Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
KKN di Jogjakarta


__ADS_3

Hari ini perkuliah Firhan memasuki babak baru yaitu semua mahasiswa akan memulai KKN mereka. KKN atau singkatan dari Kuliah Kerja Nyata adalah bentuk kegiatan pengabdian kepada masyarakat oleh mahasiswa dengan pendekatan lintas keilmuan dan sektoral pada waktu dan daerah tertentu. Pelaksanaan kegiatan KKN biasanya berlangsung antara satu hingga dua bulan dan bertempat di daerah setingkat desa.


"Bapak ... Ibu, Firhan minta izin untuk berangkat KKN di Jogjakarta," pamitnya kepada kedua orang tuanya.


"Berapa lama?" tanya Bu Yeni kepada putranya itu.


"Satu bulan, Bu ... hanya saja nanti dua minggu sekali Firhan akan pulang kok," balasnya.


"Ya sudah, jaga diri baik-baik. Hati-hati ... bawa minyak kayu putih dan obat masuk angin biar enggak sakit di sana, dan enggak mual-mual lagi," sahut Bu Yeni.


Sebagai orang tua, Bu Yeni mengingatkan supaya Firhan tidak melupakan obat pribadinya. Sebab, sampai sekarang saja masih beberapa kali Firhan merasakan mual dan muntah-muntah. Tidak jelas penyebabnya, tetapi rasa mual dan muntah itu benar-benar menyiksa Firhan.


Bahkan tiga bulan yang lalu, merasakan mual dan sakit perut yang benar-benar sakit. Kala itu, orang tua Firhan sampai merasa bahwa putranya itu kena guna-guna, karena kala itu Firhan benar-benar sakit, mual, sakit perut, dan juga wajahnya begitu pucat. Sampai Bapaknya Firhan bertanya ke tetangganya yang adalah 'orang pintar', mungkinkah Firhan kena guna-guna atau sebagainya, tetapi tidak. Firhan bahkan dilihat oleh 'orang pintar' tersebut dalam keadaan sehat.


Maka dari itu, sekarang orang tua Firhan pun merasa khawatir dengan kesehatan anaknya yang seolah tampak sakit-sakitan, padahal sehat. Namun, Firhan memang menolak untuk periksa ke Dokter dan mengganggap semua itu hanya masuk angin saja.


"Kalau tiba-tiba merasa tidak enak badan, kabarin Ibu ya, Han," ucap Bu Yeni lagi.


"Iya Bu ... semoga saja Firhan sehat-sehat sampai KKN ini selesai," balasnya.


Setelahnya, Firhan berpamitan dan menuju ke kampus. KKN hari ini akan dijalani Firhan dengan berkumpul dulu dengan para mahasiswa lainnya yang jumlahnya sampai 25 orang di kampus. Ada sessi koordinasi terlebih dahulu barulah kemudian berangkat bersama menuju perkampungan batik di area Jogjakarta, Kampung Batik Ngasem adalah salah satu sentra batik yang sudah berdiri sejak 1970an akan dituju Firhan dan para mahasiswa lainnya.


Akan tetapi, kali ini Firhan merasa hatinya tidak menentu. Matanya juga beberapa kali berkedut. Kata orang tuanya, jika mata mengalami kedutan katanya akan bertemu dengan seseorang. Akan tetapi, Firhan merasa bingung juga akan bertemu dengan siapa di Jogjakarta nanti. Alih-alih memikirkan matanya yang beberapa kali berkedut, Firhan lebih peduli dengan kesehatannya.


"Ikut KKN jadinya Han?" tanya Rudi yang adalah teman kuliah Firhan.

__ADS_1


"Iya dong, Rud ... masak KKN enggak ikut. Nanti aku enggak lulus-lulus," balas Firhan.


"Kamu kan sakit-sakitan gini," balas Rudi dengan tertawa seolah mengejek Firhan di sana.


"Bukan sakit. Masuk angin aja," balas Firhan. Sekali lagi Firhan mengatakan bahwa dirinya bukan sakit, hanya sebatas masuk angin biasa.


"Bau kamu kayak seperti simbah-simbah yang bau minyak angin, Han. Periksa sana, sapa tahu kamu punya penyakit tertentu. Eh, Ervita gimana kabarnya Han? Dia putus kuliah gitu aja yah?" tanya Rudi lagi.


Pertanyaan Rudi seolah begitu menohok Firhan. Setelah beberapa waktu berlalu, rupanya masih ada beberapa mahasiswa yang menanyai di mana Ervita berada. Padahal, Firhan sudah berusaha melupakan Ervita, bahkan kini Firhan juga sudah move on dan menjalin hubungan dengan mahasiswa yang satu tingkat dengannya yang bernama Tiana. Bahkan sekarang, keduanya juga satu kelompok dalam KKN ke Jogjakarta.


"Gak usah membahas yang sudah tidak di sini," sahut Firhan.


Kemudian Rudi menggelengkan kepalanya, "Bagaimanapun kan kamu dulu pacarnya, jadi tahu dong kemana Ervita sekarang," balas Rudi.


Jari telunjuk Firhan terangkat dan menunjuk kepada Tiana yang kala itu baru saja tiba di Fakultas Ilmu Ekonomi dan Bisnis. Pria itu tersenyum manis seolah menyambut kedatangan gadisnya itu.


"Paling nanti habis manis sepah dibuang juga kayak Ervita," balas Rudi dengan menatap tajam wajah Firhan.


Firhan menghela nafas kasar dan kemudian menatap temannya itu, "Enggak usah ikut campur, jika memang tidak mau berurusan sama aku. Hidup tenang saja, Bro," ancam Firhan yang memilih pergi dan menghampiri Tiana yang sudah tersenyum manis kepadanya.


***


Beberapa jam pun berlalu ....


Kini rombongan mahasiswa KKN dari Solo sudah tiba di Jogjakarta. Begitu sampai di tempat KKN, mereka diterima baik oleh tokoh masyarakat setempat dan juga akan mendapatkan pengalaman dan juga informasi seputar batik dan penjualan batik khas Jogjakarta yang sudah menembus pasar nasional dan internasional.

__ADS_1


"Selamat datang di Kampung Batik Ngasem, Jogjakarta ... semoga seluruh mahasiswa bisa mengikuti KKN di sini selama 30 hari dengan aman, lancar, dan tertib," sambutan dari tokoh masyarakat setempat.


Disambut baik, kemudian mereka juga menempati gedung serba guna yang akan menjadi tempat bagi mereka selama 30 hari ke depan. Tentu dengan dibuat pembatasan untuk mahasiswa dan mahasiswi.


KKN pun tidak sepenuhnya dengan kegiatan kampus. Ada kalanya, mahasiswa diberikan waktu luang dan waktu istirahat. Akan tetapi, kala itu Firhan merasakan perutnya yang mendadak mual. Kembali Firhan keluar dan mencari toilet untuk memuntahkan isi perutnya. Rasa mual yang begitu menyeruak hingga membuat Firhan mau muntah untuk mengurangi mual itu.


Hoek ... hoek ... hoek ...


Sampai ada Tiana dan beberapa mahasiswa yang mendatangi Firhan yang suaranya ketika muntah terdengar begitu nyaring.


"Han, gimana ... kamu sakit apa?" tanya Tiana yang tampak bingung.


"Enggak tahu, mual banget ... pening," balasnya dengan memejamkan matanya sesaat.


Rudi yang melihat Firhan kembali mual dan muntah memilih untuk tidak berkomentar dan justru tersenyum tipis di sana. Pasti mual dan muntahnya Firhan ini karena sesuatu, bukan penyakit. Sebab, Rudi mengamati cukup lama juga Firhan mengalami mual dan muntah seperti ini.


"Dibawa ke Puskesmas saja Masnya. Ada Dokter dan perawat di sana yang bisa memeriksa. Mungkin saja asam lambungnya naik atau gimana," sahut Pak Bandi yang adalah tokoh masyarakat di sana.


"Ti ... tidak usah Pak," balas Firhan. Sebab, memang dia sudah terbiasa mual dan muntah seperti ini.


"Tidak apa-apa Mas ... biar cepat sembuh dan sehat, bisa melanjutkan KKN. Masak baru saja datang sudah sakit. Ada Dokter Umum di sana," jelas Pak Bandi lagi.


"Benar Firhan ... ke Puskesmas yuk, aku temenin," ucap Tiana yang setuju dengan usul dengan Pak Bandi.


Setidaknya bisa mendapatkan obat untuk mual dan muntahnya Firhan. Pastilah di Puskesmas ada obat anti mual yang bisa Firhan minum terlebih dahulu. Lagipula, Firhan memang harus ditangani, jika tidak mual dan muntah yang dia alami bisa mengganggu berjalannya KKN.

__ADS_1


__ADS_2