Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Nasi Liwet


__ADS_3

Duduk di trotoar dengan menempati kursi-kursi plastik di sana, Pandu tampak begitu lahap menyantap Jenang Tumpang Koyor yang menurutnya begitu enak itu. Sementara Ervita yang memang tidak menyukai Tumpang, memilih untuk memesan Bubur Ayam yang juga dijual di sekitaran tempat itu. Sembari melihat orang-orang yang berolahraga atau sepeda motor yang berlalu lalang.


"Lahap banget, Mas ... enak banget yah?" tanya Ervita dengan melirik suaminya itu.


"Iya, enak banget. Mau? Aku suapin dikit," balas Pandu yang sudah mengangkat satu sendok dan juga hendak menyuapi Ervita yang duduk di sampingnya.


Akan tetapi, Ervita dengan cepat menggelengkan kepalanya, "Enggak ... aku enggak mau. Gak suka Tumpang, Mas. Kalau dipaksa makan malahan mual nanti," balasnya.


Pandu pun menganggukkan kepalanya dan kemudian melanjutkan sarapannya, "Iya, tidak usah dipaksa. Menikah denganku, bukan berarti harus mengikuti apa yang aku mau. Yang kamu suka ya gak apa-apa, yang tidak suka ya tidak apa-apa," balas Pandu di sana.


"Maaf, cuma memang aku sejak dulu gak suka aja sih Mas. Baunya aneh," balasnya.


"Iya Dindaku ... selera kan tiap orang beda-beda. Tadi kamu lihat fansmu, Nda?" tanya Pandu kemudian.


Ervita pun melirik suaminya itu, "Fans dari Hongkong, Mas?" tanyanya.


Lantas, Pandu pun terkekeh geli, "Perasaan tadi dia mengantri loh, Nda ... tiba-tiba enggak ada," balas Pandu.


"Mungkin nervous lihat kamu kali, Mas," balas Ervita.


"Emangnya aku kenapa?" tanyanya.


Ervita pun melirik suaminya itu, "Kamu cakep, lembut, dan keren gini ... lebih dari itu, hatimu itu baik banget," balasnya.


Pandu pun mengulum senyuman di sudut bibirnya, "Duh, Nda ... kalau muji jangan terang-terangan nanti aku makin besar kepala loh, bisa-bisa helm-nya tidak muat di kepalaku."


Ervita terkekeh geli dengan suaminya itu. Bagaimana pun pandangannya terhadap Pandu memang seperti itu. Suaminya itu tampan, baik, dan tentunya hatinya begitu baik, besar, dan lapang.

__ADS_1


"Dihabiskan, Nda ... sebentar aku pesankan dibungkus untuk Bapak dan Ibu yah," balasnya.


"Tuh sama mertua aja baik banget loh," balas Ervita.


Pandu perlahan menggelengkan kepalanya, "Bapak dan Ibu itu bukan mertua, Nda ... tapi juga Bapak dan Ibuku. Mei dan Tanto juga adik-adikku. Sebentar ya Dinda," balasnya.


Menunggu suaminya yang memesan makanan untuk dibungkus sebagai buah tangan untuk Bapak dan Ibu di rumah. Ervita memilih menghabiskan Bubur Ayam miliknya, dan juga mengamati sepeda motor yang berlalu-lalang di sana. Tidak terlalu lama, Pandu sudah kembali dengan membawa kantong plastik berisi Jenang Tumpang dan ada Nasi Kuning yang dia beli untuk Indi.


"Sudah yuk," ajaknya.


Akhirnya, mereka menyudahi membeli sarapan di depan kampus itu, dan kemudian memilih untuk pulang. Hingga akhirnya mereka sudah sampai di rumah, dan Ervita memberikan buah tangan itu untuk keluarganya di rumah. Setelahnya, Ervita memandikan Indi dan juga menyuapi putrinya itu dengan Nasi Kuning yang sudah dia beli.


Menghabiskan siang hari di Solo, sampai sore barulah mereka berpamitan untuk pulang kembali ke Jogja. Tampak Bu Sri yang sudah berkaca-kaca di sana.


"Sehat-sehat ya Vi ... dulu kamu hamil Indi, Bapak dan Ibu tidak bisa mengurus kamu, dan sekarang pun begitu," ucapnya.


Pandu pun menganggukkan kepalanya, "Benar Ibu ... Pandu akan menjaga Ervi dengan baik. Nanti waktu Mitoni, Bapak dan Ibu rawuh ke Jogja nggih," ucapnya.


"Iya Mas Pandu ... hati-hati yah," balas Bu Sri.


Setelahnya Pandu, Ervita, dan Indi berpamitan dan kemudian mereka mulai meninggalkan rumah Ervita. Menuruti keinginan dari Ervita, kali ini Pandu menghentikan mobilnya di area Solo Baru, tempat yang terkenal dengan Nasi Liwet Yu Sani yang berada di perbatasan Solo dengan Kabupaten Sukoharjo.


"Nasi Liwet kan Nda?"


"Iya Ayah ... mau, pakai Usus Ayam yah," pintanya.


Mereka pun menepi di bahu jalan, dan duduk beralaskan tikar di warung tenda itu. Walau memang warungnya hanya menggunakan tenda, untuk cita rasa tidak bisa diragukan. Tidak jarang para pemburu kuliner akan mencicipi kuliner khas Solo yang bernama Nasi Liwet ini.

__ADS_1


Nasi Liwet atau orang Jawa biasanya menyebutnya Sega Liwet adalah hidang nasi khas Indonesia yang dimasak dengan santan, kaldu ayam, dan rempah-rempah seperti Daun Salam, Serei. Ketika dimakan akan menghasilkan rasa yang gurih dan aroimatik. Biasanya Nasi Liwet disajikan dengan Sambal Goreng Jepan dan suiran daging ayam dan telor rebus.


"Makan apa lagi Nda?" tanya Indi kepada Bundanya itu.


"Iya Mbak Didi ... Bunda pengen Sega Liwet, Didi mau?" tanyanya.


"Pedes enggak Bunda?" tanyanya.


"Mau dipesankan yang tidak memakai sayurnya? Jadi, nasinya saja?"


Indi pun menganggukkan kepalanya, "Boleh Nda, pake telor ayam ya Nda," pintanya.


Akhirnya, Pandu pun memesankan Nasi Liwet tanpa menggunakan Sambal Goreng utnuk Indi. Terlihat Ervita begitu lahap sekali menikmati Sega Liwet itu.


"Nda, di atas telor ini ada putih-putihnya, Nda," ucap Indi dengan menunjuk putih-putih yang ada di atas telor rebus di Nasi Liwet itu.


"Oh, ini namanya Kumut atau Areh, Mbak Didik ... terbuat dari kuah santan yang dikentalkan. Enak kok. Gurih rasanya," ucap Ervita.


Perlahan Indi pun mencobanya dan setelahnya mengangguk-anggukkan kepalanya, "Hmm, iya ... enak, Nda," balasnya.


Pandu pun tersenyum, "Negara kita ini punya aneka kuliner yang enak, Didi ... di Jogja ada Gudeg, di Solo ada Nasi Liwet, ada juga masakan lainnya yang kaya rasa dan nikmat," balasnya.


"Kapan-kapan kulineran ya Yayah," balasnya.


Pandu pun perlahan menganggukkan kepalanya, "Boleh Mbak Didi. Suka ya sama makanannya?" tanya Pandu kemudian.


"Hu-um, Yah ... enak banget. Pancen Top," balas Indi dengan ekspresinya yang menggemaskan.

__ADS_1


__ADS_2