Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Curhat dengan Suami


__ADS_3

Malam harinya, barulah Ervita bisa bercerita tentang kekalutan hatinya tadi kepada Pandu. Sebab, sepanjang hari Pandu bekerja dan malam harinya baru bisa bercerita dengan suaminya. Tentunya setelah Indi dan Irene tertidur. Memang Pandu dan Ervita memiliki waktu khusus di malam hari untuk bisa bercerita semuanya. Bahkan kadang hal menarik yang mereka lewati hari itu pun, akan mereka ceritakan.


Membiasakan untuk memperkuat komunikasi. Berbagi cerita dan juga ketika yang satu bercerita, maka yang satunya akan mendengarkan. Begitu sebaliknya, hal ini baik supaya tiap harinya mereka semakin dekat juga secara hati.


"Kenapa kelihatan sedang kepikiran sesuatu, Nda?" tanya Pandu kepada istrinya itu. Mungkin juga sudah begitu mengenal Ervita, Pandu sangat tahu bahwa istrinya itu sedang banyak pikiran. Dia juga tak segan untuk menanyai Ervita.


"Mau cerita boleh Mas?" tanya Ervita demikian.


"Tentu boleh ... emang pernah aku menolak kamu saat kamu cerita, Dinda? Kan kita teman bercerita untuk satu sama lain. Istriku adalah teman curhatku," balas Pandu.


Ervita tersenyum. "Curhat sama suami sendiri lebih aman, Mas. Tidak mengumbar aib kemana-mana. Didengarkan, dan diberikan solusi. Itu sudah membuatku sangat senang," balas Ervita.


Ya, bagi Ervita yang sebenarnya memiliki karakter introvert, tidak mudah baginya untuk dekat dan terbuka dengan orang lain. Sehingga, Ervita memilih untuk curhat dengan suaminya. Terjamin kerahasiaannya, selain itu suaminya yang lebih dewasa darinya juga sering memberikan saran dan pendapatan yang dewasa.


"Sama suami sendiri, curhatnya seru dan bisa saling pelukan ya, Nda," balas Pandu. "Sini, mau curhat apa sama Kanda," balasnya.

__ADS_1


Ervita tersenyum. Terkadang candaan dari Pandu membuatnya bisa tersenyum dan sedikit mengurangi beban pikirannya. Dia kemudian mulai berbicara, curhat dengan suaminya sendiri.


"Tadi aku kan beres-beres dokumen kita. Dokumen penting. Tidak sengaja, Indi membaca akta kelahirannya. Lalu, dia bertanya kenapa namanya tidak seperti Irene. Yang nama belakangnya memakai nama Hadinata, seperti Yayah Pandu. Jujur, aku sedih banget. Aku berusaha keras untuk menahan air mataku di depan Indi."


Sekarang, barulah Ervita benar-benar menangis. Tadi, dia berusaha keras untuk menahan. Namun, Ervita berpikiran logis, di masa yang akan datang pun Indi pasti bertanya tentang bagaimana kelahirannya nanti. Sekarang saja, dia sudah banjir air mata. Bagaimana jika Indi tersakiti nanti.


"Aku menyesali perbuatan bodohku dulu. Putriku tidak hanya lahir tanpa nasab, tapi ini adalah aib yang aku tanggung, dan Indi juga merasakannya."


Ervita mengatakan semuanya dengan berderai air matanya. Sesekali dia menutupi wajahnya karena kesedihan yang teramat dalam. Bagaimana pun itu, aib akan tetap menjadi aib dan tidak bisa dilupakan begitu saja.


"Yang sudah terjadi di masa lalu tidak bisa diubah, Dinda ... tidak apa-apa. Jika, Indi semakin besar, dan dia bertanya, kita jawab dengan jujur. Tentu menunggu Indi lebih besar juga. Indi berhak juga tentang kenapa dia berbeda."


Dalam pandangan Pandu, suatu hari nanti ketika Indi semakin besar dan kian bertanya kepada dia berbeda. Ervita dan Pandu wajib memberikan jawaban yang jujur. Respons pertama, mesti pahit. Namun, Indi pun suatu hari nanti juga akan didewasakan dengan masalah yang terjadi.


"Iya, Mas ... sekarang saja, aku sudah begitu sedih. Bagaimana kalau nanti Indi benar-benar bertanya," balas Ervita.

__ADS_1


"Aku tahu, Dinda ... walau aku bukan Ayah kandungnya. Aku sangat sayang dia. Aku turut bersedih," balas Pandu.


"Iya, Mas," balas Ervita.


Pandu kemudian mengusap lengan Ervita dengan gerakan naik turun. Berkali-kali juga Pandu menundukkan wajahnya dan kemudian mengecup puncak kepala Ervita. Pantas saja Ervita menjadi begitu sedih. Semua ibu lain di luaran sana juga bersedih hati ketika seorang anak merasa dirinya berbeda. Walau sebenarnya orang tua tidak pernah membedakannya.


"Siapkan hati mulai sekarang ya, Nda ... Indi bisa lebih besar dan lebih kritis dari sebelumnya. Kita harus siap dan terbuka kapan pun dengan dia," ucap Pandu.


"Ii ... iya, Mas. Semoga hatiku bisa kuat dan Indi bisa menerima," balas Ervita.


"Semua kejadian baik itu buruk dan tidaknya selalu memiliki konsekuensi, Dinda. Jangan bersedih. Sejujurnya, tidak ada anak yang mau memilih seperti Indi. Itu akan memberikan pilu yang teramat sangat. Tugas kita sekarang, Dinda ... kita memiliki dua anak perempuan yang harus dijaga. Jadi, kita jaga baik-baik Indi dan Irene. Semoga nanti mereka hidup dengan baik. Memiliki pasangan yang baik dan juga mau menerimanya apa adanya."


"Amin ... aku pun juga mengharapkan demikian. Terima kasih sudah mendengarkan curhatku, Mas," ucap Ervita.


Pandu sekarang mengeratkan pelukannya. Pandu adalah pria yang berhati lembut. Dia tahu perasaan Ervita. Namun, bagaimana pun keduanya harus waspada. Sebagai orang tua, juga harus menjaga anak-anaknya dengan baik. Tidak membuat kesalahan yang pada akhirnya akan memberikan luka yang dalam. Luka yang selamanya tidak akan bisa dibalut dan membentuknya nyeri yang bisa hadir kapan saja. Kendati begitu, setiap kejadian terjadi dengan maksudnya tersendiri. Menyingkapinya, dan berusaha untuk lebih baik lagi setiap hari.

__ADS_1


Happy Reading ^^


__ADS_2