Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Firasat Terbukti


__ADS_3

Usai acara pengajian selesai, dan seluruh tamu sudah pulang. Sekarang, ketika Pandu hendak berpamitan, rupanya Bapak dan Ibunya menahan. Kali ini agaknya firasat Pandu terbukti.


"Bapak dan Ibu, sekarang sudah malam ... jadi Pandu dan Ervi pamit dulu untuk pulang ke rumah," pamit Pandu kepada kedua orang tuanya.


Akan tetapi, sekarang justru Bapak dan Ibunya menahannya, "Tidur di sini saja tow, Ndu ... mumpung Pertiwi, Damar, dan anak-anak menginap di sini. Jadi, di sini aja dulu," balas Bu Tari.


Tersenyum sembari menundukkan kepalanya, Ervita pun mengingat bahwa tadi suaminya sudah berpikiran seolah memiliki firasat bahwa sudah pasti Bapak dan Ibunya akan menahannya untuk pulang. Itu juga karena sebenarnya sebagai orang tua, Bapak dan Ibunya senang jika seluruh anak, menantu, dan cucu berkumpul. Rumah kembali hidup rasanya.


"Mau kan Vi? Bobok di sini ... menginap di sini. Kan yah, rumahnya cuma beda gang saja dari sini. Menginap di kamarnya Pandu juga nyaman kok," balas Bu Tari.


Ervita pun menatap suaminya dan menjawab, "Ervi mengikuti Mas Pandu saja kok, Bu," jawabnya.


Tidak ingin melangkahi karena sebenarnya dia sudah mendengar bahwa suaminya itu ingin memiliki misi khusus bersamanya. Tawaran menuju Swargaloka, Andromeda, bahkan Sahara sudah Pandu tawarkan kepadanya. Namun, sekarang mereka memang agaknya harus menginap di rumah orang tuanya.


"Sesekali, Ndu ... kamar di sini juga nyaman. Bapak dan Ibu juga tidak akan mengganggu kalau kamu perlu butuh nanti," balas Bu Tari lagi.


"Udah, nginep saja ... besok anterin melihat Matahari terbit di Ratu Boko dong Ndu," pinta Pertiwi kini kepada adiknya itu.


Pandu tampak menatap kakaknya yang kalau sedang pulang ke rumah sudah pasti banyak maunya itu. "Nonton Sunrise sama Mas Damar lak ya bisa tow, Mbak," balasnya.


"Kita berempat dong ... double date. Anak-anak biar sama Eyangnya," balas Pertiwi.


Pandu menatap Kakaknya itu, "Kalau pulang ke Jogja, pasti deh," balasnya.

__ADS_1


"Menuruti Mbak sendiri gak salah kok ... selain itu Mbak kan baru hamil. Besok ya Ndu," pinta Pertiwi lagi kepada adiknya itu.


"Nda, mau lihat matahari terbit?" tanya Pandu kepada istrinya.


Pikirnya jika Ervita mau, Pandu juga mau saja. Sebab, sekarang prioritas seorang Pandu adalah Ervita. Oleh karena itu, dia akan mau jika Ervita juga mau melihat matahari terbit.


"Boleh-boleh saja Mas ... sesekali menyapa surya," balasnya.


Pandu pun akhirnya menghela nafas, "Baiklah ... Pandu dan Ervi akan menginap di sini. Besok jam setengah lima pagi sudah harus berangkat loh Mbak ... enggak boleh molor dan rempong," ucap Pandu kemudian kepada Mbak Pertiwi.


"Yes, adikku memang cakep, keren, baik hati, dan rajin menabung," balas Pertiwi yang tampak senang karena keinginannya akan dikabulkan besok.


"Wi, tapi hati-hati yah ... kehamilan kamu sudah besar. Jadi, enggak usah naik-naik yah. Dijaga kehamilannya," pesan Bu Tari kepada putrinya itu.


Hampir jam sepuluh malam, barulah Ervita dan Pandu masuk ke dalam kamar milik Pandu. Walau Ervita sudah terlihat begitu mengantuk, suaminya itu agaknya masih mengajaknya bercanda.


"Masuk ke kamarnya mantan jejaka lagi ya, Dinda," ucapnya dengan menggandeng tangan Ervita.


"Hmm, iya ... jejaka yang sekarang menjadi Kanda," balas Ervita.


Pandu tersenyum di sana. Kemudian dia membantu Ervita untuk naik ke ranjang miliknya yang ada di dalam kamarnya, tangan Pandu terulur dan membelai wajah Ervita di sana, "Kamu kelihatan capek banget yah?" tanyanya.


"Capeknya sih enggak, Mas ... tapi ngantuknya iya," balas Ervita.

__ADS_1


Jawaban yang diberikan Ervita adalah jawaban nyata. Dia tidak merasa capek, toh hanya mengobrol saja. Akan tetapi, matanya rasanya begitu berat, dan mudah banget mengantuk. Oleh karena itu, Ervita merasa kian bertambahnya usia kehamilan, rasanya dia menjadi ngantuk.


"Dulu waktu hamil Indi juga mengantuk enggak?" tanya Pandu kemudian.


Ervita diam dan tampak mengingat-ingat, kemudian menganggukkan kepalanya, "Apalagi dulu Mas ... di kost sendirian. Terisolasi dari dunia luar, jadi seringnya habis dari kios batik, mandi, makan, terus tidur," balas Ervita.


Mendengar jawaban dari Ervita, Pandu segera mendekap tubuh istrinya itu. Ada rasa iba ketika mendengar cerita dari Ervita itu. "Kasihan banget sih Nda ... sekarang tidak akan aku biarkan kamu sendirian. Aku akan selalu menemani kamu," balas Pandu.


"Iya Mas Pandu ... makasih banyak yah," balas Ervita.


Pandu tersenyum dan mengusapi puncak kepala suaminya itu, "Ya sudah, bobok saja, Nda ... firasatku terbukti. Kita terdampar di kamar dengan ukiran kayu khas Jepara ini," balasnya.


Ervita pun turut tertawa, "Ya enggak apa-apa. Sekali-kali, Mas ... Bapak dan ibu juga berharapnya kita bisa menginap. Jadinya ya sudah, menikmati kamar mantan jejaka," balas Ervita.


"Padahal sudah di ubun-ubun, Nda ... cuma melihat kamu sudah begitu ngantuk, aku tidak tega jadinya," balas Pandu.


Ya, melihat mata Ervita terlihat berat dan berair karena beberapa kali menguap Pandu rasanya tidak tega jika harus bergumul dengan Ervita malam ini. Dia memilih untuk menundanya saja sampai waktunya menjadi kondusif, dan tentunya mereka sudah sama-sama berada di rumah.


"Ya sudah, bobok yuk Bunda ... besok setengah lima sudah harus berangkat. Besok pakai jaket yang tebel yah," ucap Pandu.


"Lah, gak punya jaket tebel, Mas," balas Ervita.


Pandu pun tersenyum, "Tenang saja, besok pakai jaketku ... sama besok aku peluk, Dinda ... jangan khawatir, ada Kanda di sisimu," balas Pandu.

__ADS_1


Begitu leganya Ervita karena Pandu tidak memaksanya. Dia kira, walau dirinya sudah begitu mengantuk Pandu masih akan meminta haknya. Akan tetapi, sekarang Pandu bisa menahan diri, dan menunggu waktu yang kondusif.


__ADS_2