
Mungkin karena merasa sekarang berada di rumah orang tua, dan malam baru sekitaran jam 20.00 malam, Ervita merasa bahwa mungkin saja kedua mertuanya juga belum tidur. Terlebih Indi yang sekarang ikut dengan Eyangnya, Ervita merasa yakin bahwa Indi juga belum tertidur sekarang. Sehingga, ketika suaminya mengatakan hendak mengajaknya untuk menyusuri Swargaloka, rasanya Ervita memilih sedikit menunda.
Pandu kemudian memberikan usapan di punggung tangan Ervita yang kini dia genggam, "Jujur loh, Nda ... kamu satu-satunya wanita yang aku sentuh," ucap Pandu kemudian.
"Sebelumnya pegangan tangan atau cium pipi apa tidak pernah?" tanya Ervita kemudian.
Pandu diam sejenak dan mulai memberikan jawaban, "Dia yang cium pipi aku," balasnya.
Ervita bukan marah, tetapi justru tersenyum kepada suaminya, "Tidak dicium balik?" tanyanya.
Pandu pun menggelengkan kepalanya, "Enggak ... makanya dia selingkuh sama sahabatku sendiri. Di tenda dengan Gunung Andong waktu itu, katanya aku tidak pernah menyentuhnya," cerita Pandu pada akhirnya.
"Gugup enggak Mas, waktu malam pertama kita dulu?" tanya Ervita kemudian.
"Gugup banget ... aku takut kalau salah masuk," balas Pandu dengan jujur.
"Tapi kan kamu bisa, dan aku enggak akan pernah lupa waktu itu," balas Ervita kemudian.
Pandu pun tersenyum, "Aku belajar dulu waktu itu, Nda ... biar berhasil."
"Maaf ya Mas ... waktu itu, aku bukan yang pertama untukmu. Andai saja, aku juga menjadi yang pertama bagimu, pasti kamu akan lebih bahagia," balasnya.
Ada sekelumit penyesalan di dada Ervita karena pria sebaik Pandu justru tidak mendapatkan seorang gadis. Andai saja, dirinya bisa menjadi yang terbaik untuk suaminya. Apa daya, semua itu tidak bisa Ervita berikan untuk suaminya.
Pandu pun dengan cepat menggelengkan kepalanya, "Tidak masalah, Nda ... nyatanya aku juga sangat bahagia bersama kamu dan Indi kok. Aku memang bukan yang pertama, tetapi jadikanlah aku yang terakhir untuk kamu, Dinda," balasnya.
"Iya Mas ... yang terakhir," balas Ervita.
"Makasih Dinda," balas Pandu. Kali ini pria itu membawa punggung tangan Ervita untuk mendekat ke wajahnya, Pandu mendaratkan sebuah kecupan di punggung tangan Ervita.
“Sebentar, aku kunci pintunya dulu yah. Aku redupkan lampu juga, kamu suka kalau redup kan?” tanya Pandu secara tiba-tiba.
Ervita benar-benar menjadi begitu gugup sekarang ini, tidak mengira bahwa di kamar suaminya ketika masih jejaka dulu, keduanya akan membuat kenangan bersama. Jujur, rasa nyaman kala berhubungan tidak seperti di rumah sendiri. Ada rasa takut ketika ada suara yang memanggil atau ketukan pintu. Akan tetapi, menolak Pandu terus-menerus rasanya juga tidak enak hati.
“Sekarang yah, biarkan kamar mantan jejaka ini punya kenangan indah kita berdua,” ucapnya. “Mau di kursi ini atau di ranjang?” tanya Pandu lagi.
“Hmm, terserah Mas aja,” balas Ervita dengan menundukkan wajahnya.
__ADS_1
Jujur saja, ketika Ervita malu-malu seperti ini, justru membuat Pandu kian gemas rasanya. Pria itu kemudian mengambil tempat duduk di samping Ervita, merangkul bahu istrinya itu.
“Kamu bisa handle Nda?” tanyanya kemudian.
Ervita pun menggelengkan kepalanya, “Enggak Mas … aku tidak berpengalaman. Aku sangat malu,” balasnya.
"Belajar Dinda ... aku juga malam pertama kita itu gugup banget, tapi aku berusaha mengendalikan semuanya," balas Pandu.
Tidak menunggu waktu lama, Pandu segera membelai sisi wajah Ervita dan juga mulai mendaratkan bibirnya di atas bibir Ervita. Permukaan kulit yang kenyal dan memberikan sensasi manis dan juga hangat milik istrinya itu seolah memiliki daya tarik tersendiri, membuat Pandu memejamkan matanya dan mulai memagut dengan begitu lembutnya bibir Ervita di sana. Ketika bibir bertemu dengan bibir, saling memagut, saling mencecap, dan juga saling menghisap membuat keduanya sama-sama menghela nafas. Sapuan nafas yang hangat dari keduanya, disertai dengan decakan yang mengalun indah, membuat Pandu menenglengkan wajahnya, dan memberikan tekanan dalam ciumannya.
Pun demikian Ervita yang merasakan sapaan yang lembut, hangat, dan juga manis, kala dia merasakan bibir suaminya yang memagutnya. Dadanya bergemuruh riuh, matanya hanya mampu terpejam merasakan pagutan, dan lu-matan yang membuat Ervita benar-benar larut di dalamnya. Kamarnya yang begitu etnik dan juga sinar lampu yang temaram membuat suasana di dalam sana begitu romantis.
"Aku cinta kamu, Dinda," ucap Pandu dengan menarik sedikit bibirnya dan menangkup kedua wajah istrinya di sana.
Perlahan kelopak mata Ervita terbuka, wanita itu tersenyum dan menatap wajah suaminya yang jaraknya hanya sejengkal dengan wajahnya.
"Aku juga cinta kamu, Mas Pandu," balas Ervita dengan mata yang tampak berkaca-kaca.
Pandu tersenyum, lantas pria itu berdiri dan membopong tubuh Ervita dan membawanya ke atas ranjang mereka. Pandu mendudukkan Ervita dengan hati-hati di tepian ranjang. Lantas pria itu menarik ke atas kaos yang dia kenakan, membuatnya shirtless. Kemudian, Pandu pun membungkukkan sedikit tubuhnya dan mulai memagut bibir Ervita di sana, pria itu mengalungkan kedua tangan Ervita di lehernya. Kali ini ciuman yang dilabuhkan Pandu lebih memburu. Rasanya ingin terus-menerus menghisap bibir istrinya yang begitu manis dan hangat itu. Dia mengulum bibir Ervita dengan menghela nafas, tangan yang mulai memberikan usapan di tengkuk Ervita.
Di sela-sela ciumannya, Pandu lantas menarik kaos yang dikenakan Ervita ke atas, pria itu tersenyum melihat istrinya dengan hanya kain berenda berwarna hitam yang begitu kontras dengan kulit Ervita.
"Mas ... Pandu," pekik Ervita mana kala merasakan telapak tangan suaminya sudah berhasil memberikan remasan di gundukan buah persiknya. Telapak tangan yang hangat, seolah membuat suhu tubuh Ervita pun meningkat dengan begitu drastisnya.
Tak menghiraukan pekikan istrinya, Pandu kini justru melepaskan pengait yang tersembunyi di balik punggung Ervita. Membuat dua buah persik yang sama ukurannya itu terlihat sempurna, bulat dan indah. Membuat Pandu pun ingin merasainya, menenggelamkan satu buah persik itu ke dalam rongga mulutnya. Pria itu memberikan usapan demi usapan dengan lidahnya, menghisapnya, dan juga menggigit-gigit puncaknya, hingga membuat puncaknya menegang dan sedikit membengkak di sana. Godaan yang diberikan Pandu membuat Ervita membusungkan dadanya, tangan bergerak dan meremas rambut suaminya itu. Pun Pandu yang benar-benar menenggelamkan wajahnya di sana. Bukan sebatas menggoda dengan mulut dan lidahnya, tetapi satu tangan Pandu pun tak tinggal diam untuk memberikan remasan, pijatan, dan memilin puncaknya.
Ketika terpaan badai yang dirasakan Ervita membuat wanita itu nyaris mende-sah cukup keras, Pandu menaruh jari telunjuknya di depan bibir Ervita.
"Ssttss, jangan terlalu keras, Dinda ... takut kedengaran," ucap Pandu dengan lirih.
Ervita hanya bisa terengah-engah dengan menggigit bibir dalamnya. Wanita itu kian tercekat manakala, Pandu mengangkat pinggulnya, membuatnya lebih naik, dan kemudian pria itu melucuti busana keduanya yang tersisa. Pandu membawa tangan istrinya itu dan menyentuhkannya dengan pusaka Lingga yang sudah tegak berdiri.
"Punya kamu, Dinda," ucap Pandu dengan memejamkan matanya, ketika tangan Ervita menggenggam pusaka Lingga itu. Bahkan Pandu memandu tangan istrinya, menggerakkannya naik dan turun, hingga pria itu menghela nafas dan kian memejamkan matanya.
"Dinda ... oh ... Dinda," ucapnya merasakan sensasi yang sungguh nikmat dengan tangan istrinya di sana.
Ervita pun tidak menyangka bahwa sekadar pergerakan tangannya saja berhasil membuat Pandu merasakan nikmat tiada terkira. Ervita pun perlahan beringsut dan duduk, wanita itu mulai menggerakkan tangannya naik dan turun, dan kemudian dia menatap suaminya di hadapannya yang memanggil namanya dengan suara yang begitu parau dan dalam.
__ADS_1
"Mas Pandu, aku coba boleh," tanya Ervita kemudian.
Pandu membuka matanya perlahan, "Kendalikan saja ... dia milikmu," ucap Pandu.
Perlahan-lahan Ervita menggenggam pusaka Lingga yang sudah tegak berdiri itu dan memasukkannya dalam rongga mulutnya, dia mengulumnya perlahan, melakukan segala sesuatu yang mungkin saja bisa membawa suaminya merasakan kenikmatan. Rupanya usapan lidah Ervita dan juga pergerakan mulut laksana pijatan peristaltik membuat Pandu mende-sah dan mengusapi puncak kepala istrinya itu. Oh, itu adalah rasa yang luar biasa nikmat, membuat Pandu diterpa badai kenikmatan yang tidak terkira. Akan tetapi, sebagai laki-laki sejati, dia tidak ingin terpuaskan seorang diri. Pandu amat sangat tahu bahwa hakikat hubungan suami istri adalah pelepasan dan kenikmatan bersama. Oleh karena itu, Pandu mengeluarkan senjatanya dari mulut istrinya, pria itu tersenyum dan menatap Ervita, "Sudah main-mainnya, nanti bisa terjadi erupsi," balasnya.
Pandu lantas, mendorong Ervita hingga wanita itu kembali rebah, dan Pandu mulai membawa wajahnya untuk turun dan menginvansi lembah di bawah sana. Usapan lidah yang seakan tusuk-menusuk membuat Ervita mende-sah begitu lirih dan merasakan badai yang membuatnya menggigil.
"Mas ... Mas Pandu," racau tak terkira dari Ervita.
Kian dalam usapan Pandu di sana, membuat tubuh Ervita menggeliat dengan begitu sensual. Kali ini Ervita tak bisa menahan, mana kala dia merasakan tubuhnya yang bergetar disertai dengan cairan yang keluar dari inti sari tubuhnya.
Pandu tersenyum, dia merasa menjadi pria yang hebat ketika bisa membawa istrinya merasakan indahnya bunga-bunga di Swargaloka bermekaran. Kini, Pandu menempatkan dirinya dan mulai membuka kedua paha Ervita perlahan. Dengan sedikit tekanan dia menghunuskan pusaka Lingga untuk sepenuhnya memasuki cawan surgawi Yoni dengan hentakan yang membuat keduanya sama-sama menghela nafas.
"Nikmat Dinda ... astaga ... nikmat," ucap Pandu dengan menggerakkan pinggulnya perlahan. Gerakan seduktif yang dia lakukan membuat Ervita pun nyaris berteriak dengan terpaan badai yang sungguh luar biasa.
Pandu menggeram berkali-kali, hujaman, hentakan, dan juga tusukan yang dia lakukan membuat senjata Lingga sepenuhnya tenggelam di dalam Yoni. Gesekan demi gesekan menghasilkan percikan partikel yang menghasilkan hormon Dophamine, rasanya begitu puas dan bahagia.
Tubuh yang sama-sama menggeliat, peluh yang bersatu, hingga perpaduan Lingga dan Yoni yang bersatu, membuat sensasi yang tanpa batas. Pandu kini mengangkat satu kaki Ervita, menumpukannya di pundaknya, pria itu setengah berlutut dan lantas menyatukan kembali Lingga ke dalam cawan surgawi dengan hentakan yang membuat Ervita menahan nafas.
"Mas Pandu ... Mas," pekik Ervita dengan membungkam mulutnya sendiri, supaya suara yang tidak hasilkan tidak terdengar oleh penghuni rumah yang lain.
Kian dalam Pandu menghujam keluar dan masuk, hingga pria itu benar-benar berpeluh dengan begitu hebat. Melepaskan kaki Ervita, lantas Pandu mulai menindih tubuh Ervita di sana. Bibir pria itu mendaratkan kecupan dan hisapan di kulit Ervita, tetapi Pandu hendak menggigit leher Ervita, dengan cepat Ervita bereaksi.
"Please ... jangan di leher Mas ... ketahuan Bapak dan Ibu nanti," ucapnya dengan terengah-engah.
"Hmm, iya ... oh, nikmat Dinda ...."
Pandu menggeram, dan dia kembali menghisap dan menggigit puncak buah persik milik Ervita. Kedua kaki Ervita yang terasa lemas pun mengalung di pinggang suaminya, justru ini adalah akses untuk Pandu kian mneghujam dalam, menusuk dengan begitu masuk. Hingga Pandu bisa merasakan cengkeraman otot-otot di dalam sana. Oh, ini adalah rasa yang indah.
"Dinda ... aku sampai," ucap Pandu dengan menghentak begitu dalam.
Sungguh luar biasa malam itu, Pandu merasa kalang kabut sekarang, ingin menahan dan merasakan gerakan seduktif lebih lama, tetapi Pandu sangat tahu ini adalah ambang batasnya.
"Mas ... aku ...."
Pun Ervita yang tidak bisa menahan lagi, sehingga Lingga kian tenggelaman dalam Yoni. Pandu pun merasakan tubuhnya meledak sekarang. Erupsi volcanologi yang tidak bisa dia hindari.
__ADS_1
Keduanya sama-sama meledak, pecah. Dua tubuh yang liat dan saling bergetar di sana. Bahkan Pandu sampai merasakan dengingan di telinganya mana kali erupsi volcanologi dengan lahar api yang keluar dari Lingga. Tubuhnya benar-benar rubuh sekarang, siku tangannya untuk sekadar menahan saja tidak bisa. Ini adalah hubungan yang indah, ledakan yang indah, hingga tidak ada diksi yang bisa melukiskan indahnya malam ini untuk Pandu dan juga Ervita.