
Bertolak sejenak ke kota Solo. Agaknya ada yang benar-benar berusaha untuk memperbaiki dirinya. Ya, Firhan seolah ingin memberikan bukti kepada Wati bahwa dia akan berusaha memperbaiki dirinya.
Sama seperti hari ini, Firhan yang mencoba untuk tidak begitu emosi walau sebenarnya dia kesal dengan Wati. Dia seakan diingatkan untuk berubah dan menjadi pribadi yang tidak meletup-letup emosinya.
"Yang, kamu sudah selesai setrikanya belum?" tanya Firhan kepada istrinya itu.
"Hm, kenapa Mas?" tanya Wati.
Saat itu memang Wati sedang menyetrika. Sehingga, memang Wati untuk menyetrika terlebih dahulu. Terkhusus untuk beberapa kemeja milik Firhan yang harus dia setrika terlebih dahulu supaya suaminya itu bisa tampil rapi.
"Masih lama enggak?"
Lagi Firhan bertanya karena memang dia hendak mengajak Wati melakukan suatu kegiatan yang mengharuskan Wati untuk menyudahi setrikanya terlebih dahulu. Sudah berapa lama sejak Wati pulang ke Karang Anyar, dan tidak ada hubungan fisik antara Firhan dan Wati. Sehingga sekarang, Firhan rasanya sudah tidak bisa lagi menahan terlalu lama.
"Aku selesaikan dulu, Mas," balas Wati.
Sebenarnya walau sudah lebih dari satu minggu kembali satu atap. Akan tetapi, kehidupan rumah tangga keduanya tidak sepenuhnya baik. Bahkan tak jarang Firhan juga bingung untuk mengajak bicara Wati terlebih dahulu. Di ranjang pun, yang ada keduanya adalah saling memunggungi dan juga tidak ada hubungan afeksi dari keduanya.
Sempat Wati berpikir bahwa walau sudah bersama, tapi kehidupan rumah tangga masih terasa dingin. Terlebih kurang komunikasi yang membuat mereka hanya membahasa dan membicara hal yang remeh temeh saja. Tidak ada perbincangan mendalam antara suami dan istri.
Firhan menghela nafas panjang, dan dia melihat masih ada beberapa potong baju yang harus disetrika Wati terlebih dahulu. Bahkan Wati sekarang pun juga bersikap biasa saja, ketika Firhan turut duduk di sana.
__ADS_1
"Kalau capek dilaundry aja, Yang," ucap Firhan kemudian.
"Tidak capek kok, Mas. Kan di rumah juga sendiri, belum ada anak. Untuk setrika kan bisa banget," balas Wati.
Jika Firhan menyarankan laundry supaya lebih praktis, sementara Wati merasa masih bisa melakukan semuanya sendiri. Terlebih juga mereka belum memiliki anak, sehingga masih bisa untuk menyetrika dan juga mengurus rumah yang ukurannya tidak begitu besar itu. Berbeda cerita jika mereka berdua sudah memiliki anak nanti.
"Itu masih beberapa potong lagi coba," balas Firhan.
"Tidak banyak kok ... kenapa sih?" tanya Wati lagi.
Sekarang agaknya Firhan harus benar-benar bersabar. Dia tidak memberitahukan niatannya dengan jujur. Bersifat ambigu. Sementara Wati sendiri mungkin memang sedang tidak ngeh dengan apa yang diinginkan suaminya sekarang ini. Sehingga memang komunikasi keduanya pun sering tersendat.
Walau berat, Firhan berusaha keras untuk menahan. Bahkan juga, harus dengan cara apa dia bisa menyampaikan niatannya dengan Wati. Di Solo beberapa hari diguyur hujan, sehingga Firhan sekarang pun begitu mendamba. Udara yang dingin dan hujan yang turun seolah menciptakan kombinasi sempurna untuk menyalurkan rasa yang sudah seminggu lebih terpendam. Jika dia kembali memaksa Wati, sudah pasti Firhan terbayang dengan istrinya yang bisa saja pergi dari rumah lagi. Tentu Firhan tidak menginginkan itu terjadi.
Merasa hanya ucapan verbal saja tidak mampu, Firhan kemudian mendekat dan sekarang duduk di belakang Wati. Pria itu mendekap istrinya, tangannya melingkari pinggang sang istrinya, dan bibirnya berkali-kali menjatuhkan kecupan di tengkuk dan bahu istrinya.
Namun, bagi Wati itu adalah kegiatan yang mengganggu karena sebenarnya, itu membuat dirinya tidak konsentrasi untuk menyetrika. Semakin banyak distraksi yang ada kerjaannya sebagai ibu rumah tangga justru tidak akan selesai-selesai. Akan tetapi, dari cara Firhan sekarang dan terdengar helaan nafas yang berat dari suaminya, Wati sangat yakin bahwa suaminya itu sekarang sedang mendamba.
"Mas, aku selesain setrika dulu," ucap Wati dengan mengedikkan bahunya.
"Kamu setrikanya terlalu lama, Yang ... aku ... aku," balas Firhan layaknya seorang yang gagap.
__ADS_1
Sungguh, ingin mengakui bagaimana sekarang dirinya begitu berhasrat saja, rasanya susah. Sementara Wati juga masih menyetrika. Sehingga, memang bingung untuk mengomunikasikan semua. Biasanya orang berkata, masalah rumah tangga akan selesai di ranjang. Sementara untuk Wati, dia membutuhkan rekonsiliasi hingga benar-benar selesai. Wati adalah tipe yang tidak suka masalah berlarut-larut dan membutuhkan penyelesaian akan benar-benar selesai.
"Yang, aku pengen," ucap Firha sekarang. Akhirnya, Firhan memiliki keberanian untuk mengungkapkan apa yang dia rasakan sekarang ini.
"Aku selesaikan dulu, Mas," balas Wati.
"Tidak bisa sekarang? Sudah memuncak," balas Firhan lagi.
Firhan pun jujur mengatakan bahwa dia merasakan sekarang sudah memuncak. Sehingga, memang dia ingin menyegerakan apa yang dia inginkan. Terlebih dengan kondisi yang tidak memiliki ketahanan tinggi sehingga sangat susah untuk Firhan.
"Sekarang yah," ucap Firhan lagi dengan suara yang layaknya mengiba.
"Please, Mas ... aku tahu bahwa istri adalah milik suaminya. Namun, sekarang bukankah ada penyetaraan hak? Please, aku selesaikan dulu," balas Wati.
Dalam iman yang dia anut pun, Wati sangat tahu bahwa seorang istri dikatakan berdosa ketika menolak suaminya. Akan tetapi, dia memiliki kepentingan yang lain dan juga harus ada yang harus dia prioritaskan terlebih dahulu. Sehingga, hanya menyelesaikan beberapa potong lagi untuk disetrika menurut Wati itu lebih baik daripada harus menunda terlebih dahulu.
Mendengar ucapan istrinya, Firhan akhirnya beringsut dan pria itu masuk ke dalam kamar. Niatannya sudah sabar selama ini. Akan tetapi, tetap saja terasa sukar untuk menahan emosi dan hasrat yang sering kali bergejolak. Kini, pria itu merebahkan dirinya dengan posisi tengkurap. Merasa kesal, tapi marah tidak bisa. Alhasil yang bisa dia lakukan hanya seperti itu saja.
"Aku sudah berusaha sabar, Yang ... aku sudah berusaha menekan semuanya. Akan tetapi, kamu yang membuatku kayak gini."
Firhan menghela nafas dengan memejamkan mata. Rasanya kesal, tidak bisa marah, dan juga hanya bisa menahan diri. Apakah memang kehidupan rumah tangga harus seperti ini adanya?
__ADS_1