Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Buka Bersama


__ADS_3

Hari ini adalah hari yang sudah disetujui untuk buka bersama. Pandu pun mengajak Ervita, dan kedua putri kecilnya untuk mengikuti buka bersama di salah satu resto di Jogjakarta. Pengalaman pertama juga berbuka bersama dengan mengajak Indi dan Irene. Tidak ada yang dititipkan kepada Eyangnya.


"Pertama kali keluar acara ngajak dua putri ya, Nda," ucap Pandu.


"Iya, padahal ya Mas Pandu sendiri saja gak apa-apa loh. Atau mengajak Indi saja," balasnya.


"Tidak apa-apa, Nda. Sekalian kamu dan Irene juga menghirup udara segar. Masak di rumah terus. Jalan-jalan sesekali berempat dalam formasi lengkap," balas Pandu.


Memang jarang mereka jalan-jalan bersama dalam formasi lengkap. Sekarang benar-benar Yayah Pandu, Nda Ervita, Indi, dan Irene jalan-jalan bersama. Walau pasti saat buka puasa nanti akan sedikit repot dengan dua anak yang sangat aktif.


"Kalau ketemu sang mantan lagi gimana, Yah?" tanya Ervita.


Setahunya jika itu adalah teman angkatan satu fakultas pastilah nanti akan bertemu dengan mantan pacar suaminya. Bukannya apa, hanya saja ucapan Lina yang pedas sering menyakiti Ervita. Walau Ervita sendiri juga tidak membalasnya.


"Biarin saja, Nda. Bagaimana pun cuma mantan. Karakternya memang begitu. Ya, mau bagaimana lagi," balasnya.


Mendengarkan ucapan suaminya, Ervita pun menganggukkan kepala. "Iya, ya udah. Mungkin dia iri dengan kebahagiaan kita berdua. Iri dengan kebahagiaan kamu. Harusnya dia kan mendampingi kamu. Namun, semuanya sia-sia saja. Bahkan sudah berusaha untuk mendapatkan hati kamu lagi, tapi enggak kamu terima," balasnya.


"Biarin saja, Nda. Yang penting aku selamanya tidak akan macam-macam. Aku juga selamanya hanya untuk kamu dan anak-anak kita," balas Pandu.


Setelah beberapa saat berkendara, sekarang Pandu sudah sampai di resto yang akan digunakan untuk buka bersama. Pandu sigap untuk menggendong Irene, dan menggendong baby bag yang berisikan peralatan tempur mereka. Memang ketika mengajak anak kecil atau toddler memang membutuhkan peralatan yang banyak mulai dari pakaian ganti, tissue basah, diapers, dan beberapa perlengkapan lainnya. Sementara Ervita sembari menggandeng tangan Indi.


"Itu, teman-temanku udah datang, Nda," ucap Pandu kepada istrinya.


"Duh, malu, Mas," balas Ervita.

__ADS_1


Pandu pun tersenyum. "Tidak perlu malu ... kamu cantik," balasnya.


Usai itu, Pandu menggandeng tangan Indi yang lainnya dan mengajak Ervita dan anak-anaknya untuk memasuki restu. Sudah ada beberapa temannya yang bertindak sebagai penerima tamu. Lantas. mereka menyalami Pandu dan Ervita.


"Wah, Pandu ... lama banget gak ketemu, Lur," sapa teman-temannya.


Lur adalah singkatan untuk 'Sedulur' atau 'Saudara' atau 'kerabat'. Panggilan ini sangat wajar untuk disebutkan di kalangan Jawa Tengah, Jogjakarta, hingga Jawa Timur. Tentu Pandu pun juga senang, bisa reuni juga teman-teman fakultas satu angkatannya.


"Sudah nikah, Ndu?" tanya temannya yang ternama Wisnu.


"Sudah, sudah dikarunia dua anak," balas Pandu.


"Wah, Pandu nikah gak kabar-kabar loh. Harusnya bagiin undangan itu. Kapan lagi dapat souvenirnya batik," balas Wisnu lagi.


Rupanya tidak berselang lama, seperti prediksi Ervita sebelumnya, ada Lina yang datang. Wanita cantik tampak tebar pesona di hadapan Pandu. Namun, Pandu lebih memilih untuk cuek. Mengajak Ervita dan anak-anaknya untuk duduk.


"Sayang yah, dulu kalau Lina jadi, sudah jadi menantu juragan batik," celetuk beberapa teman cewek yang lain.


Lina tampak mengedikkan bahunya. "Mau gimananya, tetap cantik aku kemana-mana," balasnya.


"Istrinya Pandu juga cantik tuh, kalem. Kelihatannya gak macam-macam," balas Aryanti yang dulu juga temannya Lina.


Mendengar jawaban dari Aryanti dan penilaiannya terhadap Ervita. Lina merasa tidak suka. Menurutnya, tidak ada yang lebih cantik dibanding dirinya. Juga, di matanya Ervita sama sekali tidak cantik. Terlebih jika tahu bahwa istrinya itu tidak sebaik yang terlihat.


"Cantik banget, putrimu, Ndu ... besok tak minta jadi mantu boleh enggak?" tanya Wisnu.

__ADS_1


Pandu tersenyum. Memang kedua putrinya itu cantik-cantik seperti Bundanya. Indi dan Irene sama-sama cantik.


"Gak ah, biar mereka menemukan cintanya sendiri. Bukan zaman Siti Nurbaya, Lur," balas Pandu.


Wisnu pun terkekeh mendengarkan jawaban dari Pandu. Tidak menyangka juga, Pandu menolak untuk besannya dengannya. Di satu sisi, Ervita juga tersenyum ketika mendengarkan jawaban dari Pandu. Namun, Ervita sendiri memiliki pemikiran seperti suaminya. Dia juga memilih putri-putrinya saat dewasa kelak bisa menemukan jodohnya sendiri. Dunia ini luas, Ervita berharap Indi dan Irene akan mendapatkan pasangan yang benar-benar menerima dan mencintainya. Mungkin, di dalam hati Ervita mengharapkan anak-anaknya akan mendapatkan pendamping hidup seperti suaminya, Pandu yang adalah sosok pria yang sangat baik. Hidup bersama dengan Pandu yang dirasakan Ervita adalah teduh. Ya, kehidupan rumah tangganya bersama Pandu begitu teduh.


"Anakku cakep loh, nih aku tunjukkin fotonya. Gak ada yang secakep anakku," balas Wisnu.


"Enggak, biar mencari pasangan sendiri. Kalau jodoh gak akan kemana," balas Pandu.


Usai itu suara adzan berkumandang, kemudian mulai dibuka dengan doa bersama. Setelah itu, Ervita membantu Indi untuk berbuka dulu. Sementara, Irene yang duduk di baby chair lebih tenang. Ervita juga sekalian menyuapi Irene dulu.


"Kamu mau takjil apa, Nda? Aku ambilkan," tawar Pandu kepada istrinya.


"Es Blewah itu kelihatannya enak, Mas. Minta tolong yah," balas Ervita.


Pandu mengambil es buah untuk istrinya. Membantu Ervita untuk minum karena sekarang Ervita juga sibuk membantu Indi makan dan juga Irene yang juga harus disuapin. Prinsip dalam rumah tangga mereka tidak harus melayani suami, tapi suami dan istri bisa saling melayani satu sama lain.


"Gemati men, Ndu," balas Wisnu.


Gemati di dalam bahasa Jawa berarti pengertian. Wisnu mengatakan temannya itu pria yang penuh perngertian dan perhatian. Luar biasa.


"Ya, saling melayani satu sama lain. Cintai pasanganmu karena dia adalah jodoh yang Allah takdirkan dan tentukan," balas Pandu.


Wisnu tersenyum sampai geleng kepala, tapi benar yang disampaikan mencintai pasangan karena dia adalah takdir dan jodoh yang Allah tentukan. Buka bersama yang cukup menyenangkan. Ervita dan Pandu bisa menikmatinya, tanpa terusik dengan Lina yang tebar pesona dengan Pandu. Lebih baik, keduanya membiarkannya, dan fokus dengan kehidupan pribadi keduanya.

__ADS_1


__ADS_2