Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Baby Blues


__ADS_3

Menjadi ibu baru di usia yang masih muda. Setidaknya mengguncang psikologis Ervita. Walau sebelumnya merasa siap untuk menjadi Ibu, tetapi begitu di kost dan hanya bersama dengan Indira membuat Ervita merasa lebih emosional, lebih sensitif, bahkan malam pertama di kost, dengan memberikan ASI untuk Indira, Ervita juga menangis sesegukan di sana.


Apa yang membuat Ervita menangis, dia juga tidak tahu. Hanya saja memang perasaannya menjadi begitu emosional dan sensitif. Sehingga air matanya mengalir begitu saja.


Sekarang sudah hari ketiga di mana Ervita merawat Indira di dalam kostnya. Memang semuanya dilakukan Ervita sendiri mulai dari memandikan Indira, memberikan ASI, bahkan Ervita menggunakan waktu kala Indira tidur untuk mencuci bajunya dan Indira. Menguceknya langsung dengan tangannya, hingga pergelangan tangannya memerah karena mengucek. Terlebih pup bayi yang masih berupa Mekonium yang mengenak baju Indira memang lebih sukar untuk dibersihkan. Melihat pergelangan tangannya merah dan sakit, Ervita kembali menangis di sana.


"Ya Tuhan, di saat seperti ini Vita benar-benar butuh teman. Dari pergi dari rumah, semuanya Vita lakukan sendiri. Bahkan hal yang tidak pernah Ervita lakukan, sekarang Ervita harus melakukannya," ucapnya lirih.


Ya, menjadi Ibu memang pengalaman baru untuk Ervita. Banyak hal yang dia lakukan untuk kali pertama, mulai dari membersihkan pup, memandikan bayi, memberikan ASI, dan juga hal lainnya. Luka jahitan di tubuhnya masih nyeri, tetapi Ervita sudah harus melakukan semuanya sendiri.


Sebisa mungkin di waktu Indira tertidur, Ervita menyelesaikan semua pekerjaan rumah. Sehingga kala Indira terbangun, Ervita cukup menunggu Indira dan juga memberikan ASI untuk bayinya.


Akan tetapi, dalam tiga hari ini Ervita tidak bisa tidur, kelelahan, dan juga perasaannya begitu mudah sedih.


Hingga terdengar ketukan pintu di kamar kostnya. Ervita segera mencuci tangannya terlebih dahulu, dan menyeka air matanya di wajahnya.


"Ya, sebentar ...."


Akhirnya Ervita menuju ke pintu kost dan membukakan siapakah gerangan yang datang ke kostnya siang hari itu.


"Baru ngapain Vita?" tanya Bu Tari yang sudah tersenyum dan menjenguk Vita siang itu.


Belum menjawab, Bu Tari mengamati wajah sembab Vita, dan bagian pakaian Vita yang basah. Terlihat juga tangan Vita yang basah di sana.


"Bu," sahut Vita dengan terisak.

__ADS_1


Ya, tidak dipungkiri ada gejolak di dalam hati Vita. Perubahan menjadi ibu dan tanggung jawab baru sebagai ibu begitu menghantamnya. Ada rasa bagaimana jika tidak bisa menjadi ibu baik, ada rasa bagaimana jika tidak bisa merawat Indira dengan baik. Sebagai ibu baru Ervita juga merasa kewalahan untuk mengurus segalanya sendiri, termasuk mengurus kebutuhan buah hati.


"Loh, kok malah nangis," ucap Bu Tari yang langsung masuk dan memeluk Vita.


Ini juga menjadi kunjungan Bu Tari pertama, usai Ervita pulang dari Rumah Sakit. Kendati demikian, setiap hari ada abang ojek online yang datang mengirimkan nasi dan sayur untuk Ervita. Tentu saja nasi, sayuran, dan lauk pauk itu dari Bu Tari.


"Sabar ya Ervita ... Ibu tahu pasti kamu sedih, capek, dan kewalahan ... cuma semuanya menjadikan kamu kuat dan mandiri," ucap Bu Tari.


Beberapa saat kemudian, rupanya Pandu datang dan membawakan buah apel untuk Ervita. Pandu juga terkejut melihat Ervita yang menangis di sana.


"Ervi," panggilnya begitu melihat Ervita.


Sontak saja, panggilan dari Pandu membuat Ervita dan Bu Tari mengurai pelukannya. Dengan sesegukan, Ervita menyeka air matanya sendiri. Kemudian Ervita menyapa putra Bu Tari itu dengan bibir yang bergetar.


"Mas Pandu," sapanya.


"Maa ... makasih Mas," jawab Ervita.


Bu Tari kemudian kembali berbicara, "Malahan nangis, Pandu ... untung kita sendiri. Kalau tidak pasti bisa menangis sesegukan sendirian," ucap Bu Tari.


Pandu yang berdiri di depan pintu kost hanya menganggukkan kepalanya, dan kemudian berbicara.


"Mungkinkah kamu kena Baby Blues, Ervi?" tanyanya.


Terlihat Ervita menggelengkan kepalanya, "Enggak tahu," balasnya.

__ADS_1


"Baby blues itu apa?" tanya Bu Tari kepada anaknya.


"Baby blues itu masalah psikologis yang biasanya dialami oleh ibu-ibu setelah melahirkan, Bu," balas Pandu.


Ya, baby blues adalah masalah psikologis yang umum dialami oleh para ibu usai melahirkan. Kondisi ini menyebabkan ibu lebih emosional dan sensitif, seperti mudah sedih, cemas, lelah, lekas marah, sering menangis, kurang nafsu makan, sulit tidur, dan sulit konsentrasi.


"Lah, seperti itu karena apa tow Pandu?" tanya Bu Tari lagi.


"Banyak penyebabnya, Bu ... bisa karena perubahan hormon. Katanya wanita melahirkan mengalami perubahan kadar hormon yang cukup drastis. Kemudian sulit beradaptasi karena menjadi ibu baru untuk membutuhkan masa untuk beradaptasi. Juga kurang tidur, mungkin sepanjang malam ini Ervita begadang sembari memberikan ASI untuk Indira."


Yang disampaikan Pandu memang benar adanya, setelah melahirkan, tubuh akan mengalami perubahan kadar hormon yang drastis. Pada masa ini, kadar hormon estrogen dan progesteron dalam tubuh akan menurun. Hal ini dapat memicu terjadinya perubahan suasana hati atau mood swing serta perasaan lelah dan tertekan. Banyak ibu baru yang merasa kewalahan untuk mengurus segalanya sendiri, termasuk mengurus kebutuhan buah hati.


Siklus tidur bayi baru lahir yang belum teratur menyebabkan ibu harus terjaga di malam hari dan menyita banyak waktu tidur mereka. Kurangnya waktu tidur yang terus-menerus ini akan membuat ibu kelelahan dan tidak nyaman. Hal inilah yang juga bisa memicu gejala baby blues, seperti perasaan sedih dan mudah tersinggung.


"Benar, mungkin saja kamu terkena baby blues Ervita," ucap Bu Tari. Mendengar penjelasan yang disampaikan oleh Pandu membuat Bu Tari merasa yakin bahwa mungkin saja, Ervita terkena baby blue. Ervita yang menangis itu bisa karena terjadinya mood swing yang membuatnya merasa sedih, dan juga bisa merasa kewalahan karena mengurus semuanya seorang diri, ledakannya menjadi menangis sebagai bentuk emosi atas semua kewalahan yang dirasakan.


"Jangan membebani diri sendiri, Ervi ...."


Pandu mengatakan itu. Di dalam pemikiran Pandu, mungkin saja Ervita memaksakan dirinya sendiri. Ervita mengerjakan segalanya sendiri. Ervita merasa kewalahan untuk mengurus dirinya sendiri dan si buah hati.


Namun, bagaimana lagi jika memang Ervita hanya sendirian dan tidak ada keluarga untuk mengurusnya dan berbagi beban pekerjaan ini. Begadang beberapa malam, dan kembali bangun di kala subuh.


"Pulang ke rumah Ibu saja yuk, Vit ... ada rumah kecil di dekat rumah Ibu. Kalau dekat kan bisa Ibu bantuin, di kios biar diurus Bapak dan juga Pandu," ucap Bu Tari.


"Tidak usah, Bu ... justru Ervita merepotkan dan membebani Ibu," ucap Ervita.

__ADS_1


"Enggak apa-apa, Ervita ... memang ibu muda membutuhkan bantuan. Rumah itu juga kosong, dan dipakai untuk menyimpan batik. Nanti bisa kami bersihkan dulu. Mau yah," ucap Bu Tari yang mengajak Ervita pindah ke rumahnya.


Menurut Bu Tari, memang Ervita bisa kewalahan dan terus-menerus bersedih jika melakukan semuanya seorang diri seperti ini. Lagipula, ada rumah kosong dua kamar di samping rumahnya yang difungsikan sebagai penyimpanan batik. Bu Tari bisa mengajak Ervita tinggal di sana dan juga lebih memudahkannya untuk membantu Ervita.


__ADS_2