
Sekarang keluarga besar Hadinata berkumpul dan hendak melakukan acara Punggahan. Punggahan sendiri adalah tradisi menyambut datangnya Ramadhan yang dumumnya dilakukan di akhir bulan Syaban, sekitar satu minggu atau paling lambat satu atau dua hari menjelang datangnya bulan Ramadhan. Di kawasan Jawa Barat, Punggahan disebut dengan Munggahan.
Bentuk pelaksaan Punggahan sendiri memang bervariasi. Namun, umumnya kegiatan ini dilakukan dengan cara makan bersama keluarga, saling bermaaf-maafan, sholat bersama, dan juga bersedekah. Secara filosifis, Punggahan adalah prosesi menyambut bulan puasa yang penuh kemuliaan, sehingga umat Muslim akan merasa bahagia dan dinaikkan derajatnya.
Sama seperti biasa, di Pendhopo milik Bu Tari dan Pak Hadinata sekarang ini sudah dibuat layakan bancakan. Yaitu aneka sayuran yang direbus seperti Daun Keningkir, Kangkung, Wortel, ada juga Irisan Mentimun, Kecambah yang disajikan dengan Sambal Kelapa. Untuk pelengkap lauknya ada Ayam Goreng, Telor Rebus, hingga Ikan Asin.
"Yuk, makan bersama yuk ... sana yang muda-muda makan dulu," ucap Bu Tari.
Memang begitulah Bu Tari, ketika membuat acara kumpul bersama anak-anak akan dipersilakan makan terlebih dahulu. Sementara dia bisa mengasuh cucu-cucunya yang masih kecil. Layaknya peribahasa dalam bahasa Jawa orang tua akan memberi makan anak-anaknya, karena itu anak-anak dipersilakan makan terlebih dahulu.
"Bapak dan Ibu dulu saja," ucap Pertiwi.
"Tidak apa-apa," balas Bu Tari dan Pak Hadinata bersamaan.
"Makan bersama-sama saja, Bu ... anak-anak nitip ke Mbaknya dulu saja," balas Pertiwi.
Akhirnya, Langit dan Irene dititipkan dulu kepada pembantu di rumah keluarga Hadinata terlebih dahulu. Kemudian barulah seluruh keluarga menikmati makan bersama. Benar-benar Punggahan, karena mereka sengaja makan dengan mengenakan daun pisang yang dibuat pincuk dengan Gudangan dan juga aneka lauk yang sangat enak.
"Punggahan tahun ini ada Pertiwi dan Damar," ucap Pak Hadinata.
Rasanya keluarga Hadinata juga bersyukur. Dulu, Pertiwi dan Damar masih berada di Bandar Lampung. Sekarang, seluruh keluarga bisa berkumpul bersama.
"Iya, Bapak ... dulu kami masih berada di Lampung," balas Damar.
__ADS_1
"Seneng Bapak iku kalau anak-anak dan cucu bisa kumpul. Bisa sering ketemu. Orang tua bisa ketemu anak dan cucu itu sudah seneng banget," balas Pak Hadinata.
"Tambah anak lagi, tidak apa-apa," ucap Bu Tari sekarang.
Ervita dan Pertiwi saling pandang dan tertawa. Sebenarnya memang Pertiwi dan Ervita sendiri sudah memasang kontrasepsi. Memang berniat untuk mencegah kehamilan. Langit sudah berusia 2 tahun, dan Irene juga tidak lama lagi akan berusia 2 tahun.
"Tambah satu-satu lagi yah," ucap Bu Tari.
"Sudah dua saja nggih, Bu," ucap Ervita. Memang semula dia dan Pandu berniat hanya dua anak saja sudah cukup.
"Kamu yang tambah saja, Vi ... masih muda," sahut Pertiwi. Ya, menurut Pertiwi sekarang Ervita masih muda. Usianya masih belum menginjak 30 tahun. Oleh karena itu, masih muda dan bisa untuk melahirkan lagi. Sementara Pertiwi sendiri sekarang sudah berusia 32 tahun. Rasanya, sudah merasa tua untuk hamil dan memiliki anak lagi.
Di sana Pandu dan Damar juga hanya senyam-senyum saja. Ketika orang tua meminta tambah anak itu, juga sebenarnya senang. Namun, di satu sisi juga kasihan kepada istri-istri mereka.
"Semangat apa Mas? Kan bukan lomba 17an," balas Pandu dengan tertawa.
Pak Hadinata yang mendengarkan perkataan anak-anak dan menantunya pun tertawa. "Pandu aja ya, Ndu ... sapa tahu punya anak cowok. Bisa jagain mbak-mbaknya nanti," ucap Pak Hadinata.
Pandu kemudian berbicara kepada Ervita. "Buka pabrik lagi, Nda?" tanyanya.
Ervita hanya terkekeh saja. Tidak memberikan jawaban kepada suaminya. Kemudian barulah Ervita kembali berbicara.
"Barengan lagi aja yuk Mbak ... dulu Langit dan Irene kan juga hampir barengan. Nanti lagi," balas Ervita.
__ADS_1
"Beneran enggak?" tanya Pertiwi kepada Ervita.
"Kalau Mbak Pertiwi mau ya enggak apa-apa. Namun, setengah tahun lagi, biar Irene lepas ASI dulu," balas Ervita.
Pandu kemudian tersenyum dan berbicara. "Yes, buka pabrik," ucapnya.
Apa yang diucapkan Pandu membuat semua keluarga benar-benar tertawa. Rupanya Pandu sendiri memang masih semangat. Secara usia Ervita juga masih muda. Sehingga masih kuat andai saja hendak melahirkan secara normal. Kendati demikian, keluarga juga akan mendukung apa pun nanti metode persalinan yang dipilih.
"Tuh, semangat kan Pandu. Enggak ada yang sesemangat Pandu kok," balas Damar dengan tertawa.
"Bapak dan Ibu sih dukung saja. Pasti mendukung. Pasti bantuin ngasuh cucu-cucu nanti," balas Bu Tari.
"Ya, sapa tahu nanti terakhir dikasih anak laki-laki," ucap Pak Hadinata.
Mungkin Pak Hadinata berpikir bahwa cucunya yang laki-laki baru Langit. Jika, Pandu dan Ervita menambah momongan lagi, berharapnya diberi anak laki-laki. Walau sejatinya mau laki-laki atau perempuan sama saja.
"Sehabis ini sholat bersama dan diimami Bapak nggih," ucap Pandu kemudian.
Semua itu rasanya Punggahan tidak lengkap jika ditutup dengan Sholat bersama. Dipimpin oleh Bapaknya. Oleh karena itu, Pandu ingin mengakhiri Punggahan dengan sholat bersama. Semua yang ada di sana pun menganggukkan kepalanya.
Usai makan bersama. Mereka mengambil wudhu, dan kemudian Pak Hadinata memimpin mereka untuk Sholat bersama. Sangat khusuk untuk berdoa di akhir malam Syaban. Sembari meminta berkah dari Allah untuk bisa menjalani puasa di bulan Ramadhan nanti dengan lancar dan mendapatkan pahala yang sempurna.
Selain itu, semuanya juga saling meminta maaf. Layaknya tradisi sungkeman di hari raya. Pertiwi, Damar, Ervita, dan Pandu meminta maaf kepada orang tuanya secara bergantian. Semoga restu orang tua selalu menyertai mereka, mendatangkan berkah dan rejeki untuk anak-anaknya.
__ADS_1
Selamat menjalankan ibadah puasa untuk seluruh pembaca yang menjalankannya. Ramadhan Kareem. 💚💚