Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Rintangan dalam Pekerjaan


__ADS_3

Selang satu hari kemudian, Batik Hadinata mendapatkan pembelian secara online dengan jumlah yang banyak. Ada yang memesan untuk seragaman. Sehingga jumlah batik yang dibeli cukup banyak. Sebagai karyawan yang mengurusi pembelian secara online, maka Ervita pun akan menyiapkan barang dan kemudian mem-packingnya, kemudian menunggu dari kurir pengiriman paket yang akan datang ke rumah.


Sejak pagi usai sarapan dan menyuapi Indira, Ervita sudah mulai mempersiapkan batik dengan motif apa saja yang dipesan oleh pembeli melalui layanan e-commerse itu. Tidak lupa, Ervita memberitahu kepada Indira untuk bisa bermain dan tidak rewel dulu karena pesanan untuk hari ini begitu banyak.


"Indi, Indi main dulu di sini yah ... Bunda mau menyiapkan batik dulu dan packing. Mainnya duduk didekat Bunda saja yah," ucapnya.


"Nda, eja?" Maksudnya Indira menanyakan 'Bunda kerja?' dengan kemampuan berbicaranya yang memang masih sederhana.


"Iya, Bunda bekerja dulu ... biar Bunda bisa belikan susu ya untuk Indira," balasnya.


"*****." Rupanya Indira masih ingin meminum ASI dari Ibunya. Itu adalah wajar karena ini baru memasuki hari ketiga Indira disapih, sehingga Indira sering kali masih meminta ASI secara langsung.


"Sudah tidak boleh ... Indi kan sudah besar. Sudah berusia 2 tahun. Sudah lulus S2 untuk minum ASI-nya Bunda," balas Ervita.


Walau mulut berbicara, tetapi Ervita tetap menggunakan kedua tangannya untuk bekerja. Indira rupanya kembali berbicara, "Nda ... didi au adik," pintanya kini.


Bukan bersedih, kali ini Ervita hanya tersenyum mendengar permintaan dari Indira. Sebab, memang bukankah anak-anak bisa berbicara dan meminta sesuatu dengan spontans.


"Sudah, Bunda bekerja dulu yah ... Bunda harus bekerja keras dan bisa menabung untuk Indi juga."


Memang begitulah Ervita. Walau hidup sudah ikut keluarga Hadinata, tetapi untuk kebutuhan sehari-hari tetap menggunakan uang pribadi. Seperti kebutuhannya, kebutuhan Indira, dan juga dia menyisihkan sedikit uang untuk menabung. Untung saja, kala melahirkan Indira dulu ada seorang dermawan yang berhati baik yang membantunya. Sehingga uang yang seharusnya untuk membayar biaya persalinan, ditabung Ervita sampai sekarang. Pikirnya, jika membutuhkan uang mendesak, bisa dia pakai untuk keperluannya.


Setelah siang, Ervita berhasil untuk menyelesaikan packing semua batik yang dipesan oleh pembeli. Kemudian, Ervita mengirim pesan kepada kurir tempat pengirman yang bisa mengambil barang di tempat untuk mengambilnya. Sayangnya, hari ini tempat pengiriman itu sedang tutup. Sehingga menyarankan kepada Ervita untuk mengirim ke jasa antar serupa.


Jika mengirimkannya sendiri, tentu yang menjadi kendala adalah Ervita memiliki anak kecil. Jika ingin menitipkan Indira, di rumah tidak ada orang Bu Tari dan keluarganya sedang piknik bersama Mbak Pertiwi dan Mas Damar. Akhirnya, Ervita mengeluarkan sepeda motornya. Wanita itu menghidupkan mesinnya dan supaya panas terlebih dahulu, kemudian dia memasukkan pesanan di dalam tas jinjing karena pesanannya memang banyak.


Baru mendengar mesin sepeda motor saja, Indira sudah menangis dan mengangkat tangannya minta digendong. Jujur, jika hectic seperti ini, membuat Ervita pun merasa bingung harus menangani yang mana dulu.


"Sebentar Indi ... Bunda angkat tasnya ke sepeda motor dulu. Sebentar tunggu dulu yah, kan nanti juga diajak Bunda."


Namun, agaknya Indira tidak mempedulikan nasihat dari Bundanya, sehingga anak itu terus merengek dan minta digendong. Seolah takut jika ditinggal Bundanya sendirian. Ervita pun mengenakan jaketnya terlebih dahulu, kemudian memakai gendongan hipseat, barulah menolong Indira dan memposisikannya dalam gendongannya.

__ADS_1


"Sabar tow Nak ... Bunda kan siap-siap dulu. Kalau Indi nangis, Bundanya jadi bingung. Kan ya Bunda masih di rumah. Masih di depannya Indi. Nih, sekarang juga sudah digendong Bunda kan?"


"Ikut ... Didi ikut," balas Indira kecil.


"Iya, ikut ... cuma kan sabar dulu. Orang sabar itu disayang Tuhan. Kalau Indi sabar, Bunda juga bisa tenang. Nih, Bunda sampai lupa mengambil dompet dan kunci rumah kan? Kalau Indi menangis, Bundanya jadi bingung," ucap Ervita yang berusaha memberikan pengertian kepada putrinya itu.


Setelahnya, Ervita menaiki sepeda motor sambil menggendong Indira dan juga membawa tas jinjing yang berisi batik di dalamnya menuju ke jasa antar barang. Sebab, barang pesanan dari konsumen lebih baik bisa segera dikirimkan. Sehingga konsumen yang membeli secara online pun bisa puas dengan pelayanan penjual dan memberikan rating yang baik di toko online mereka.


Mengendarai sepeda motor dengan menggendong bayi itu susah, perlu keseimbangan untuk memegangi stank sepeda motor, terkhusus ketika jalanan berbelok. Juga masih membawa tas jinjing yang kala itu Ervita taruh di antara kedua kakinya, di depan motor matic miliknya. Mencari jasa antar terdekat, rupanya tutup juga. Sehingga Ervita harus mencari tempat yang lain.


Panasnya kota Gudeg seolah tak menghalangi Ervita untuk mencari jasa antar barang yang lain. Sebenarnya Ervita juga kasihan kepada anaknya yang harus mengikutinya berpanas-panasan, tetapi memang tidak ada pilihan lain.


Hingga akhirnya, Ervita menemukan jasa antar barang dan mulai mengirimkan barang-barang itu.


"Semuanya ya Mbak?" tanya seorang pria yang bekerja di sana.


"Iya Mas ... semuanya," balas Ervita.


"Iya Mas ... biasanya ada yang jemput ke rumah, cuma tadi tutup tempatnya. Jadi, saya cari jasa antar supaya pembeli tidak menunggu terlalu lama," balasnya.


Setelah menunggu dan mendapatkan resinya, Ervita membayar semua biaya pengiriman dan kemudian pulang ke rumah. Matahari kian tinggi, kian terik juga panas kala itu. Kembali menaiki sepeda motornya, tetapi baru beberapa meter berjalan, sepeda motornya terasa berat. Ervita pun menghentikan sepeda motornya di pinggir jala guna melihat apa yang terjadi dengan sepeda motornya. Rupanya ban sepeda motornya bocor, pantas saja terasa berat.


Dengan menggendong Indira masih dengan menggunakan hipseat, Ervita pun mendorong sepeda motornya dan berharap akan menemukan tempat Tambal Ban yang tidak terlalu jauh. Dengan pelan-pelan Ervita mendorong motornya, dengan mempertahankan gendongan Indira. Sesekali juga dia melihat ke kanan dan ke kiri, sapa tahu ada Tambal Ban di sekitar tempat itu. Segala daya dia kerahkan untuk mendorong sepeda motornya. Beberapa meter Ervita sudah berjalan, tetapi belum ada tambal ban. Itu artinya Ervita harus berjalan lebih jauh untuk bisa mendapatkan tempat tambal ban.


Bulir-bulir keringat mulai menetes di sudut keningnya. Tangannya seolah pegal lantaran terus mendorong sepeda motor. Itu semua lantaran sepeda motor dalam ban keadaan bocor akan lebih berat saat didorong atau dikendarai.


Merasa begitu lelah, Ervita pun berhenti sejenak. Wanita muda itu mengambil nafas, menyeka buliran keringat di keningnya, dan mulai membenarkan posisi gendongan Indira lagi. Ya Tuhan, mendorong motor di panas yang terik sembari menggendong anak yang beratnya hampir 13 kilogram, membuat Ervita benar-benar capek dan juga kepanasan.


Hingga ada mobil berwarna putih yang membunyikan klakson yang tentu membuat Ervita kaget, dan kian menepi ke pinggir jalan. Selang kemudian, ada pemuda yang turun dari mobil itu.


"Ervi, kok kalian sampai sini sih?"

__ADS_1


Rupanya, Pandu yang turun dari mobil itu. Piknik keluarga yang sudah dilakukan sejak kemarin akhirnya usai sudah dan keluarga Hadinata akan kembali ke rumahnya. Dalam perjalanan, ketika mengemudikan mobilnya rupanya Pandu melihat sosok yang dia yakini Ervita tengah berjalan dan mendorong sepeda motornya.


"Mas Pandu," balas Ervita dengan berusaha mengulas senyuman. Walau benar-benar kecapekan, haus, dan kepanasan, tetapi Ervita masih berusaha untuk tersenyum.


Setelah Pandu turun, rupanya keluarga yang lain pun juga turun dan kaget juga melihat Ervita yang mendorong sepeda motornya dengan membawa Indira, ada tas jinjing juga yang ada di motornya. Seketika Bu Tari berpikir bahwa Ervita akan pergi dari rumahnya.


"Mau ke mana? Jangan pergi dari rumah loh Vita," ucap Bu Tari.


Dengan cepat Ervita, menggelengkan kepalanya, "Tidak Bu ... ini jadi mengirim batik ke jasa antar. Soalnya yang biasa ambil paketan ke rumah hari ini libur, jadi Ervita sendiri yang mencari jasa antar. Banyak pembelian masuk dari kemarin Bu. Jadi, Ervita mengirimkan batik kok Bu," jelasnya.


"Terus ini kenapa motornya?" tanya Bu Tari lagi.


"Bannya kempes atau bocor mungkin Bu ... tadi udah jalan mencari tempat tambal ban tidak ada. Jadi, ya sudah, Bu ... ini Ervita mencari tempat tambal ban," jelasnya lagi.


Pandu kemudian menyerahkan kunci mobil kepada Kakak Iparnya, "Mas Damar yang bawa mobilnya yah ... Ervi kamu ikut mobil saja, untuk motor kamu biar aku yang urus," ucap Pandu.


Terlihat Pandu adalah seseorang responsif dan sigap untuk menolong orang yang membutuhkan pertolongan. Namun, Ervita justru menggelengkan kepalanya, "Eh, gak usah Mas ... biar aku saja," balasnya.


Yang satu ingin menolong, yang satunya sungkan karena terus-menerus ditolong. Hingga akhirnya, Bu Tari pun angkat bicara.


"Kalian urus saja sepeda motornya. Indi biar sama Ibu. Kasihan anak kecil diajak panas-panas. Biar Indi main sama Lintang nanti. Sini, Indi ikut Eyang Putri yah?"


Rupanya Indi pun mau, anak kecil yang rambutnya sampai berkeringat karena ikut Bundanya berpanas-panasan itu kini berada di dalam gendongan Bu Tari.


"Ya sudah, Indi biar sama Ibu. Kalian cari tempat tambal ban, sambil beli minum dulu. Yuh, kasihan tow Vi ... makasih banyak yah, untuk mengurus pembelian batik sampai kerja keras," balas Bu Tari.


Sungguh, bagi Bu Tari itu adalah sikap seorang pekerja yang baik. Walau tidak ada juragannya, tetapi Ervita tetap bekerja dengan baik. Lebih dari itu, Ervita bahkan sudah rela panas-panasan sambil mendorong motornya yang bannya bocor.


Keluarga Hadinata pun masuk kembali ke mobil, dan Indira ikut serta di sana. Gendongan dan tas jinjing milik Ervita juga dibawa sekalian oleh Mbak Pertiwi.


"Biar aku yang dorong motor kamu, Vi ...."

__ADS_1


Pandu pun dengan sigap mengambil alih motor Ervita dan mendorongnya. Setidaknya Ervita merasa lega, di saat dia membutuhkan bantuan, ada orang yang dengan tulus mau membantunya.


__ADS_2