Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Yayah Kembali Bekerja


__ADS_3

Tidak terasa, satu minggu sudah berlalu. Hari ini, Pandu akan kembali bekerja. Itu juga karena Ervita beberapa kali meminta suaminya untuk bekerja, karena Ervita sendiri merasa dirinya sudah semakin sehat.


"Seriusan nih, hari ini aku bekerja loh, Nda," ucap Pandu kepada istrinya pagi itu.


"Iya, Mas ... bekerja saja. Aku enggak apa-apa kok, kan kadang Indi juga main di rumah Eyangnya. Jadi, aman," balas Ervita.


Pandu pun menganggukkan kepalanya. "Ya sudah, nanti aku juga akan pulang jam dua siang, Nda. Jadi, setelahnya, bisa membantu kamu lagi untuk mengurus Indi dan Irene," balasnya.


"Iya, Mas Pandu ... yang penting fokus bekerja dulu," balasnya.


"Iya, kalau itu pasti, Dinda. Ya sudah, nanti kalau kerepotan ngurus dua anak, minta tolong Ibu untuk bantuin dulu aja, Dinda. Jujur, aku justru khawatir deh sama kamu," balasnya.


Ervita kembali tersenyum karena memang dia merasa diperhatikan oleh suaminya. Dia sangat yakin cara pria menunjukkan cinta dan perhatiannya bisa melalui banyak cara, salah satunya adalah Pandu yang sekarang mengkhawatirkan Ervita.


"Iya Mas, nanti kalau aku butuh bantuan, aku akan meminta tolong Ibu. Toh, aku juga enggak masak loh, Mas. Sama Ibu belum boleh masak sendiri, jadi ya aku banyak longgarnya," balas Ervita.


"Intinya, dinikmati ya Dinda. Yang penting kalau memang capek ya istirahat. Tidak usah terlalu difolsir, manusia kan memiliki batas sendiri. Kalau capek ya istirahat, tidak usah dipaksakan," balas Pandu.


Sampai akhirnya, pria itu kini bersiap dan hendak berangkat ke kantor konsultansi desain interior miliknya. Kemudian, Ervita pun mengantarkan suaminya sampai ke depan rumah, dengan menggendong Irene dan menggandeng tangan Indi.


"Yayah bekerja dulu ya Mbak Didi ... nanti bantuin Bunda ya, Mbak Didi," pesan dari Ayah Pandu.


"Iya Yayah ... Dada Yayah, nanti kalau Yayah udah pulang, main lagi yah," balas Indi.


Pandu pun menganggukkan kepalanya. "Tentu Putrinya Yayah ... nanti main lagi sama Yayah kalau Yayah sudah pulang kerja yah."


Sampai pada akhirnya, Pandu benar-benar berangkat bekerja. Sementara Ervita dengan kedua anaknya akhirnya memilih untuk kembali masuk ke dalam rumah. Memang ini adalah kali pertama bagi Ervita berada di rumah sendiri dengan Indi dan Irene.


"Nda, kalau Yayah pulang nanti, Didi mau main Little Pony sama Yayahnya," ucapnya.

__ADS_1


Ervita tersenyum. Bukankah Indi begitu lucu. Baru lima menit, Ayahnya berangkat bekerja, dan Indi sudah mengharap Ayahnya bisa pulang karena ingin bermain dengan Ayahnya. Namun, Ervita tidak marah. Alih-alih marah, lebih baik Ervita memberikan penjelasan kepada Indi.


"Kan Yayah baru saja berangkat. Jadi Yayah pulangnya nanti sore loh Mbak Didi. Mbak Didi main aja, sambil Bunda jagain Adik, enggak apa-apa kok," balas Ervita.


"Nda, katanya Mbak Lintang. Kalau bermain nanti bisa berisik dan Adik Bayinya bisa menangis. Kalau Didi berisik dan membuat Adik Iyene menangis gimana?" tanyanya.


Ervita kembali tersenyum. Rupanya, putrinya itu sudah tahu bahwa ketika bermain dan berisik bisa mengganggu adik bayinya. Itu juga karena Lintang juga sering bermain dengan Indi.


"Kalau tidak berisik, Adiknya enggak nangis kok, Sayang," balas Ervita.


"Ya sudah, Didi main di sini ya, Nda. Didi enggak. berisik kok, biar Adiknya bisa bobok," balasnya.


Kali ini, Ervita tersenyum karena Indi sudah memiliki pengertian dengan adiknya. Bahkan berjanji tidak berisik supaya adiknya tidak menangis. Tentu ini adalah sikap yang baik dari seorang kakak.


Setengah jam kemudian, rupanya Ervita mendapatkan pesan dari suaminya. Sehingga, Ervita melihat terlebih dahulu pesan-pesan yang dikirimkan suaminya itu.


[Dinda, ini aku sudah tiba di kantor.]


[Gimana, Irene nangis enggak? Didi bisa kooperatif tidak?]


[Ingat pesanku tadi yah, kalau butuh bantuan langsung telepon Ibu saja.]


[Yayah kerja cari Rupiah dulu yah. Nanti siang, aku pulang.]


[I Love U, Nda.]


Membaca deretan pesan dari suaminya, Ervita tersenyum. Rupanya suaminya itu masih saja mengkhawatirkan dirinya dan anak-anak. Namun, memang sejauh ini kondisi rumah masih kondusif dan kedua anaknya bisa ditangani dengan baik.


Sampai akhirnya, datanglah Bu Tari dan Lintang ke rumah mereka. Seperti biasa, Bu Tari dengan membawakan sayuran dan lauk-pauk untuk Ervita dan Indi.

__ADS_1


"Baru ngapain, Vi?" tanya Bu Tari. begitu memasuki rumah Ervita.


"Ini, Bu. Nemenin Indi bermain sambil jagain Irene," balasnya.


"Pandu sudah bekerja?" tanya Bu Tari lagi.


Dengan cepat Ervita pun menganggukkan kepalanya. "Iya, Mas Pandu sudah kembali bekerja tadi, Bu. Sudah normal sekarang, Bu," balas Ervita.


"Kalau Pandu bekerja, ke rumahnya Ibu aja, Vi. Anak-anak diasuh di sana. Kalau kamu capek kan ada kamarnya Pandu yang bisa dipakai. Daripada di rumah sendirian nanti capek," ucap Bu Tari.


"Tidak apa-apa, Bu. Kan Ervita juga belajar lagi, nanti lama-lama juga terbiasa. Lagipula, Mas Pandu bekerja juga cuma sampai jam 14.00 siang. Terhitung cepat bekerjanya, Bu," balas Ervita.


Bu Tari kemudian menganggukkan kepalanya. "Kamu tidak pernah berubah, Vi. Dari dulu, sebisa mungkin semua kamu kerjakan sendiri. Berusaha mandiri. Padahal kalau butuh apa pun tinggal bilang ke Ibu. Jangan sungkan, kamu itu sudah jadi anaknya Ibu."


"Justru Ervi yang berterima kasih, Bu. Sudah selalu merepotkan Ibu. Sudah dibantu banyak sama Ibu. Terima kasih banyak, Bu," balas Ervita.


Bagaimana pun, Ervita akan selalu ingat bahwa Bu Tari dan Bapak Hadinata yang sekarang menjadi mertuanya adalah orang-orang yang sangat berjasa untuknya. Sejak kedatangannya ke Jogjakarta, sebagai orang asing dan perantau, tapi justru diberi pekerjaan. Ketika melahirkan Indi pun juga dibantu, tidak hanya itu Ervita juga menumpang hidup di rumah kecil, satu area dengan rumah besar keluarga Hadinata. Sekarang, Ervita diterima baik sebagai menantu. Sungguh, Ervita akan selalu mengingatnya.


"Sama-sama, Vi ... orang hidup itu tulung-tinulung, saling tolong-menolong. Ibu dan Bapak bisa sampai sekarang karena pertolongan banyak orang. Intinya jangan bosan untuk menolong orang lain," balas Bu Tari.


Sungguh, nasihat yang begitu bijak dari Bu Tari untuk tidak bosan berbuat baik dan menolong orang lain. Menolong yang mereka butuhkan. Bukan hanya yang sifatnya material, tapi juga non-material.


"Amin, semoga kami sekeluarga bisa Meneladani Bapak dan Ibu, serta mengamalkannya," balas Ervita.


"Ya, yang bagus dipakai. Yang enggak bagus dari Bapak dan Ibu, ditinggal saja. Hidup itu berkah, jika bermanfaat untuk orang lain, Vi," nasihat Bu Tari lagi.


Sungguh luar biasa. Ervita dikelilingi oleh keluarga yang baik. Memiliki tutur kata, cara berpikir, dan tindakan yang baik. Keluarga yang mengajarkan untuk membagi hidup, agar bermanfaat untuk orang lain.


Happy Reading🄰

__ADS_1


__ADS_2