
Semalaman Pandu benar-benar tidur di sofa yang berada di ruang tamu kediaman Ervita di rumah. Hingga subuh, Pandu sudah bangun dan melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim yang taat. Dia bersama Pak Agus yang sudah bangun, bersama-sama menuju Mushola yang tempatnya tidak jauh dari rumah. Sementara si pengantin baru mungkin saja kecapekan sehingga tidak turut melakukan Sholat Subuh.
Usai dari Mushola, Pak Agus pun masih menyempatkan mengobrol dengan Pandu. Rasanya masih ingin mengenal sosok calon menantunya itu.
"Mas Pandu kerjanya apa?" tanya Pak Agus.
"Saya konsultan untuk desain interior, Pak ... sama membantu usaha batik di rumah," balasnya.
"Usianya berapa Mas?"
"Sudah 29 tahun, Pak ... sudah tidak muda lagi," balasnya dengan sedikit menganggukkan kepalanya.
Pak Agus yang mendengarkannya pun turut mengangguk-anggukkan kepalanya, "Ervi baru 24 tahun. Harusnya dia sudah lulus jadi Sarjana, tapi ada boleh buat. Semuanya yang berlaku tentu kedaulatan Allah semata," balas Pak Agus.
Sebenarnya Ervita sendiri sudah diharapkan menjadi Sarjana, mengingat Ervita memang siswa yang pintar sejak dulu. Undangan jalur PMDK pun tidak disia-siakan Ervita. Apa daya, semuanya gagal ketika Ervita berbadan dulu kala itu.
"Tidak apa-apa, Pak ... sekeras apa pun jalan manusia itu tetap kedaulatan Allah yang berlaku," balas Pandu.
Memang demikianlah kehidupan manusia. Sekuat apa pun, setinggi apa pun asa dan harapan kita, tetapi yang terjadi semata-mata hanya kedaulatan Allah saja. Semuanya sudah digariskan oleh Allah, dan manusia hanya sekadar menjalaninya.
"Kalau di Jogja, Ervita bekerja juga ya Mas?" tanya Pak Agus.
"Iya Pak ... membantu Ibu dan Bapak untuk berjualan batik yang online, bisa dikerjakan di rumah kok Pak. Jadi ya bisa sambil mengasuh Indi," balas Pandu.
Jawaban yang diberikan Pandu pun juga jawaban apa adanya. Sebagaimana keseharian Ervita di rumah yang Pandu tahu.
Hingga akhirnya, Ervita keluar dari kamarnya. Wajah khas orang bangun tidur. Akan tetapi, justru Pandu seolah terpesona dengan ayu-nya Ervita pagi itu. Wanita dengan kulit kuning langsat itu tampak begitu ayu dan sederhana.
"Sugeng enjing (selamat pagi - dalam bahasa Jawa) Pak ... Mas Pandu," sapanya dengan menundukkan wajahnya.
"Pagi ... mau ke mana?" tanya Pak Agus kepada anaknya itu.
"Mau belanja sayur Pak ... masak buat sarapan," balasnya.
Akhirnya Ervita pun pergi bersama Ibunya ke gang depan rumah, di sana terbiasa ada penjual sayur di pagi hari. Setelahnya Ervita, Ibunya, dan Mei juga memasak bersama.
Usai sarapan dan berkemas, Ervita pun lantas berpamitan dengan keluarganya. Nanti, dia akan pulang lagi ke Solo. Walau berat membiarkan Ervita kembali ke Jogja, tetapi bagaimana lagi bahwa di Jogja pun Ervita juga bekerja.
__ADS_1
Kini, Ervita, Pandu dan Indi sudah berada di dalam mobilnya dan menuju perjalanan ke Jogjakarta. Walau kala berpisah Ervita sempat menitikkan air matanya, tetapi Ervita merasa lebih baik karena hubungan yang sempat terputus dengan orang tuanya sudah lebih baik dan menyatu kembali sekarang.
Kurang lebih dua jam berkendara, kini mobil yang dikemudikan Pandu sudah sampai di Jogjakarta. "Ervi, mampir ke Mall sebentar yah," ajak Pandu kepada Ervita.
"Oh, iya Mas," balasnya.
Pandu pun melajukan mobilnya menuju salah satu Mall yang ada di area Monjali, Jogjakarta. Begitu turun, Pandu segera menawarkan untuk menggendong Indira.
"Sini Indi ikut Ayah yah," ucapnya.
Tidak banyak penolakan, Indira pun segera mau-mau saja digendong Pandu. Sehingga kini ketiganya masuk ke dalam pusat perbelanjaan itu. Bisa dikatakan setelah pergi dari rumah, baru kali ini Ervita menyambangi sebuah Mall.
"Kamu mau beli sesuatu tidak Vi?" tanya Pandu kemudian.
Ervita menggelengkan kepalanya, "Enggak Mas ... semua sudah ada di rumah," balas Ervita.
Pandu pun tersenyum, "Hitung-hitung pacaran dulu ya Vi ... jalan-jalan saja sebentar. Sekalian makan, nanti baru pulang ke rumah," balas Pandu.
Tidak dikira di Mall itu, Pandu dan Ervita bertemu dengan Mbak Lintang dan Mas Damar yang kala itu hanya berduaan saja ke Mall. Melihat Pandu di sana, Mbak Pertiwi pun langsung nyamperin adiknya itu.
"Pandu ... pacaran nih ye," godanya.
"Mampir makan dulu Mbak," balasnya tenang.
"Pacaran juga enggak apa-apa. Pacarannya bawa anak ya, Ndu ... sayang anak," balas Mbak Pertiwi yang memang lebih ceriwis.
Pandu pun tersenyum, "Aku sudah lulus jadi Ayah, Mbak ... nanti baru belajar menjadi suami," balasnya dengan melirik ke Ervita.
Mas Damar pun tertawa, "Boleh juga ... 40 hari lagi ya Pandu. Udah nanti tenang saja, Indi biar main sama Lintang. Semuanya aman kok," balas Mas Damar.
"Udah yuk Mas ... kita jalan-jalan. Ervi sudah malu itu, wajahnya seperti kepiting rebus," balasnya.
Sepeninggal Pertiwi dan Damar, Pandu menatap ke Ervita. "Ke toko baju itu ya Vi ... aku mau beliin dress Little Pony untuk Indi," ucapnya.
"Mas, kemarin kan habis dibelikan boneka ... ini masak dibeliin lagi sih?" tanya Ervita yang merasa tidak enak hati.
"Tidak apa-apa. Kamu mau sesuatu bilang saja, Vi," balas Pandu.
__ADS_1
Di department store itu, tampak Pandu dan Ervita memilih dan melihat berbagai dress dengan gambar Little Pony di sana. Indira pun rasanya juga senang karena ini kali pertamanya menyambangi Mall dan melihat berbagai pernak-pernik Little Pony yang lucu.
"Indi mau yang mana? Pilih satu yah?" ucap Pandu yang membiarkan Indi untuk memilih.
"Ungu, Yah ...."
"Yang ungu ini?" tanya Pandu lagi.
"Hu-um, ungu," balasnya dengan menganggukkan kepalanya.
Akhirnya Pandu membelikan dress Little Pony untuk Indira. Sebagaimana janjinya dulu yang ingin membelikan dress untuk Indira. Kemudian Pandu menatap ke Ervita lagi.
"Kamu beneran tidak ingin sesuatu?" tanya Pandu. Pikirnya mumpung masih berada di Mall.
"Tidak. Sudah kok Mas ... Indi sudah dibeliin, aku sudah berterima kasih banyak," balasnya.
Pandu tersenyum di sana, "Ya sudah, makan yuk Dik ...."
Astaga, Pandu makin ada-ada saja. Yang dimaksud Adik siapa ini? Ervita atau Indira?
"Dik siapa Mas?" tanya Ervi dengan bingung.
"Kamu ... Adik Ervi," balasnya.
Ervita pun tersipu-sipu di sana, "Jangan begitu Mas ... panggil Ervi saja seperti biasanya. Ya sudah, Dinda aja yah," balas Pandu.
Lagi-lagi Ervita tersenyum dan menundukkan wajahnya, "Malu Mas ... Ervi saja," balasnya.
Pandu kemudian menganggukkan kepalanya, kali ini pemuda itu juga menggandeng tangan Ervita, "Gini Vi ... gandengan tangan enggak apa-apa kan. Makan yah," ajak Pandu.
"Hmm, iya ... Ervi ngikut Mas Pandu aja," balasnya.
"Didi ikut Yayah," ucap Indi yang tidak mau ketinggalan.
"Iya, Indi digendong Ayah yah. Makan mau?" tanya Pandu kepada Indira.
"Auu ... maem," balasnya.
__ADS_1
Begitu bahagianya Pandu. Setelah lima tahun berlalu, setelah menjomblo sekian lama. Kini hanya tinggal menunggu hitungan pekan saja, dia akan segera melepas masa lajangnya. Memang bukan mendapatkan gadis, tetapi Pandu merasa begitu menyayangi Ervita dan juga Indira.