
Kembali ke Kota Solo ....
Malam itu belum sepenuhnya berakhir, dan Firhan berusaha untuk menuju ke rumah Tiana. Ya, Firhan akan berusaha untuk mendapatkan maaf dari Tiana, dan mengharapkan bahwa pernikahan mereka tidak akan dibatalkan. Mengingat akad hanya tinggal esok. Setidaknya malu yang ditanggung keluarga mereka akan terselamatkan dengan acara pernikahan yang akan digelar besok.
Pria itu berlari dari bangsal yang ditempati Bapaknya, dan menuju ke parkiran. Firhan meminta sepeda motor milik tetangganya yang turut mengantar ke Rumah Sakit, dan tujuan Firhan sekarang adalah menuju rumah Tiana.
Dengan kecepatan tinggi, Firhan melajukan sepeda motor yang dia naiki dan berharap bisa segera sampai di rumah Tiana. Ketika mengendarai sepeda motor itu, Firhan sebenarnya ragu, tetapi yang disampaikan oleh Ibunya benar, dia harus minta maaf kepada Tiana, berharap akad akan bisa dilangsungkan esok hari. Hanya membutuhkan waktu lima belas menit, dan sekarang Firhan sudah sampai di kediaman Tiana. Di kediaman Tiana pun kajang sudah dipasang di sana, ada janur kuning dan penjor yang juga menghiasi rumah itu, tetapi di sepanjang kajang yang dipasang, sama sekali tidak ada lampu yang menyala, tidak terlihat juga kerumunan tetangga, seperti di kediamannya. Dengan ragu, Firhan pun memasuki rumah Tiana.
"Permisi," sapanya dengan mengetuk pintu rumah Tiana.
Beberapa saat menunggu dan belum ada sahutan dari rumah itu. Sehingga Firhan pun kembali mengetuk pintu itu dan mengucapkan, "Permisi ...."
Selang beberapa saat, barulah ada orang tua Tiana yang membukakan pintu. Mereka pun kaget melihat Firhan yang datang ke rumahnya seorang diri.
__ADS_1
"Permisi Bapak dan Ibu," sapa Firhan.
Jujur saja, sebenarnya Firhan merasa takut. Dalam benaknya, Tiana pasti sudah memberitahukan semua yang terjadi dua pekan yang lalu. Untuk itu, Firhan sebenarnya merasa takut. Akan tetapi, untuk menghapus malu dan juga pergunjingan dari tetangganya, Firhan pun berusaha untuk berani menghadapi, walau hatinya begitu ketar-ketir sekarang ini.
"Ada apa Firhan?" tanya Bapaknya Tiana di sana.
"Bapak dan Ibu, Firhan datang ke mari untuk meminta maaf," ucapnya.
"Setelah semua yang kamu lakukan, kamu meminta maaf Firhan?" tanya Bapak Hartanto di sana.
Tampak Pak Hartanto yang terlihat begitu kesal kepada Firhan. Lantas, Pak Hartanto menatap kepada istrinya, "Panggilkan Tiana ke sini, Bu ... apakah yang menjadi keputusan Tiana, itulah yang terjadi," ucap Pak Hartanto.
Akhirnya pun Bu Sri masuk dan memanggilkan Tiana, bertanya apakah putrinya itu akhirnya memilih untuk melangsungkan pernikahan dengan Firhan atau tidak. Tiana pun keluar dari kamarnya dengan wajahnya yang sembab. Sebenarnya, tidak mudah juga untuk memutuskan semuanya ini bagi Tiana.
__ADS_1
"Yang, Ayang ... maafkan aku," ucap Firhan yang segera meminta maaf begitu melihat Tiana yang keluar dari kamarnya.
Tampak Tiana membuang muka dan tidak ingin menatap Firhan di sana. Namun, air mata gadis itu masih berlinang. Tidak mudah memutuskan karena memang ini adalah keputusan yang begitu sulit untuk Tiana.
"Yang, jangan seperti ini ... akad kita sudah di depan mata. Aku benar-benar minta maaf, bahkan kalau kamu mau kita yang penting menikah dan setelahnya aku akan menerima semua hukuman dari kamu, tetapi jangan putuskan akad kita esok hari."
Firhan pun kali ini benar-benar merendahkan harga dirinya, dia meminta maaf kepada Tiana, dan juga berharap bahwa akad pernikahan tidak akan dibatalkan. Bagaimana pun membatalkan pernikahan yang sudah di depan mata juga berarti kehilangan banyak Rupiah yang sudah dikeluarkan.
"Jawab saja, Tiana ... apa pun keputusanmu, Bapak dan Ibu akan setuju," ucap Pak Hartanto sekarang ini.
Agaknya Tiana tidak bisa memberikan jawaban. Hanya air matanya saja yang terus berlinang. Bahkan juga, hatinya kini merasa begitu sesak.
"Pikirkan lagi baik-baik, Sayang ... jangan mempermalukan aku dan keluargaku seperti ini. Asal kamu tahu, Bapakku sekarang dilarikan ke Rumah Sakit karena penyumbatan iskemik, terjadi serangan stroke. Tolong, jangan permalukan keluarga kami," pintanya.
__ADS_1
Sungguh ironis, hampir tiga tahun yang lalu, keluarga Firhan yang begitu arogan bisa mempermalukan Ervita dan keluarganya yang kala itu datang dan juga meminta pertanggungan jawab dari Firhan. Membiarkan wanita belia yang terenggut kegadisannya menjadi korban hingga menjalani kehidupan sebagai Ibu Tunggal, terisolasi jauh dari keluarganya. Sekarang, Sang Khalik agaknya membuat tulah yang menimpa keluarga Firhan. Bahkan pemuda itu kini benar-benar merendahkan harga dirinya demi mendapat maaf dari Tiana dan keluarganya. Kali ini, Firhan benar-benar memohon supaya keluarganya tidak mendapatkan malu.
"Please Tiana ... pikirkanlah sekali lagi. Ku mohon," ucap Firhan.