Yeni.


"Anak itu sekarang berusia berapa Bu? Apa salahnya dengan anak itu sampai menanggung kesalahan Mas Firhan," balas Wati.


Yang Wati rasakan sekarang justru kasihan dengan anak itu. Tidak mendapat pengakuan dari Firhan, tentu sang anak yang harus menanggung kesalahan dari orang tuanya untuk waktu yang lama. Bahkan, sampai seumur hidupnya.


"Hampir lima tahun, Ti," balas Bu Yeni. "Dia cewek," lanjutnya.


Mendengarkan cerita versi lengkap dari Bu Yeni, Wati menangis tersedu-sedu. Kenapa suaminya begitu tega menghancurkan hidup seorang gadis. Memang Bu Yeni tidak menjelaskan secara gamblang siapa wanita dan anaknya. Hanya saja, semuanya diceritakan Bu Yeni dengan lengkap. Tidak ada yang disembunyikan.

__ADS_1


"Kenapa Ibu dan Mas Firhan tidak pernah menceritakannya kepada Wati? Jika, Wati tahu dari dulu, Wati tidak akan sakit hati seperih ini, Bu," balasnya.


Ya, ini adalah kejujuran terpahit. Niatnya ingin tahu masa lalu suaminya, justru membuatnya sangat pedih. Sakit hati yang amat perih. Rasanya Wati pun menjadi kehilangan kepercayaan dengan suaminya sendiri.


__ADS_2