
Entah sudah beberapa jam berlalu. Bahkan sekarang sudah malam, tetapi rasanya Ervita masih merasakan sakit yang luar biasa. Ketika orang berkata bahwa melahirkan anak kedua akan lebih cepat, sekarang sudah malam dan Ervita masih menunggu sampai proses bukaan selesai. Bahkan dua jam pertama, tidak ada penambahan pembukaan. Padahal Ervita sendiri sudah merasakan begitu sakit di perut dan pangkal pahanya, tetapi pembukaan masih belum bertambah.
Ketika rasa sakit karena kontraksi itu datang, Ervita menangis karena terasa begitu sakit. Rasanya aneh, dulu ketika melahirkan Indi saja rasanya justru tidak selama ini. Sekarang hari sudah malam dan pembukaan baru sampai di angka tujuh.
"Mau makan atau minum dulu, Nda? Sejak tadi kamu belum makan atau minum loh, Nda," ucap Pandu.
Pandu begitu memperhatikan Ervita, bahkan untuk makan dan minumnya saja Pandu begitu perhatian. Walau Pandu sendiri juga sangat khawatir dengan kondisi Ervita sekarang. Benar dengan nasihat dari Ibunya bahwa ketika mendampingi istri bersalin itu harus bersabar dan juga kuat. Mendampingi dan menguatkan istri yang sedang kesakitan itu benar-benar tidak mudah.
"Mas Pandu, kalau ada apa-apa, aku minta maaf ya, Mas," ucap Ervita sekarang dengan berderai air mata.
Itu semua karena Ervita merasakan sakit yang begitu luar biasa. Tekanan di bagian perineum, usus, dan kandung kemih yang seolah diremas-remas hingga sampai pada area perut Ervita. Rasa sakit yang rasanya seperti remasan, pegal, dan juga kram di area perut, pangkal paha, hingga ke pinggang. Sungguh, itu rasa sakit yang sangat sakit, rasa sakit yang menjalar hingga ke seluruh tubuhnya. Tiap kali kontraksi itu datang, Ervita hanya bisa terisak dalam tangisannya.
"Jangan bilang yang aneh-aneh, Dinda ... kita akan selalu bersama. Kita akan menyambut adiknya Indi bersama-sama," balas Pandu.
Jujur saja mendengarkan suara Ervita berbalut dengan air matanya yang terus terurai membuat Pandu begitu hancur. Dia tidak ingin Ervita kesakitan dan kondisi mentalnya menurun seperti ini. Untuk itu, di sinilah Pandu yang berusaha untuk bisa menguatkan Ervita.
Wanita itu menangis. Rasa sakit dan juga berpadu dengan jarum infus yang dipasangkan di tangannya membuat rasa sakit yang dia rasakan kian bertambah saja. Itu yang membuat Ervita terkadang merasa tidak mampu. Sebab, sakit ini begitu mendominasi.
Sampai pada batas Ervita terisak dengan memegangi perut. Kali ini hantaman kontraksi benar-benar lebih sakit. Bagian perutnya di bawah pusar terasa kencang dan juga pinggangnya begitu sakit. Belum lagi ada perasaan ingin mengejan karena sudah ingin mengeluarkan bayinya.
"Mas Pandu ... sakit banget. Aduh, perut aku sampai kenceng gini. Hiks ... apa sudah waktunya bersalin ya Mas?" tanya Ervita masih dengan berurai air mata.
"Tahan dulu, Sayang. Ayo, tadi diingat bahwa gak boleh mengejan sebelum waktunya loh. Aku panggilkan perawat dulu yah," balas Pandu.
Lantaran gugup sebenarnya Pandu bisa menekan bel di atas brankar pasien, tetapi pria itu justru berlari keluar. Sebab, Pandu sendiri juga gugup dan panik. Sehingga, kadang pikiran dan tindakannya justru tidak selaras.
"Suster, perut istri saya kencang banget. Mungkin pembukaannya sudah lengkap," ucap Pandu.
"Tadi sebenarnya Bapak bisa menekan bel di atas brankar pasien saja, Pak," jawab perawat di sana.
__ADS_1
"Ah, iya yah ... saya terlalu panik," aku Pandu yang memang sangat panik.
Akhirnya Pandu dan perawat di sana yang adalah bidan pun masuk ke ruangan untuk memeriksa kondisi Ervita terlebih dahulu. Kebetulan juga ada Dokter Arsy yang datang sehingga memang sang Dokter turut masuk ke dalam ruangan pasien.
Begitu masuk, terlihat Ervita yang merintih kesakitan. Wajahnya benar-benar memerah dan matanya begitu sembab. Rambutnya yang panjang pun terlihat tidak rapi karena kepalanya menggeleng ke kanan dan ke kiri ke atas bantal.
"Bagaimana Bu Ervita?" tanya Dokter Arsy dengan begitu lembut.
"Sakit sekali, Dokter," balas Ervita yang masih menangis di sana.
Sekarang, Pandu memposisikan diri untuk duduk di samping brankar dan tangannya menggenggam erat tangan Ervita. Bisa Pandu rasanya tangan istrinya yang seakan meremas tangannya begitu erat. Itu adalah rasa Ervita untuk berbagi rasa sakit dengan suaminya.
"Kita lakukan cek dalam lagi yah," ucap Dokter Arsy.
Sama seperti yang sudah-sudah, Dokter Arsy menginstruksikan kepada Ervita untuk membuka kedua pahanya. Menahan nafas dan tidak mengejan karena akan kembali dilakukan cek dalam untuk melihat seberapa centimeter jalan lahir sudah membuka. Dengan menggunakan sarung tangan medis, Dokter Arsy pun bersiap melakukan cek dalam di sana. Kali ini tidak dimasuki, hanya diraba saja.
Di sana perawat bersiap dengan semua peralatan medis. Kemudian Dokter Arsy memberikan instruksi lagi kepada Ervita.
"Bu Ervi, nanti kalau perut terasa kencang dan ada rasa ingin mengejan, langsung ambil nafas dalam-dalam, dan dorong seluruh tenaga ke bagian perut ya, Bu. Namun, panggul jangan diangkat. Sebab, jika diangkat nanti bisa sobek. Kalau belum ada kontraksi dari bayinya, jangan mengejan karena bisa merobek jalan lahir," instruksi dari Dokter Arsy.
Ervita menganggukkan kepalanya. Dia mengingat lagi dulu kala melahirkan Indi, dia hanya ditemanin Dokter dan dibantu perawat saja. Bahkan yang dia genggam tangannya saat itu adalah perawat. Sekarang, Ervita menatap ke Pandu, dan dia menggenggam tangan suaminya itu begitu erat. Pandu pun mengubah posisi, pria itu duduk di tepian brankar dan menumpukan kepala Ervita di pahanya. Dengan tangan yang menggenggam erat tangan Ervita di sana.
Kini, Ervita bisa merasakan perutnya yang kencang dan ada hasrat untuk mengejan, mengeluarkan bayinya. Oleh karena itu, Ervita langsung mempersiapkan diri. Dia segera memegang erat lengan suaminya. Begitu juga dengan Pandu yang mempersiapkan dirinya, menemani sang istri melewati proses demi proses untuk menyambut buah hatinya. Pandu berusaha kuat, walau sebenarnya hatinya sendiri tak kuasa dan tidak tega dengan kesakitan yang dialami Ervita sekarang.
"Huhh ... ah!"
Ejanan pertama dan si baby masih belum keluar. Ervita berurai air mata. Semua daya dan usaha sudah dia kerahkan, tetapi rupanya dia masih harus berjuang.
"Semangat, Nda ... aku temenin yah. Kamu pasti bisa," balas Pandu yang menjadi penyemangat tunggal untuk istrinya.
__ADS_1
"Istirahat dulu Bu Ervi, nanti kalau perut terasa kencang, ambil nafas kuat-kuat, dan dorong di sekitaran panggul. Kepalanya sudah kelihatan ya Bu, jadi sebentar lagi akan keluar," ucap Dokter Arsy. Ini adalah ucapan semangat dari Dokter Arsy, supaya Ervita tidak patah semangat.
"Sakit banget, Mas," isakan Ervita lebih mendominasi sekarang.
"Bisa, Dinda ... bisa, aku temenin. Kita bisa, Nda," balas Pandu yang tangannya sembari mengusapi kepala Ervita.
Ya Tuhan, Pandu merasakan hatinya hancur kala itu juga. Wanita hebat itu kini terisak dalam tangisan. Mengeluh sakit.
Sampai pada batas perut Ervita terasa menguat, gelombang kontraksi lagi-lagi datang, dan sekarang Ervita berusaha mengambil nafas dalam-dalam. Dia mengejan dengan sekuat tenaga, dan mendorong tubuhnya ke depan untuk melahirkan buah hatinya. Beberapa ejanan, dan akhirnya ....
"Huhh ... Mas ... Mas Pandu!
Pekikan disertai dengan teriakan bak menyudahi perjuangan Ervita sekarang ini. Dengan terdengarnya suara bayi yang memenuhi seluruh isi ruangan bersalin itu.
Kali ini Pandu benar-benar menangis. Pria ini melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana bayinya keluar, lahir dari bawah sana. Bahkan bisa Pandu lihat, bayinya terlihat paling putih, di antara darah yang keluar dari serviks. Luar biasa mendampingi istri bersalin.
"Bayi kita sudah lahir, Dinda," ucap Pandu dengan menangis.
Kali pertama dia mendengarkan isakan tangis dari bayinya, Pandu bisa merasakan tubuhnya menegang, jantungnya berdetak begitu cepat, dan juga ada rasa haru ketika bisa melewati momen ini.
Oek ... Oek ... Oek ...
"Selamat ya Bapak Pandu dan Bu Ervi, babynya perempuan," ucap Dokter Arsy.
Bukan kecewa, Pandu justru bahagia. Dia berhasil mewujudkan impiannya menjadi Sultan di rumah yang dikelilingi dengan wanita cantik di rumah.
"Adiknya Didi cewek ... lucu," balas Pandu.
"Iya Mas," balas Ervita dengan tawa yang berurai air mata.
__ADS_1