Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Ketika Hamil Memang Butuh Suami


__ADS_3

Ketika malam hari tiba, giliran Pandu dan Ervita yang menikmati waktu bersama. Lagipula, baru jam 20.00 malam dan Indira sudah tertidur. Oleh karena itu, waktunya me time untuk Ayah Pandu dan Bunda Ervi. Keduanya tampak menikmati malam bersama, dengan obrolan hangat antara keduanya.


"Besok bakalan jemput Mas Damar ya Mas?" tanya Ervi kepada suaminya.


"Iya, mau ikutan?" tanyanya.


"Enggak usah, aku di rumah saja, Mas. Sekarang juga rasanya pinggangku kayak encok gitu kalau kelamaan duduk. Aku di rumah saja, boleh?" tanya Ervita.


Pandu kemudian menatap istrinya itu. "Pegal ya rasanya? Dulu waktu hamil Indi juga rasanya begitu?" tanyanya.


"Iya, pegal-pegal gitu sih Mas. Boleh enggak aku di rumah aja?" tanya Ervita lagi.


"Sebenarnya aku sih maunya kamu ikut, Nda. Kalau enggak ada kamu itu, aku rasanya gak semangat. Namun, mengingat kehamilan kamu yang semakin besar, rasanya aku juga tidak tega. Gimana yah?" tanya Pandu dengan bimbang.


"Ya sudah ... dijemput dulu saja, Mas. Nanti kalau udah pulang ke rumah, temenin yah," balas Ervita.


"Kalau ditemenin, maunya ngapain?" tanya Pandu dengan merangkul istrinya itu.


"Dipeluk aja Mas ... rasanya seneng deket-deket kamu. Jangan-jangan baby kita cewek ya Mas? Kok aku jadi suka banget nempelin kamu kayak gini. Katanya sih kalau hamil anak cewek, ibunya bakalan lebih manja dan juga lebih nempel dengan ayahnya. Kelihatannya gitu deh," ucap Ervita.


"Babynya mau cowok atau cewek, aku sih gak keberatan, Dinda. Asalkan itu yang jadi ibunya kamu saja. Aku udah cinta mati sama kamu, Nda," balas Pandu.


Mendengarkan jawaban dari suaminya. Ervita pun segera menatap wajah suaminya itu. "Kok bisa?" tanya Ervita.


"Iya, aku itu susah untuk jatuh cinta. Namun, begitu sudah jatuh cinta ya akan sungguh-sungguh dan serius. Seluruh hatiku akan kuberikan. Wanita yang beruntung untuk mengisi seluruh hatiku adalah kamu, Dinda," balas Pandu.


Bukan sekadar bualan semata, tetapi memang Pandu merasa sekarang seluruh hatinya sudah terisi oleh Ervita. Tidak ada lagi yang lain. Pandu merasakan jatuh cinta dan itu kepada istrinya.

__ADS_1


"Ah, kamu sweet banget sih Mas. Sweetnya kamu melebihi Gula Jawa," balas Ervita sekarang.


"Kok gula jawa, Nda?" tanyanya.


"Lha kan kamu dari Jawa. Jadinya Gula jawa. Masak gula tebu?" balas Ervita dengan terkekeh geli. Itu memang dirinya baru ingin bercanda dengan suaminya. Walau, Ervita tahu bahwa candaannya itu garing.


"Iya, besok abis jemput Mas Damar, aku akan pulang dan kekepin kamu seharian," balasnya.


"Makasih Mas Pandu ... aku merasa diperhatikan dan dicintai. Untuk ibu hamil kasih sayang dari kamu ini bisa meningkat moodku. Kamu mood booster buatku," ucap Ervita.


"Sama-sama Dinda," balas Pandu dengan mengeratkan pelukannya.


***


Keesokan harinya ....


Menjelang siang, Pandu berpamitan untuk menjemput Kakak iparnya di Bandara Internasional Jogjakarta. Yang turut serta dengan Pandu siang itu adakah Pertiwi bersama Lintang dan Indi. Sebenarnya, Ervita meminta Indi di rumah saja menemaninya. Akan tetapi, dia meminta untuk ikut dengan Ayahnya.


"Kalau mengangkat galon, berat banget. Takut kenapa-napa sama perut dan pinggangku nanti. Di saat kayak gini beneran deh butuh suami banget," gumam Ervita dalam hati.


Memang rasanya butuh suaminya. Terkhusus untuk pekerjaan rumah yang tidak bisa dia lakukan seperti mengangkat galon dan juga mengangkat gas berukuran besar. Hingga akhirnya Ervita memilih menunggu suaminya pulang. Sementara untuk minum, Ervita memilih membeli di mini market terlebih dahulu.


Ternyata suaminya itu pulang baru menjelang sore, dan Indi masih tertahan di rumah Eyangnya karena masih ingin bermain dengan Lintang. Sementara Ervita rebahan di kamar dengan membaca novel online di handphonenya.


"Dinda," sapa Pandu begitu pria itu memasuki kamarnya.


"Hm, ya Mas ... kok baru pulang sih Mas? Lama banget," tanyanya.

__ADS_1


Pandu pun menganggukkan kepalanya. "Iya, tadi mampir makan siang sekalian," balasnya.


"Aku nungguin," balas Ervita.


Di dalam hatinya, Pandu tersenyum karena memang istrinya itu rasanya kian manja. Hingga akhirnya, Pandu memeluk istrinya itu.


"Kangen?" tanya Pandu.


"Butuh bantuan, Mas," balas Ervita.


Wanita hamil itu kemudian turun dari ranjang, dan mengajak Pandu menuju ke dapur. Di sana, dia menunjukkan galon air mineral yang belum dia pasang ke dispenser karena memang Ervita tidak kuat untuk mengangkat galon air mineral itu.


"Aku haus tadi, tapi airnya habis. Terus gak kuat untuk mengangkatnya. Lagipula, ibu hamil kan tidak boleh angkat yang berat. Jadi, ya sudah, aku tadi minum air mineral kemasan di mini market depan," balas Ervita.


Ah, tadi Pandu pikir bahwa istrinya itu menunggu karena kangen kepadanya. Rupanya karena galon air mineralnya habis. Pandu pun menganggukkan kepalanya. Kemudian dia mengangkat galon air mineral itu dan menaruhnya di atas dispenser.


"Sudah Dinda ... butuh bantuan apa lagi?" tanyanya.


"Tadi, dianterin Gas juga, Mas ... masih di luar, di samping Pendhopo, belum aku bawa masuk. Berat soalnya," balas Ervita.


"Iya mana, biar aku yang bawa masuk," balas Pandu.


Tidak banyak bicara, Pandu pun mulai keluar dan mengangkat gas berwarna biru itu untuk masuk ke dalam rumah. Sepenuhnya Pandu menyadari bahwa memang gas ini cukup berat, sehingga Ervita pasti akan kesusahan dan berbahaya juga untuk kandungannya.


"Kalau memang gak kuat, tinggalin saja Dinda ... nanti biar aku yang angkatin," balas Pandu.


"Iya Mas ... untuk beberapa hal Bumil memang butuh suaminya banget sih Mas," balas Ervita.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, dan aku akan selalu siap sedia untuk kamu. Aku selalu siap untuk membantu kamu, apa pun itu," balas Pandu.


Pandu pun menyadari bahwa memang semakin bertambahnya usia kandungan istrinya, memang banyak hal yang tidak bisa dikerjakan istrinya seorang diri. Justru, dibutuhkan oleh istrinya seperti ini membuat Pandu bahagia dan juga merasa keberadaannya benar-benar dibutuhkan oleh istrinya.


__ADS_2