
Mendapatkan bayi perempuan membuat Ervita merasa pedih. Terbayang bagaimana putrinya kala dewasa menikah dan yang tersemat di sana adalah nasab sang Ibu, bukan nasab sang Ayah. Sementara, jika bayinya laki-laki, kala menikah pun tanpa memerlukan wali.
Sungguh, cela yang dirasakan Ervita ini pun akan ditanggung juga untuk anaknya. Orang-orang akan mengingat bahwa anaknya lahir tanpa nasab yang Ayah. Namun, ada Dokter Wulan yang tampak memotivasi Ervita di sana.
"Selamat ya Bu Ervita … kini hidup Ibu kian sempurna dengan lahirnya sang buah hati. Bayi hadir juga untuk melipur lara, semoga Bu Ervita selalu kuat dan mengasuh si bayi dengan cinta kasih yang tak terhingga sepanjang masa."
Lantas, bayi mungil dengan berat 2,8 kilogram itu ditaruhkan di dada Ervita. Melakukan proses Inisiasi Menyusui Dini (IMD) setidaknya satu jam supaya bayi belajar mencari, menemukan, bahkan menghisap sumber nutrisi pertama kehidupannya yaitu Air Susu Ibu.
"Cantiknya bayinya," ucap perawat yang tadi tangannya dipegangi Ervita kala mengejan.
Kala merasakan bayinya, buah hatinya kini ada di dadanya, menangis dengan begitu keras, bahkan Ervita bisa merasakan denyutan yang terasa dari tali pusar si baby, menyentuh lembutnya kulit bayinya, membuat Ervita sesegukan di sana.
"Anakku … Adik … ini Ibu, Adik," ucapnya dengan bibir bergetar.
Walau hati terasa begitu pedih, tetapi Ervita bersyukur ya bayinya akan menjadi pelipur laranya, penyejuk hatinya, satu-satunya alasan untuk mampu bertahan. Bayi yang akan kian mewarnai hidupnya. Untuk buah hatinya yang sekarang bisa dia lihat, dia peluk, dan juga di sayang, Ervita akan tetap bersemangat.
Ketika si bayi melakukan proses Inisiasi Menyusui Dini, tampak Dokter Wulan dan perawat membersihkan darah serviks, dan juga mengeluarkan plasenta, atau yang biasanya disebut sebagai kelahiran kedua. Lantas, Dokter Wulan juga menjahit jalan lahir yang terbuka untuk melahirkan si baby.
"Penjahitan menggunakan benang dari gelatin ya Bu, sehingga nanti tidak usah lepas benang karena gelatin akan membentuk jaringan baru dan juga menjadi daging," jelas Dokter Wulan di bawah sana.
__ADS_1
"Iya Dokter," balas Ervita.
Lantas, seorang perawat tersenyum melihat bayi mungil dengan kulitnya yang kemerahan, dan juga tangisannya yang begitu kencang itu. "Sudah diberi nama anaknya belum Bu?" tanya sang perawat.
"Sudah menyiapkan nama, Suster," balasnya.
"Siapa namanya?"
"Indira," balasnya.
Ya, kala menyiapkan nama untuk bayinya, nama itulah yang terbersit di benak Ervita. Indira yang berarti cantik dan juga kelak menjadi pemimpin yang kuat. Doa dan harapan yang dia sematkan dalam nama bayinya itu. Doa seorang Ibu untuk bayinya semoga berguna untuk nusa dan bangsa. Walau menderita sejak berada di dalam kandungan, tetapi Ervita harap bahwa Indira akan selalu kuat.
Hampir satu jam, kemudian Indira diambil dari dada Ervita, bayi itu bersihkan dan diberikan imunisasi pertamanya dan juga disuntikkan vitamin K. Lagi, terdengar bayi itu menangis kala jarum suntik menusuk pahanya.
Akhirnya Baby Indira dibawa ke dalam box bayi dan akan dimasukkan ke inkubator untuk beberapa jam pertama usai dia dilahirkan. Sementara itu, kerabat yang menunggu yaitu Bu Tari juga dipersilakan untuk kembali masuk.
"Ibu," ucap Ervita dengan terisak kala melihat Bu Tari kembali masuk ke ruangan perawatannya.
"Selamat ya Vita ... selamat," ucap Bu Tari. "Tadi Ibu lihat sekilas waktu si baby di dalam box bayi. Cantiknya cucunya Ibu ... mirip kamu. Selamat ya, sekarang sudah menjadi Ibu yang seutuhnya. Doanya Ibu sudah dijabah Allah, kamu dan bayinya sehat, selamat, dan juga sempurna. Lebih kuat untuk si buah hati," nasihat dari Bu Tari.
__ADS_1
Ervita menganggukkan kepalanya di sana, "Terima kasih Bu ... terima kasih untuk setiap doa dan kebaikan hati Ibu," balasnya.
Tidak berselang lama, Pandu datang mengetuk pintu dan membawa Teh hangat untuk Ervita. Pria itu sebenarnya bingung dan sungkan juga, tetapi sekadar memberikan Teh rasanya tidak apa-apa. Lagipula, Ervita juga telah dibersihkan, tidak ada bagian tubuhnya yang terekspos.
"Teh hangat dan madu, diminum dulu. Gulanya bisa memulihkan tenaga," ucap Pandu.
"Makasih Mas," balas Ervita.
Bu Tari yang mengambil gelas itu dan juga membantu Ervita untuk minum. Seolah Bu Tari justru seperti Ibu kandung sendiri untuk Ervita.
"Sudah diberi nama bayinya?" tanya Bu Tari kemudian.
"Iya, sudah Bu," balasnya masih dengan suara yang lemas dan juga ada isakan tangis di sana.
"Siapa namanya?" tanya Bu Tari kemudian.
"Indira," balasnya.
"Bagusnya ... cocok sama wajahnya yang cantik. Selamat yah ... Ibu itu senang banget, rasanya kayak terima cucu. Kamu hebat Ervita, bahkan melahirkan yang membuat wanita berada di ambang hidup dan mati, tubuhnya seakan diremukkan, tetapi kamu bisa menjalaninya sendiri. Selamat yah," balas Bu Tari.
__ADS_1
"Vita hanya mencoba berjuang. Untuk Indira, Vita tidak akan menyerah, Bu ...."
Bayi yang dikandung selama sembilan bulan, akhirnya lahir ke dunia. Menjalani sembilan bulan sendirian, seolah terisolasi saja Ervita bisa menjalaninya. Terlebih untuk beberapa jam untuk melahirkannya, tentu Ervita akan mengerahkan seluruh daya dan tenaga untuk melahirkan putri kecilnya itu.