
Di tempat yang berbeda, Bapak Agus mengajak Indi jalan-jalan, dan sekarang tempat yang mereka tuju adalah Taman Cerdas di dekat Solo Technopark. Pak Agus mengajak Indi dengan menaiki sepeda motor. Di Taman Cerdas memang ada wahana bermain. Ada seluncuran, ayunan, dan juga jungkat-jungkit. Selain itu juga, banyak anak-anak yang sering bermain di area Taman Cerdas karena di sana ada spot foto-foto yang instagramable.
Selain itu, di taman cerdas juga ada patung Tyranosaurus Rex atau biasa disebut T-Rex, dan ada Brontosaurus jenis Dinosaurus yang berleher panjang dan memakan dedaunan atau tumbuh-tumbuhan. Selain itu, ada juga beberapa patung wayang seperti Rama dan Sinta yang melegenda dengan kisah cinta mereka, Werkudara yang memiliki Kuku Pancanaka, dan Kresna. Ada juga patung robot yang tentu sangat disukai anak-anak.
Indi yang diajak ke area Taman Cerdas pun sangat senang. Seakan dia menemukan tempat bermain saat berada di Solo. Lagipula, Indi sendiri jarang mendatangi taman bermain. Sehingga melihat fasilitas publik dan sangat lengkap seperti ini membuat Indi sangat senang.
"Kakung, mau lihat wayangnya ya, Kakung," pintanya.
Menuruti permintaan Indi, Pak Agus pun menunjukkan patung wayang yang ada di area Taman Cerdas. Selain itu, Pak Agus juga menceritakan kisah tokoh wayang itu secara sederhana kepada Indi. Rupanya Indi pun tertarik dengan tokoh-tokoh wayang.
"Bagus, Kakung ... Indi suka," balasnya.
"Mana dari empat wayang ini yang paling Indi suka?" tanya Pak Agus.
"Rama dan Sinta, Kakung," jawabnya.
Memang biasanya orang-orang akan menyukai kisah Rama dan Sinta. Epos kisah cinta yang sangat apik dan indah antara Prabu Rama Wijaya dengan Dewi Sinta yang diculik oleh Raksasa dari Alengka bernama Rahwana. Lantaran Indi suka, kemudian Pak Agus menceritakan kisah Rama dan Sinta itu secara singkat kepada Indi.
"Sudah lihat wayang sama Kakung. Terus Indi mau ngapain lagi?" tanya Pak Agus.
"Mau main ayunan, Kung. Nanti Kakung menunggu saja, Indi tidak akan jauh-jauh kok," balasnya.
Namun, begitu sudah di tempat bermain tetap saja Pak Agus memperhatikan Indi. Ketika Indi bermain ayunan, bermain seluncuran, hingga menaiki rumah pohon, Pak Agus selalu mengikuti Indi. Sebab, bagaimana pun Indi yang masih kecil harus diawasi juga. Hampir setengah jam, Indi bermain-main. Kemudian atensi Indi teralihkan pada beberapa anak yang melukis.
"Kakung, Indi mau melukis dong," pintanya sekarang.
Kakung Agus pun menuruti kemauan Indi dan mengantarkan Indi untuk melukis. Pak Agus juga menunggu tidak jauh dari tempat Indi melukis sekarang. Tetap berusaha untuk mengawasi cucunya.
Sampai akhirnya, ada Wati yang siang itu juga mengunjungi Taman Cerdas. Tujuannya adalah membeli aneka jajanan yang ada di depan Taman Cerdas. Setelah membeli jajanan, Wati mampir ke Taman Cerdas. Dia mengamati anak-anak yang bermain, mewarnai, atau sekadar berjalan-jalan.
Sekadar melihat anak-anak saja membuat Wati mengelus perutnya sendiri. "Kira-kira kapan hamba akan dipercaya untuk mengandung ya Tuhan? Semoga saja, Allah berkenan menyemai benih terbaik dari Mas Firhan yang nantinya akan bertumbuh dan berkembang di dalam rahim hamba."
__ADS_1
Ya, Wati berdoa dan memohon kepada Allah di dalam hati. Bagi mereka yang belum dikarunia buah hati, kehidupan pernikahan itu terasa sepi. Karenanya, Wati benar-benar berharap bahwa Allah akan percayakan keturunan kepadanya. Ketika Wati sedang melamun, arah pandangannya tertuju kepada satu anak kecil yang seolah mengalihkan dunianya.
"Kok anak itu beberapa fitur wajahnya mirip dengan seseorang yah?"
Wati bergumam sendiri dengan memperhatikan anak kecil yang saat itu sedang mewarnai. Wajah dengan beberapa fitur di sana yang tidak asing bagi Wati. Lantaran penasaran, Wati pun pindah tempat duduk dan kemudian menanyai anak kecil itu.
"Hei, halo ... adik. Nama kamu siapa, Dik?" tanya Wati menanyai anak kecil itu.
"Namaku, Didi, Tante. Indira, Yayah dan Nda biasanya memanggilku Didi," balas Indi.
Rupanya anak kecil yang Wati lihat dan menarik perhatiannya itu adalah Indi. Bahkan hatinya sendiri yang terdorong untuk menanyai siapa nama anak kecil itu.
"Oh, namanya Indira ... nama kamu bagus sekali, Dik. Cantik juga," balas Wati.
Namun, Indi memilih fokus dengan gambar dan aneka pensil warna di sana. Kemudian Indi melihat sekilas Wati yang masih duduk tidak jauh darinya.
"Tante namanya siapa?" tanya Wati.
Indi menganggukkan kepalanya. Kemudian Wati kembali mengamati wajah Indi. Dia juga mengingat-ingat lagi, wajah Indi memiliki kemiripan dengan siapa. Wati sampai beberapa kali mengamati wajah Indi. Ingin rasanya memotret Indi. Namun, Ervi juga tahu bahwa memotret seorang anak tanpa izin itu tidak baik dan melanggar hukum.
"Kok Tante mandangin aku sih?" tanya Indi.
Wati dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Kamu cantik, Dik ... Tante suka," balas Wati.
Hingga akhirnya, ada Pak Agus yang mendekat dan memanggil nama Indi. "Yuk, Ndi ... kita pulang. Nanti dicariin Yayah loh," ajak Kakungnya.
"Sebentar Kakung ... lima menit," balas Indi.
Indi memang meminta masa tenggang lima menit, supaya dia bisa menyelesaikan lukisannya. Namun, sosok Pak Agus tidak asing untuk Wati, karena memang mereka tetanggaan. Wati pun juga menyapa Pak Agus dan baru menyadari bahwa Indi adalah cucunya Pak Agus. Namun, hati Wati masih merasa tidak tenang karena merasakan wajah Indi yang mirip dengan seseorang.
Usai lima menit berlalu, Pak Agus mengajak Indi pulang. Kemudian, Wati juga memilih pulang ke rumah mertuanya. Setibanya di rumah, Wati pun bercerita dengan ibu mertuanya.
__ADS_1
"Bu, tadi Wati mampir ke Taman Cerdas dulu. Maaf, lama," ucapnya.
Bu Yeni pun menganggukkan kepalanya. "Iya, Ti ... tidak apa-apa. Mumpung di sini kan tidak apa-apa. Tumben kamu mampir ke Taman Cerdas," tanya Bu Yeni.
"Lihat anak-anak, Bu ... sembari berdoa di dalam hati, supaya di hari yang baik nanti Tuhan titipkan baby kecil di rahimnya Wati."
Mendengarkan ucapan Wati, Bu Yeni nyaris menitikkan air mata. Memang sangat rindu untuk memiliki buah hati. Bu Yeni pun juga mengharapkan hal yang sama. Semoga, Allah percayakan keturunan untuk Wati dan Firhan.
"Bu, tadi Wati ketemu sama anak kecil kok wajahnya itu tidak asing yah ... cantik. Namun, ada beberapa kemiripan di wajahnya dengan orang yang Wati kenal. Sayangnya, Wati berusaha mengingat-ingat, tapi belum menemukan anak kecil itu mirip siapa," ucap Wati.
Kali ini Bu Yeni tertawa. "Anak kecil itu siapa emangnya, Ti?" tanya Bu Yeni.
"Hm, namanya Indi, Bu ... Indira. Aneh, kok Wati ingin kenalan sama dia dan wajahnya itu mirip dengan seseorang."
Kemudian Wati memejamkan matanya, berusaha untuk mengingat lagi wajah siapa sebenarnya yang mirip dengan anak kecil bernama Indira itu. Hingga sekarang arah pandangan Wati menatap ada foto lama yang tergantung di dinding ruang keluarga. Kemudian, Wati berdiri dan kemudian menatap foto itu.
"Ini ... mirip foto ini," tunjuk Wati.
Ya, rupanya wajah Indi dengan beberapa fitur wajahnya yang mirip dengan anak kecil di foto lama itu. Bu Yeni sampai kesusahan untuk menelan salivanya sendiri. Mungkinkah sudah saatnya memberitahu Wati yang sebenarnya.
"Ini fotonya siapa, Bu?" tanya Wati kemudian.
Bu Yeni terdiam. Bingung untuk memberikan jawaban kepada Wati. Hanya beberapa saat, hingga kemudian Bu Yeni menjawab dengan jujur.
"Itu, fotonya Firhan waktu TK," jawab Bu Yeni.
Hati Wati seketika merasa berdebar begitu kencang melebihi ambang batasnya. Kemiripan wajah yang tidak asing untuknya. Ternyata anak kecil yang dia temui itu sangat mirip dengan foto suaminya sendiri sewaktu masih TK.
"Ibu, mungkinkah dia?"
Wati menggelengkan kepalanya dan menutup mulutnya sendiri dengan telapak tangan. Ingin melanjutkan ucapan saja rasanya begitu berat. Dadanya menjadi berdebar-debar, dan juga ada rasa sesak seketika di dalam dadanya.
__ADS_1