Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Pagi yang Indah


__ADS_3

Pagi itu menjadi pagi yang indah untuk Pandu dan Ervita. Bagaimana tidak indah, jika semalam keduanya berbaring bersama. Hanya selimut putih tebal yang membungkus keduanya. Tubuh dalam kepolosan mutlak yang bergelung di balik selimut itu tampak memeluk dan mendekap satu sama lain. Kepala Ervita yang bersandar di lengan Pandu, sementara tangan Pandu tampak memeluk Adindanya itu. 


Sebelum fajar menyingsing, dua sejoli itu sudah terbangun dan saling tersenyum. Namun, sesaat kemudian Ervita menyembunyikan wajahnya di balik selimut. Begitu sadar, barulah Ervita merasakan betapa malunya dirinya bisa dalam kepolosan mutlak bersama Pandu. 


"Pagi Adinda," sapanya dengan suara yang serak khas orang baru bangun tidur. "Kenapa sembunyi sih, aku mau melihat cantiknya wajah kamu di pagi hari," balas Pandu dengan menyingkap selimut itu. 


Perlahan, wajah Ervita pun keluar dan menggelengkan kepalanya, "Malu," balasnya. 


"Kenapa harus malu. Pagi Adindaku," sapa Pandu lagi dengan mengecup kening istrinya itu. 


"Pagi Mas Kanda," balasnya dengan begitu malu. 


"Pagi pertama kita sebagai suami istri," balas Pandu. 


Ervita pun menganggukkan kepalanya, "Iya, Mas … aku buru-buru mandi boleh? Kasihan Indi, semalam dia rewel atau tidak. Ini kali pertama dia tidur tanpa aku," ucap Ervita sekarang. 


Pandu pun menganggukkan kepalanya, "Ya, eh, tapi … mandi barengan aja Dinda … lebih cepat lebih baik," sahutnya kini. 


Agaknya Pandu berubah pikiran kali ini dan lebih memilih untuk mengajak istrinya itu untuk mandi bersama. Menyambut pagi pertama sebagai suami dan istri dengan mandi bersama. 


"Nanti malahan gak jadi mandi, di ajak terbang ke Swargaloka nanti," balas Ervita dengan melirik suaminya itu. 


"Enggak, janji … cuma mandi aja kok," balas Pandu. 


Seolah tak menerima penolakan, Pandu segera berdiri dan lagi-lagi pria itu polos mutlak berdiri di hadapan Ervita. Tangannya sudah terulur menyambut tangan Ervita. 


"Janji loh," ucap Ervita. 


Pandu pun menganggukkan kepalanya, "Iya, Adinda … janji," balasnya dengan sungguh-sungguh. 


Kali ini Pandu benar-benar menepati janjinya hanya sekadar mandi bersama, tanpa aneh-aneh lagi karena Pandu juga mengkhawatirkan Indi. Ada rasa takut juga jika Indi semalam rewel dan membuat Mbaknya dan suaminya harus begadang semalaman. Usai mandi, Ervita mengenakan celana panjang dan juga kemeja, merapikan rambutnya dan memoles tipis wajahnya. Sejenak Pandu mengamati skincare apa yang dikenakan Ervita, kenapa wanita itu tampak cantik. Namun, Pandu tersenyum di sana hanya ada skincare dengan harga ekonomis yang bisa didapatkan di mini market terdekat. 


"Skincare kamu itu ya Dinda?" tanyanya. 


"Hmm, skincare apaan Mas? Cuma krim pagi dan krim malam. Serum aja belinya kalau uangnya sisa," balasnya. 


Pandu tersenyum di sana, "Nanti aku beliin deh serumnya. Kamu mau apa lagi?" tawarnya kini. 


Ervita pun menggelengkan kepalanya, "Enggak … enggak usah. Bagiku, menikah bukan berarti kamu harus membelikan semua yang aku mau," balas Ervita. 

__ADS_1


Pandu mengernyitkan keningnya, mencoba mencerna ucapan istrinya itu, "Kan begitu, Dinda… kamu tanggung jawabku," balas Pandu. 


"Tanggung jawab, bukan beban hidup. Jadi, gak usah," balas Ervita. 


Pandu tersenyum di sana, "Santai saja. Intinya nafkah lahir dan batin aman Dinda. Kanda ini kan bekerja siang malam untuk anak istri. Pergi pagi pulang pagi pun Kanda rela," balasnya dengan memegangi bahu Ervita. 


"Mas Pandu sekarang pinter gombalin loh. Peningkatan," balasnya. 


"Cuma sama kamu, Dinda … tanda sayang kepada istri tercinta," balas Pandu. 


Ervita kemudian kembali meneruskan make up tipis-tipis kemudian dia menyibak untaian rambutnya, terlihat dua tanda merah di lehernya. Ervita mengusapnya perlahan, tetapi tanda merah rasanya justru semakin terang. Ervita pun merasa bingung bagaimana menutupinya. 


"Mas, kalau rambutku, aku urai gini merahnya kelihatan enggak sih?" tanyanya. 


"Hmm, merah apa?" tanya Pandu bingung. 


"Ini, kamu gigit … merah banget. Ketahuan enggak yah?" balas Ervita dengan menghela nafas. 


Tidak langsung menjawab, nyatanya Pandu justru tersenyum. Lantas tangannya bergerak dan mencoba untuk menata rambut Ervita di sana. "Diurai gini aja Dinda, aman kok," balasnya. 


"Yakin aman?" tanya Ervita lagi. 


Setelah merasa siap, keduanya keluar dari kamarnya dan menuju ke kamar Pertiwi. Tujuannya sekarang adalah untuk menjemput Indira. Kasihan semalaman Indira tidur bersama Lintang. Lagi pula, semalam juga misi mengesahkan akad sudah dilangsungkan, sehingga bisa mengasuh Indira kembali. 


Pandu pun mengetuk pintu kamar kakaknya itu. "Mbak Pertiwi ... Mas Damar," sapanya dengan mengetuk pintu kamar hotel itu. 


Tidak berselang lama, Pertiwi pun membukakan pintu untuk adiknya itu. 


"Wis, pengantin baru ... pagi-pagi udah keramas. Berhasil, Ndu?" tanyanya. 


Pandu pun bersikap biasa saja seperti biasanya, tetapi Pertiwi kian tersenyum ketika dia melihat tangan Pandu dan Ervita saling menggandeng satu sama lain. 


"Mbak, Indi mana? Maaf merepotkan ya Mbak," ucap Ervita dengan mencari keberadaan anaknya itu. 


"Aman, Indi semalam juga langsung tidur kok. Sebentar yah," balas Pertiwi. 


Rupanya Pertiwi memanggil Indira untuk keluar dan menunjukkan kepada Ervita dan Pandu bahwa Indira sudah mandi juga pagi itu. 


"Sudah aku mandiin sama Lintang tadi sekalian, Vi ... sudah minum susu hangat juga," balas Pertiwi. 

__ADS_1


"Ya ampun, makasih banget ya Mbak ... jadi merepotkan Mbak Pertiwi," balasnya. 


Pertiwi pun kembali tersenyum, "Sama-sama, kalian mau bulan madu seminggu ya boleh, penting jangan lupa transferannya ya Adikku yang paling ganteng," balas Pertiwi yang lagi-lagi menggoda Pandu. 


"Apa sih Mbak, bisa aja loh," sahut Pandu dengan wajah datarnya. 


"Yayah ... Nda," teriak Indira begitu melihat Ayah dan Bundanya. 


Pandu segera mengurai tangan Ervita dari genggamannya dan menggendong Indira. 


"Ayah kangen kamu," ucap Pandu. 


"Yayah," balas Indi dengan suaranya yang begitu manja. 


"Kalian mau sarapan enggak? Barengan yuk," ajak Pertiwi kini kepada keduanya. 


"Yuk, Mbak," jawab Ervita. 


Akhirnya dua pasangan itu menuju resto dan menikmati sarapan mereka. Kedua orang tua mereka juga masih berada di sana, bersama Mei dan Tanto suaminya. Kedua orang tua pun tersenyum ketika melihat Pandu dan Ervita menuju restoran di hotel ini. 


"Pengantin baru," ucap keluarga di situ bersamaan. 


"Aman Le?" tanya Bu Tari yang sekadar menggoda putranya itu. 


Akan tetapi, melihat wajah keduanya yang sumringah laksana matahari terbit, Bu Tari yakin sesuatu yang indah sudah terjadi. Sebagai seorang Ibu, Bu Tari pun bersyukur karena Pandu akhirnya menemukan kebahagiaan dalam hidupnya bersama Ervita dan Indira. 


"Biar sarapan dulu, Bu ... jangan diganggu," balas Pak Hadinata. 


Seperti biasa, Pandu terlihat senyam-senyum. Pria itu mendudukkan Indira di baby chair, dan kemudian mengambilkan beberapa sarapan untuk dirinya, Ervita, dan Indira. Pandu yang mengambil makanan karena memberikan waktu bagi Ervita untuk menyuapi Indira. 


"Mau apa lagi biar aku yang ambil," ucapnya. 


"Udah, ini banyak banget. Mas Pandu mau teh atau kopi, aku ambilin," tawar Ervita kini kepada suaminya. 


"Kopi aja Nda, jangan terlalu manis yah," balasnya. 


Mendengar request dari Pandu, Pertiwi pun segera membuka suaranya, "Cie-cie, manggilnya Nda loh sekarang. Bunda yah," balasnya. 


Pandu pun memilih diam dan tenang. Nda yang dimaksud sebenarnya bukan Bunda, melainkan Adinda. Panggilan sayangnya untuk istrinya tercinta. 

__ADS_1


__ADS_2