Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Prinsip dalam Memberi


__ADS_3

Masih di dalam yang sama, usai pertempuran untuk kali kedua. Rasanya Ervita dan Pandu masih ingin berbincang-bincang malam itu. Segelas cokelat yang dinikmati bersama, rasanya juga kian nikmat.


“Mas, punya karet enggak? Kok aku gerah yah … padahal habis mandi,” ucap Ervita dengan menyeka keringat di keningnya.


Pandu kemudian mendinginkan AC di dalam kamarnya dan berbicara kepada Ervita. “Coba lihat di nakas, Nda … mungkin kalau karet gelang ada. Kalau karet untuk kunciran tidak ada,” balasnya.


Ervita pun akhirnya berjalan menuju nakas yang terbuat dari kayu jati Jepara, dan membuka salah satu lacinya. Ketika membuka laci itu, memang ada beberapa karet gelang di sana, dan Ervita melihat sebuah kuitansi yang begitu menarik bagi Ervita.


RS … Husada dengan nominal Rp. 8.000.000,-


Lantas Ervita menarik kuitansi pembayaran dari Rumah Sakit yang sangat Ervita kenali itu dan melirik kepada suaminya.


"Jadi ... Mas Pandu yang bayarin biaya persalinanku yah?" tanya Ervita kepada suaminya itu.


Ervita mengangkat kuitansi itu dan menunjukkannya kepada Pandu. Sungguh, Ervita tidak mengira bahwa Pandulah yang dulu begitu dermawan dan membayari seluruh biaya persalinannya. Bahkan, dulu karena identitas si pembayar disembunyikan, Ervita belum bisa berterima kasih secara langsung. Kini, setelah waktu bertahun-tahun berjalan, barulah Ervita tahu bahwa yang membayar seluruh biaya persalinannya adalah Pandu.


"Apa Nda?" tanya Pandu dengan masih bertanya.


Ervita berjalan mendekat dan menunjukkan kuitansi pembayaran dan terlihat seluruh biaya rinciannya di sana. Lantas Pandu pun menghela nafas dan juga menatap Ervita.


"Ini ... rincian biaya persalinanku dulu. Mas Pandu yang bayarin yah?" tanya Ervita lagi.


Tidak bisa lagi mengelak, akhirnya Pandu pun menganggukkan kepalanya, "Iya, Nda ... harusnya aku membuang kuitansi itu," balas Pandu kemudian.


Kedua mata Ervita berkaca-kaca dan juga menatap suaminya itu. "Dulu, aku waktu melahirkan Indi, aku menabung setiap bulan gajiku. Hanya menggunakannya untuk membeli makan dan membayar kost saja. Sampai terkumpul 9 juta Rupiah untuk persiapan persalinan. Ketika aku menitipkan Indi kepada Ibu, dan aku hendak membayarnya, perawat mengatakan bahwa seluruh biaya persalinanku sudah dibayar ... bahkan orang yang membantuku tidak ingin disebutkan siapa namanya. Anonim banget," cerita Ervita pada akhirnya.


Ervita kemudian menatap Pandu dan meneteskan air matanya. "Makasih ya Mas Pandu ... akhirnya aku bisa berterima kasih secara langsung."

__ADS_1


"Sama-sama, Nda ... padahal aku ingin tidak ada orang lain yang mengetahuinya. Sekarang justru kamu mengetahuinya," balas Pandu.


"Kenapa sih Mas Pandu baik banget sama aku ... andai dulu Mas Pandu bilang, aku tidak akan menangis kayak gini. Aku kayak berhutang terima kasih," balas Ervita.


Ada gelengan kepala secara samar dari Pandu, "Jika tangan kananmu memberi ... jangan biarkan tangan kirimu mengetahuinya. Jadi, ketika kita memberi seseorang tidak perlu diucapkan dan dipublikasikan kepada orang lain. Cukup diri kita sendiri dan Tuhan saja yang tahu. Untuk itu, aku tidak memberitahukan semua ini kepada siapa pun, termasuk Bapak dan Ibu," balas Pandu.


Ah, rasanya Ervita benar-benar melihat sosok Pandu yang dermawan dan juga suka memberi dari jawaban yang disampaikan Pandu barusan. Memang begitulah prinsip dalam memberi. Ketika tangan kanan memberi, maka tangan kiri tidak perlu untuk mengetahuinya. Pandu melakukan demikian juga karena tidak ingin orang lain merasa berhutang budi kepadanya.


"Ya, tapi ... aku merasa berhutang budi dan malu. Orang yang menolongku bisa aku lihat nyaris setiap hari, tetapi aku belum mengucapkan terima kasih," balas Ervita.


Pandu lantas merangkul bahu Ervita, "Tidak apa-apa, Dinda ... aku tidak butuh ucapan terima kasih dan balas budi. Aku benar-benar tulus dan melakukannya tidak ada motif apa-apa," balas Pandu.


Pria itu lantas menyeka air mata yang berlinang di wajah Ervita, bahkan Pandu kini mengecup kelopak mata Ervita yang basah karena menangis itu.


"Sudah, tidak usah dimasukkan hati. Lagipula, kamu sudah sering berterima kasih kepadaku. Aku hanya ingin membantu kamu saja, Dinda ... tanpa kamu meminta, tanpa kamu merasa perlu bantuan, aku akan menjadi orang terdepan yang selalu membantu kamu," balas Pandu.


Ervita pun terisak dan menatap suaminya itu, "Terima kasih banyak ya Mas Pandu ... baik banget sih, hampir tiga tahun dan aku baru bisa mengucapkan terima kasih. Maaf aku yang tidak menyadari bahwa orang yang menolongku adalah kamu."


Sisi lain seorang Pandu yang Ervita lihat sekarang ini. "Amin ... Tuhan kiranya menganugerahkan kesehatan, kebaikan, dan seluruh hal yang baik untuk kamu ya Mas ... terima kasih untuk semua pertolongan Mas Pandu kepadaku dan Indi."


"Sama-sama Dinda ... sekarang kamu sudah lega kan? Sudah bisa berterima kasih. Sekarang, karena kamu sudah tahu, jadi kamu harus membayarnya, Nda," balas Pandu kemudian.


Ervita mengernyitkan keningnya, dan menatap suaminya itu, "Aku harus membayar ini kan Mas?" tanyanya.


Dengan cepat Pandu menggelengkan kepalanya, "Tidak ... bayarannya hiduplah berbahagia bersamaku. Jangan terus-menerus terintimidasi dengan masa lalu kamu. Kita menikmati kehidupan rumah tangga kita bertiga. Aku, kamu, dan Indi ... kita akan bahagia bersama," balas Pandu.


Air mata Ervita pun kian menetes, tidak mengira bahwa itulah bayaran yang Pandu minta darinya. Ervita pikir, dia harus mengembalikan nominal uang sebesar itu.

__ADS_1


"Aku sudah bahagia bersamamu, Mas ... aku sangat bahagia," balas Ervita.


Pandu merasa lega ketika Ervita mengatakan bahwa dirinya bahagia bersama dengan Pandu. Memang tujuan Pandu menikahi Ervita salah satunya untuk membahagiakan Ervita dan juga Indi.


"Syukurlah ... aku lega rasanya jika kamu bahagia bersamaku. Aku merasa senang," balas Pandu kemudian.


"Lain kali jika melakukan apa pun untuk aku dan Indi, beritahu ya Mas ... setidaknya, aku bisa mengucapkan terima kasih secara langsung. Ini justru sekian tahun berlalu dan aku baru bisa berterima kasih," balas Ervita.


Pandu pun tertawa, "Untuk apa pun yang aku lakukan dengan tulus ikhlas, aku tidak mengharapkan terima kasih, Nda ... aku bahagia bisa melakukan lebih untuk kamu dan Indi. Kamu dan Indi adalah dua orang yang berharga untukku. Aku cinta kamu dan juga aku sayang Indira. Jadi, tidak perlu mengucapkan terima kasih. Ingat Sayang ... cukup kamu bahagia bersamaku. Jika, suatu hari kamu merasa tidak bahagia bersamaku, tolong ingatkan aku supaya aku bisa membahagiakan kamu. Itu saja," balas Pandu.


"Pasti aku bahagia, Mas ... walau kehidupan pernikahan kita ke depan ada pasang surutnya, tetapi aku akan selalu ingat semua momen indah di dalam kehidupan rumah tangga kita. Aku akan bahagia bersamamu. Terima kasih banyak Kanda," ucap Ervita dengan memeluk Pandu di sana.


"Sama-sama Dinda," balas Pandu dengan mengusapi puncak kepala Ervita.


Mungkin ini adalah sebuah bukti nyata bahwa memang seorang Pandu Hadinata sudah jatuh hati kepada Ervita sejak lama. Hanya saja, perasaan itu tak terungkapkan. Pandu meyakinkan hatinya sendiri dan juga seolah menunggu luka di hati Ervita benar-benar sembuh.


"Kamu dermawan banget, Mas," ucap Ervita kepada suaminya.


"Tidak juga, Nda ... intinya dulu itu apa pun yang kamu butuh, aku berusaha untuk menolong kamu. Termasuk antar jemput kamu waktu kehamilanmu kian bertambah. Aku serasa siap menjadi suami kamu sejak saat itu, cuma aku menunggu kamu untuk membereskan luka di hati kamu. Aku selalu siap menjadi pendamping hidup kamu," balas Pandu.


Ervita pun mengurai pelukannya dan menatap suaminya itu, "Terima kasih sudah mendampingiku, walau kala itu aku belum memulihkan diri dan hatiku. Terima kasih," balas Ervita.


"Terima kasih sudah selalu membantuku, aku pun yakin, kamu juga tahu seberapa banyak air mata yang kutumpahkan kala itu," lanjut Ervita dengan lirih.


"Sama-sama Dindaku ... sekarang jangan sedih-sedih lagi. Termasuk kala kita main ke Solo dan bertemu dia, jangan sedih, tidak usah dimasukkan hati. Oke," balas Pandu.


"Iya Mas," sahut Ervita.

__ADS_1


Ervita menatap Pandu dengan tatapan yang begitu lekat, "Aku cinta banget sama kamu, Mas," ucapnya.


"Aku juga cinta banget sama kamu, Dinda ... tresno sliramu!"


__ADS_2