
Kedatangan Ervita siang itu, bukan hanya menggembirakan keluarganya, tetapi juga membuat banyak orang bertanya siapa pria dan anak kecil yang datang bersamanya. Sejurus kemudian, keluarga Firhan pun datang untuk jagong, bagaimana pun mereka itu tetangga, sehingga juga keluarga Firhan pun datang dan turut memberikan selamat untuk keluarga Bapak Agus.
Hingga keluarga Firhan pun kini duduk berhadapan-hadapan dengan Ervita, hanya dipisahkan jalan setapak saja. Tatapan mereka tentu saja lebih fokus ke sosok Pandu dan anak kecil yang berada di pangkuannya. Jika Bu Yeni bisa mengendalikan diri dan emosi, tetapi Pak Supri sudah terlihat emosi melihat Ervita di sana. Firhan yang kali ini datang pun juga menatap tajam pada Ervita yang duduk di depannya.
"Untuk apa dia datang?" tanya Pak Supri kepada istrinya.
"Ervi kan anaknya juga, Pak ... menghadiri pernikahan adik sendiri tidak ada salahnya," balas Bu Yeni.
Lantas Pak Supri bertanya kepada Firhan, "Pria itu sapa Han?" tanyanya.
"Juragan Batik ya pria itu, Pak," balas Firhan.
Hingga suguhan disajikan mulai dari Teh Hangat, Kue lapis mandarin, Sosis Solo, dilanjutkan dengan Sup Manten, Nasi, dan juga Es. Pandu pun terlihat kalem menyuapi Indi dengan roti lapis mandarin di sana.
"Yayah, au ... oti (Ayah, mau roti)," ucapnya dengan menunjuk roti.
Pandu pun segera menyuapi Indira dengan roti. Ervita pun memberikan roti miliknya yang belum dimakan ke piring kecil untuk camilan milik Pandu. "Mas Pandu makan punyaku saja," ucapnya.
"Aman, Vi ... penting untuk Indi dulu," balasnya.
Dalam hatinya, Ervita juga hanya sebatas merasa apakah Indi tidak ada ikatan dengan Firhan yang ada di sana. Padahal ada Firhan juga, tetapi kenapa Indira justru begitu nyaman dengan Pandu. Padahal biasanya perasaan anak kecil tidak bisa dibohongi. Hingga orang tua Ervita pun datang dan menyapa Ervita lagi.
"Datang sama siapa, Vi?" tanya.
"Oh, ini Mas Pandu, Bu ... dan ini Indira, anaknya Ervi," ucap Ervita.
__ADS_1
Lagi, kala mengenalkan Indira sebagai anaknya, kedua Ervita sudah tampak berkaca-kaca di sana. Indira masih tenang saja dalam pangkuan Pandu. Sementara Pandu menganggukkan kepalanya kepada Ibunya Ervita. Ingin memberikan salam yang layak, tetapi Indira sedang nyaman dengannya.
Pandangan Bu Sri jatuh ke Indira di sana, "Indi ... cantik men kamu Nak ... sini ikut Simbah Putri yuk?" ajaknya.
Indira menengadahkan wajahnya dan menatap Pandu terlebih dahulu, dan Pandu pun menganggukkan kepalanya, "Ikut Simbah yah," bisik Pandu kepada Indira.
Setelah dibujuk Pandu, akhirnya Indira mau untuk digendong Bu Sri itu, dan kembali Bu Sri begitu terharu menggendong cucunya untuk kali pertama. Pak Agus yang ada di sana pun juga tampak ingin menggendong Indira. Namun, ada rasa sebal dan marah di hati, karena bersamaan dia melihat Firhan di sana. Pria yang sudah menghamili Ervita dan lahirkan Indira di antara keduanya. Akan tetapi, sampai sekarang tidak pernah ada pengakuan dan tanggung jawab dari Firhan untuk Ervita.
Ervita yang melihat anaknya dalam gendongan Bapak dan Ibu pun terharu, tidak mengira bahwa kepulangannya kali ini tidak menghasilkan amarah, tetapi disambut dengan cukup baik. Walaupun sepenuhnya Ervita sadar bahwa perasaan kedua orang tuanya masih belum baik-baik saja.
"Dia anak haram," ucap Pak Supri dengan lantang yang tentu membuat telinga orang tua Ervita menjadi panas. Terutama Pak Agus.
Tidak menyangka di hari bahagia ini, ada keluarga itu yang turut datang dan sekarang ucapannya begitu menyakiti telinga.
Suasana usai pesta pun memanas, untung saja pihak keluarga besan sudah pulang. Hanya ada Mei dan suaminya, serta tamu yang hadir kala itu hanya Ervita dan juga keluarga Firhan saja.
"Oh, jadi setelah sekian tahun tidak pulang ... sekarang pulang membawa anak. Yakin, itu anaknya Firhan atau anaknya Juragan Batik ini. Bukankah benar, dia menjadi simpanan Juragan Batik?" tuding Pak Supri sekarang dengan menunjuk Ervita.
Pandu yang semula diam tampak menghela nafas di sana, "Maaf Pak ... tidak usah menggunjingkan Ervita, kalau anak Bapak sendiri yang membuat penyebabnya sejak semula," balas Pandu.
"Itu karena dia yang murahan, membiarkan dirinya disentuh, dan sekarang dia menjadi simpanan kamu kan anak muda!"
Sungguh, Pandu sangat benci, sangat marah kala orang tua dan sudah paruh baya justru bermulut tajam. Tidak melihat kesalahan dari sudut yang berbeda. Hanya membenarkan perilaku anaknya dan menuduh Ervita yang bukan-bukan.
"Berarti pria yang menyentuhnya dan tidak bertanggung jawab juga murahan dong?" balas Pandu.
__ADS_1
Pak Supri pun sudah berdiri dan hendak menerjang Pandu di sana, tetapi Bu Yeni segera memegangi lengan suaminya itu. "Sudah Pak ... sudah, jangan membuat keributan," ucap Bu Yeni.
"Anakku memang salah ... anakku tidak bisa menjaga diri. Hanya saja hubungan seperti itu tidak hanya satu orang yang salah, tetapi dua orang. Keduanya pelakunya, bukan salah satu. Namun, Ervi sudah menanggung salah dan dosanya selama ini. Sebagai Bapak, aku pun yakin Ervi bukan menjadi simpanan Juragan Batik," balas Pak Agus.
Kali ini Pak Agus lebih bisa membaca suasana dan menguasai emosinya. Baginya Ervita memang salah, tetapi Ervita sudah menjalani tahun-tahun tanpa orang tua, menebus dosanya sendiri dengan hamil dan melahirkan seorang diri. Tidak mudah bagi seorang wanita yang kala itu masih berusia 21 tahun untuk hidup sendiri, hamil sendiri, dan melahirkan sendiri, bahkan setelahnya menjadi Ibu tunggal bagi anaknya. Sungguh, yang dialami Ervita begitu luar biasa. Penuh kesesakan, pasti. Penuh dengan perjuangan, itu pun juga pasti.
"Ck, sekali murah ya murah. Tidak akan ada pria baik-baik yang mau sama anakmu!"
Pak Supri berdecih dan kian merendahkan Ervita di sana. Pandu sudah begitu geram, tetapi Ervita tampak membisikkan kata-kata kepada Pandu supaya Pandu bisa tenang.
"Suatu hari jika ada pria baik-baik yang datang untuk Ervita dan mau menerima Ervita serta anaknya, kamu akan malu, karena Gusti membolak-balikkan nasib manusia. Yang kali ini hidup kesusahan dan penuh air mata, bisa Gusti angkat derajatnya dan dimuliakan. Ingat itu," balas Pak Agus.
Setidaknya manusia tidak boleh jumawa dengan apa yang terjadi, karena memang Tuhan, Allah yang Agung bisa melakukan apa saja. Bahkan membuat orang yang jumawa seketika menjadi mati kutu pun bisa.
"Wanita baik-baik tidak akan tinggal bersama dengan pria yang bukan mahramnya dan juga nyaman dengan pria yang tidak ada ikatan apa pun dengannya," tuding Pak Supri lagi.
Adu mulut pun kian panas, hingga tidak terduga, dari jauh datang tamu dari Jogja yang tanpa banyak bicara rupanya membuntuti mobil Pandu dan Ervita. Siapa lagi jika bukan keluarga Hadinata yang datang. Sontak saja, para pihak yang adu mulut pun terdiam, Ervita dan Pandu juga tampak bingung di sana.
"Mas, kok seluruh keluarga datang?" tanya Ervita dengan bingung.
Pandu pun menganggukkan kepalanya, "Iya, cuma aku juga tidak tahu jika Bapak, Ibu, Mbak Pertiwi, dan Mas Damar ke sini," balasnya.
"Kula nuwun ... perkenalkan kami keluarga Hadinata, keluarga Ervita juga dari Jogjakarta," ucap Bapak Hadinata yang menyalami Pak Agus dan Bu Sri di sana.
Mendengar nama Hadinata, tentu mereka tahu karena Hadinata adalah pemilik usaha batik yang terkenal di Jogjakarta. Apakah keluarga ini yang sudah memberikan naungan bagi Ervita hampir tiga tahun ini? Lantas kenapa keluarga itu turut datang ke Solo sekarang ini?
__ADS_1