Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Meyakinkan Ervita


__ADS_3

Sampai akhirnya acara pernikahan Mei dengan Tanto usai, tetapi Ervita dan keluarga Hadinata masih tinggal di sana. Sementara keluarga Firhan sudah pulang begitu mendengar Pandu dengan tulus mengatakan ingin menikahi Ervita. 


Tentu ini juga menjadi tamparan bagi keluarga Firhan. Jika mereka bisa memandang dengan kacamata yang jernih, bayi sekecil Indira saja seolah tidak ada jalinan sama sekali dengan Firhan, yang jelas-jelas adalah Ayah Biologisnya. Justru, Indira begitu menempel pada Pandu. 


"Didi ayang Yayah," ucap Indira yang berkali-kali sudah mengatakan bahwa dirinya menyayangi Pandu. 


"Iya, Ayah juga sayang Indi," balas dengan masih menggendong gadis kecil itu. 


Begitu tamu sudah pulang, mulailah Pak Hadinata berbicara dengan baik-baik kepada keluarga Bapak Agus. Mengulang lagi niat baiknya untuk bisa menjadikan Ervita sebagai menantunya, menjadi bagian dari keluarga Hadinata. 


"Bagaimana Pak Agus dan keluarga, kami datang ke mari untuk meminta izin. Selama ini Ervita tinggal bersama kami dan kami sangat menyayangi Ervita. Bolehkah jika Pandu meminang Ervita?" tanya Pak Hadinata. 


Jika menilik bibit, bobot, dan bebet, layaknya pandangan orang Jawa, maka Pandu jelas masuk dalam semua kriteria itu. Akan tetapi, Pak Agus pun sadar, selama ini dia bukanlah orang tua yang baik. Dalam waktu hampir tiga tahun, Ervita tinggal dan hidup sendiri. Untuk itu, Ervita yang lebih bisa memutuskan mana yang terbaik baginya.


"Begini Pak Hadinata, sebagai seorang Bapak, saya pun menyadari bahwa dalam waktu hampir tiga tahun ini, saya bukanlah orang tua yang baik. Saya tidak bisa memberikan perlindungan kepada Ervita. Saya emosi kala tahu Ervita berbadan dua dan tidak ada yang bertanggung jawab atasnya. Tentu Pak Hadinata tahu asal usul Indira. Apakah itu tidak masalah bagi Pak Hadinata?" tanya Pak Agus. 


Terlihat Pak Hadinata dan Bu Tari tersenyum di sana, "Tidak, tidak masalah, Pak. Semua orang memiliki masa lalu. Entah itu baik atau tidak. Lagipula, kami sayang dengan Ervita dan Indira. Selain itu, Pandu juga sayang kepada keduanya," balas Pak Hadinata. 


Di kala perbincangan itu tetap berlangsung, Ervita memberanikan diri untuk meminta izin kepada Bapak dan Ibunya untuk bisa berbicara sebentar dengan Pandu. Sehingga sekarang keduanya berbicara bersama, sementara Indira ikut dengan Bu Tari. 


"Mas Pandu, bisa kita bicara sebentar?"


"Ya, tentu bisa," balas Pandu dengan mengikuti Ervita. 


Lantaran di depan juga masih banyak tetangga yang rewangan dan membersihkan sound system. Akhirnya Pandu memutuskan mengajak Ervita ke dalam mobilnya. Bukan di dalam mobil, tetapi Pandu justru melajukan mobil itu dan menghentikannya di depan Institut Seni Indonesia yang ada di area itu. Di depan sebuah gapura kapal, Pandu menghentikan mobilnya dan mempersilakan Ervita untuk berbicara. 


"Silakan berbicara, Ervi … ada apa?" tanyanya. 

__ADS_1


Sejak dari rumah, Ervita hanya diam. Dia menyusun kata-kata dalam otaknya, dan tentu ingin Pandu memberikan klarifikasi kepadanya. 


"Mas Pandu, ini semua hanya main-main kan? Tidak mungkin Mas Pandu ingin menikahi saya," ucapnya dengan melipat kedua telapak tangan tanda seseorang sedang bingung di sana, bahkan Ervita pun menundukkan wajahnya. Tidak berani untuk menatap Pandu yang duduk di sampingnya. 


"Niat hatiku sangat tulus, Vi … aku sudah lama menaruh hati kepadamu dan aku sayang Indi," aku Pandu. 


Bahkan kali ini Pandu mengakui dengan jujur bahwa sudah sejak lama dia menaruh hati kepada Ervita. Hanya saja Pandu tidak menjelaskan secara gamblang kapan waktunya. 


"Mas Pandu jangan gegabah, Mas … aku ini wanita hina, bahkan lebih hina dari janda. Pernah aku berbicara dengan Mas Pandu, Janda yang biasa dipandang tidak baik di masyarakat, mereka setidaknya pernah bersuami. Sementara aku tidak bersuami, tapi aku memiliki anak. Aku ini hina, Mas … mengambilku sebagai istri hanya akan merusak nama baik Hadinata," balas Ervita. 


Apa yang Ervita sampaikan bukan sekadar retorika. Akan tetapi, fakta bahwa dia adalah wanita yang tidak pernah bersuami, tapi pernah melahirkan. Wanita dengan cela dan noda, wanita yang membawa aib seumur hidupnya. Memperistri Ervita tentu akan merusak nama baik keluarga Hadinata. 


"Ada satu jembatan yang bisa menyeberangi semua itu, Vi … jembatan itu bernama cinta. Jembatani di mana aku bisa menyeberangi dan menerima serta memaklumi masa lalumu. Jembatan di mana bisa mengenal kegigihan kamu sebagai Ibu tunggal. Jembatan di mana aku bisa tahu kamu wanita yang berharga dan terhormat. Bahkan jembatan yang bernama cinta itu yang membuatku juga jatuh cinta kepada Indira, anak kamu yang sudah seperti seorang anak bagiku," balas Pandu. 


Diberi pengertian dengan kata-kata seindah ini, tentu saja Ervita merasa senang karenanya. Hanya saja, masa lalu Ervita dan aib yang dia tanggung selamanya akan tetap menjadi cela.


"Kamu pernah berbicara kan, Vi ... supaya aku bisa move on. Mendapatkan jodoh yang tepat. Jodoh itu sudah ada di depan mataku. Jadi, maukah kamu menjadi "sigaring nyawaku" (Separuh nyawa), menjadi pendamping hidupku, dan aku merasa terhormat bisa meminang kamu dan menjadi Ayah untuk Indi," balas Pandu dengan sungguh-sungguh. 


"Aku tidak layak untuk itu, Mas," balas Ervita dengan menitikkan air matanya di sana. 


"Kamu sangat layak, Vi ... hatiku yang memilihmu. Orang tuaku pun datang memberi restu," balas Pandu. 


Dalam air matanya yang menetes, Ervita merasa bahwa semua ini tidak benar. Tidak mungkin seorang Pandu Hadinata mencintai dirinya. Dipandang dari segi mana pun, Ervita kalah dalam hal bibit, bebet, dan bobot. Dia hanya wanita biasa, dengan anak yang lahir karena sebuah kesalahan. Dia juga berasal keluarga sederhana, bukan keluarga kaya raya dan terpandang seperti keluarga Hadinata. Dari segi pendidikan, Ervita juga hanya seorang lulusan SMA, karena putus kuliah di tengah jalan. 


"Jangan banyak berpikir, Vi ... kamu dan Indi layak bahagia. Kita bisa memulai semuanya dari awal dan bersama-sama. Terimalah aku sebagai pendamping hidupmu," pinta Pandu kali ini. 


Ervita masih diam, kepalanya begitu penuh, air matanya pun terus-menerus menetes. Hingga Ervita mengerjap mana kala, Pandu kali ini memberanikan diri menggenggam tangan Ervita di sana. Ya, Pandu menggenggam kedua tangan Ervita, dan mengucapkan kata-kata yang mungkin saja bisa meyakinkan Ervita. 

__ADS_1


"Aku menerima kamu apa adanya Ervita. Kamu dan Indi sangat berharga untuk aku. Aku mencintaimu dan menyayangi Indi. Awalnya, aku juga bingung dengan perasaanku ini. Namun, lambat laun, aku yakin perasaan ini cinta. Aku ingin menjagamu, Vi ... aku ingin kamu bersandar dan menumpukan hidupmu kepadaku. Ervita, kali ini aku memohon dengan tulus, menikahlah denganku, terima pinanganku. Jangan membiarkan orang-orang mencelamu. Kamu juga berhak bahagia," ucap Pandu. 


"Mas Pandu yakin bisa menerima wanita hina beranak satu sepertiku?" tanya Ervita. 


"Di mataku kamu begitu berharga Ervita. Sangat berharga. Tidak berhak kamu menilai dirimu sendiri hina," balas Pandu. 


Ervita menggelengkan kepalanya di sana, "Bahkan jika menikahiku, masa laluku yang buruk akan mengikuti. Kala Indi dewasa nanti kamu tidak bisa menikahkannya karena Mas Pandu bukan muadzinnya. Indi akan tetap menjadi anak tak bernasab. Apakah Mas Pandu rela?" tanyanya. 


"Tidak masalah, Vi ... hanya saja aku bisa memberinya kebahagiaannya, menjadi Ayah yang menggendongnya, menghiburnya, dan menggenggam tangannya sampai aku tua nanti," balas Pandu. 


Pikir Pandu, memberi Indi kebahagiaan jauh lebih penting. Bagaimanapun seorang anak akan jauh lebih bahagia jika memiliki Ayah dan Bunda. Tumbuh kembangnya menjadi lebih baik, dan Pandu memastikan untuk menjaga dan tetap menggandeng tangan Indi. 


"Mas Pandu tidak akan mundur jika mendengar hal buruk tentangku?" 


"Tidak, tidak akan. Seumur hidupku, aku tidak akan mundur," balas Pandu. 


Ervita kian menangis di sana. Tidak menyangka, setelah sekian lama banyak air mata yang Ervita curahkan hari ini. 


"Menikahlah denganku, Ervi ... kumohon," pinta Pandu. 


Ada rasa berkecamuk di dada. Namun, sejenak Ervita berpikir bolehkah dia bermimpi untuk masa depan yang lebih baik dengan Pandu dan Indira? Bolehkah dia mencecap sedikit kebahagiaan dalam hidupnya? 


Hingga akhirnya ada anggukan samar dari kepala Ervita, bibirnya pun bergetar memberikan jawaban kepada Pandu di sana. 


"Ya, aku mau," jawabnya. 


Tak terbendung lagi bagaimana perasaan Pandu kali ini. Pria itu turut menitikkan matanya di sana. Begitu lega kala akhirnya Ervita menerimanya. Pandu pun kian menggenggam erat tangan Ervita. 

__ADS_1


"Makasih, Vi... aku mungkin tidak bisa menjanjikan banyak hal kepadamu. Yang pasti aku akan mencintaimu dengan tulus dan menyayangi Indi sebagai putriku sendiri. Aku akan menjagamu dan tidak akan membiarkan orang-orang itu memandang hina kamu," ucap Pandu. 


Dengan bersedianya Ervita, Pandu merasa lega. Kesendiriannya selama lima tahun, akhirnya akan berakhir kala Pandu Hadinata melabuhkan hatinya pada sosok Ervita. 


__ADS_2