Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Kehidupan yang Baru


__ADS_3

Walau sudah menganggap Indi sebagai anak sendiri, tetapi bisa mendengarkan detak jantung bayi dalam rahim Ervita adalah hal yang baru untuk Pandu. Pria itu sampai menitikkan air matanya, begitu ajaib, bahwa dengan ultrasonolografi atau suara ultra yang berada di peralatan medis itu bisa membuatnya memantau tumbuh kembang janinnya, dan juga mendengarnya detak jantung bayinya. Ini adalah hal yang baru dan sangat berkesan untuk Pandu.


“Dulu Didi juga seperti itu Yayah?” tanya Indi lagi kepada Ayahnya.


Pandu pun menganggukkan kepalanya, “Iya, dulu Mbak Didi juga seperti itu, makanya adiknya juga,” balasnya.


“Yayah juga nangis?” tanya Indi lagi.


Ini adalah pertanyaan yang sukar dijawab oleh Pandu. Sebab, ketika Ervita mengandung Indi dulu, dia tidak pernah mengantarkan Ervita untuk memeriksakan kehamilannya. Akan tetapi, dia selalu mendengarkan setiap kali Ervita bercerita kepada Bu Tari dan menunjukkan foto hasil USG-nya. Kala itu, ada kalanya Pandu turut mendengarkan dan di dalam hatinya dia juga merasa senang jika bayi di dalam kandungan Ervita tumbuh dengan sehat.


“Waktu kamu lahir, dan mendengarkan tangisan kamu, Yayah juga menangis,” jawab Pandu.


Dari pertanyaan anak kecil, dan bisa saja jawabannya bisa ya atau tidak. Akan tetapi, Pandu tidak ingin membohongi Indira. Dia mengalihkan dengan momen yang lain di mana Pandu pun menitikkan air matanya kala mendengarkan tangisan bayi ketika Ervita melahirkan Indi. Selain itu, Pandu juga turun meneteskan air matanya, ketika dia mengadzani Indi begitu dia dilahirkan.


Indi yang duduk di pangkuan Pandu pun beringsut, dan dia memeluk Ayahnya di sana, “Didi sayang Yayah,” ucapnya dengan tangan kecilnya yang melingkari leher sang Ayah.


Pandu menganggukkan kepalanya dan mengusapi puncak kepala Indira di sana, “Makasih Nak … Yayah juga sayang Didi,” balasnya.


Sementara itu di brankar, Dokter Arsy mulai menunjukkan bagian-bagian tubuh bayi kepada Ervita. “Jadi ini kepalanya ya Bu … ini bagian mata, hidung, bibirnya, ini tangan dan kakinya. Jika dalam fase ini seluruh organ di dalam tubuh bayi sudah berkembang Ibu, dia hanya perlu terus berkembang. Kalau sebelumnya di pemeriksaan dulu hanya terlihat embrio, layaknya titik kecil saja. Sekarang, Ibu sudah bisa melihat semuanya,” jelas Dokter Arsy.


“Melihat kehidupan baru yang masih dan akan terus berkembang luar biasa sekali ya Dok.” balas Ervita.


“Benar Ibu … atau Ibu ingin sekalian melihat jenis kelaminnya?” tawar Dokter Arsy kemudian.


“Apa sudah bisa terlihat Dokter?” tanya Ervita kemudian.

__ADS_1


“Sudah, karena sekarang posisi bayinya Bu Ervita juga sedang bagus, sehingga memang terbuka dan bisa dilihat,” balas Dokter Arsy.


Ervita pun melihat suaminya dan meminta saran apakah suaminya itu ingin mengetahui jenis kelamin bayinya, “Yayah mau tahu jenis kelaminannya adik bayi enggak?” tanya Ervita kemudian.


Pandu tampak diam dan kemudian barulah memberikan jawaban, “Tidak usah dulu saja Dokter … kami berdua pengennya penasaran sampai waktunya persalinan nanti,” jawab Pandu.


Akhirnya Pandu sudah memberikan jawabannya bahwa dia justru ingin penasaran sampai hari persalinan nanti. Mendampingi Ervita bersalin dan juga menunggu anaknya berjenis kelamin laki-laki dan wanita. Tentu akan menambah kejutan di hari persalinan nanti.


Tampak Dokter Arsy pun tersenyum, “Oke, baiklah … biar lebih deg-degan ya Pak Pandu,” balasnya.


"Iya Dokter, biar nanti kejutannya double," balas Pandu.


Begitu pemeriksaan dengan USG selesai, ada perawat yang membersihkan sisa-sisa USG gell di perut Ervita dan juga Dokter Arsy mengeprintkan foto hasil USG. Pandu pun berdiri dan membantu Ervita untuk turun dari brankar. Kemudian keduanya sama-sama duduk di depan meja Dokter Arsy.


Dokter Arsy memberikan penjelasan dengan begitu detail, dan tentu ini ilmu baru juga untuk Ervita dan Pandu. Walau bukan kehamilan yang pertama, tetapi ilmu dan informasi yang diberikan selalu baru.


"Pemeriksaan selanjutnya bulan depan ya Bu," ucap Dokter Arsy yang kemudian menyerahkan foto USG dan juga resep berupa Asam Folat yang harus diminum rutin dan juga kalsium.


Keduanya pun berpamitan, dan Pandu juga menebus resep dulu dan membayar administrasi. Barulah mereka pulang ke rumah.


"Indi mengantuk?" tanya Ervita dalam perjalanan pulang dari Rumah Sakit menuju ke rumah.


"Iya Bunda, mengantuk," balas Indi.


"Sabar yah, ini sudah mau sampai ke rumah," balas Ervita lagi.

__ADS_1


Akan tetapi, kantuk di mata Indi sudah tidak bisa ditahan. Sehingga, dia sudah tertidur. Pandu pun yang melihat Indi sudah tertidur pun tersenyum.


"Sudah tidur, Nda ... lucu banget sih Didi," ucap Pandu kemudian.


"Kalian tadi ngapain Mas? Sweet banget sih sama Didi," balas Ervita.


"Oh, Indi nanyain Yayah nangis juga enggak waktu Indi dulu? Ya aku jawab Yayah menangis waktu Bunda melahirkan kamu dan mendengarkan tangisanmu. Kalau waktu pemeriksaan Indi kan aku tidak tahu, Nda. Cuma kan untuk persalinan, aku turut menunggu walau di luar," balasnya.


"Kamu bukan hanya menunggui Mas ... tapi juga membayari biaya persalinanku," jawab Ervita.


"Ya, karena aku sayang kepada kalian berdua. Lagipula, persalinan normal tanpa asuransi mahal, Nda ... segitu habisnya, walau banyak pembaca tidak percaya bahwa persalinan normal tanpa asuransi kesehatan di Jogja itu di kisaran Delapan Juta Rupiah. Di klinik bersalin saja kalau bagus sudah mendekati Lima Juta Rupiah. Kalau di Rumah Sakit yang bagus dan layanan kamar VIP bisa belasan juta," jelas Pandu.


"Iya Mas ... memang mahal. Yang murah di Bidan kali ya Mas?" tanyanya.


"Iya, mungkin, Nda ... cuma besok tidak usah berpikir, Nda ... sepenuhnya kamu adalah tanggung jawabku. Mau persalinan ya sudah bersalin saja, tidak usah memikirkan apa-apa. Yang pasti aku siap tanggung jawab penuh sama kamu," balasnya.


Ervita pun tersenyum, "Makasih Mas Pandu ... kamu super tanggung jawab banget," balasnya.


"Aku senang, Nda ... kehidupan baru yang kini sedang dan akan terus di rahim kamu tumbuh sehat. Aku terharu banget bisa mendengarkan detak jantungnya tadi. Aku hanya menikmati momennya Dinda. Yang pasti di hatiku, aku tetap sayang Indi. Tidak akan membeda-bedakan keduanya," balas Pandu.


Ervita pun menganggukkan kepalanya, "Iya, aku tahu dan percaya bahwa kamu tidak akan membeda-bedakan anak sambung dan anak kandung," balas Ervita.


"Makasih kepercayaannya, Nda ... biar hidupku sehari-hari yang jadi bukti bahwa aku sayang Indi," balas Pandu.


Di dalam hal ini Pandu hanya ingin menegaskan bahwa yang dia lakukan adalah menikmati momen. Sebab, bagaimana pun mendengarkan detak jantung bayi, melihat tumbuh kembang bayi dengan pemeriksaan USG adalah hal yang baru bagi Pandu. Namun, di dalam hatinya, Pandu yakin bahwa kasih sayangnya tak akan memudar. Indi tetap adalah anak pertamanya dan disayanginya.

__ADS_1


__ADS_2