
Dua hari berada di Solo rupanya menjadi pengalaman yang cukup berat untuk keluarga Pandu. Selain karena Indi yang merasa kebingungan, juga tentu Ervita yang harus berhadapan dengan masa lalu. Setelah dua malam di Solo, kini Pandu mengajak Ervita, Indi, dan Irene untuk kembali ke Jogja.
"Bapak dan Ibu, kami pamit pulang ke Jogja. Nanti di lain waktu, pasti kami akan main dan menginap di Solo lagi," pamit Pandu.
"Iya, sama-sama Mas Pandu ... kami justru senang, Mas Pandu dan Ervi mau pulang ke Solo," ucap Bu Sri.
"Pasti pulang ke Solo sih, Bu," jawab Pandu lagi.
Ya, bagaimana pun bahwa Solo adalah kampung halaman Ervita. Ditambah Solo ke Jogjakarta tidak terlalu jauh, hanya dua jam perjalanan saja. Jika, menaiki kereta api justru hanya satu jam perjalanan. Lebih efisien ketika ada tol Solo - Jogjakarta nanti jarak tempuh Solo ke Jogjakarta hanya sekitaran 30 menit saja. Tentu itu semakin mempermudah akses dari Solo ke Jogja, dan sebaliknya.
"Ervi, anak-anak, dan Mas Pandu pamit pulang ya, Bapak dan Ibu."
Sekarang giliran Ervita yang berpamitan dengan keluarganya. Bagaimana pun perpisahan itu membuat sedih. Bu Sri pun sampai menitikkan air matanya ketika Ervita berpamitan. Sebenarnya masih ada rasa ingin bisa berlama-lama mengasuh Irene yang masih bayi. Namun, Bu Sri juga tahu bahwa pekerjaan Pandu berada di Jogja.
Selain itu, Mei dan Tanto juga memberikan ucapan terima kasih dan sedikit kado untuk Baby Irene serta mainan untuk Indi.
"Terima kasih Bu Ervi dan Ayah Pandu sudah memberikan Stroller untuk Arka. Kami gak bisa membalas banyak, ini sedikit kado kecil untuk Mbak Indi dan Mbak Indi," ucap Mei.
Ervita menggelengkan kepalanya. "Gak usah ... repot-repot loh. Kami balik ke Solo memang untuk mengunjungi Arka," balas Ervita.
"Tidak apa-apa, Mbak. Tanda kasih sayang saja," balas Mei.
Ervita akhirnya menerima hadiah dari adiknya itu. Walau sebenarnya Ervita juga terharu, karena dia tidak pernah mengharapkan pemberian dari Mei dan Tanto. Dia dan Pandu selalu menekankan bahwa ketika memberi, akan memberikannya dengan ikhlas. Bahkan jika bisa tidak perlu diketahui oleh orang lain.
Setelah berpamitan. Ervita dan keluarga menuju ke mobilnya. Di dalam hatinya, Bu Sri bersyukur. Dia memiliki menantu yang sangat baik. Menantu yang menerima Ervita, menyayangi Indi, dan Pandu memang sosok Ayah yang sangat baik. Oleh karena itu, kehadiran Pandu benar-benar disyukuri oleh Bu Sri.
__ADS_1
"Dulu hidup Ervita benar-benar pontang-panting (jatuh-bangun), tapi semuanya berubah setelah ada Pandu. Bahkan Indi pun memiliki Ayah yang sangat baik. Walau sudah bertemu dengan Ayah Biologisnya, tapi lihatlah Pak ... Indi sesayang itu sama Pandu," ucap Bu Sri dengan memperhatikan punggung Ervita, Pandu, dan Indi yang semakin menjauh.
Pandu melajukan mobilnya dengan pelan-pelan, tapi di jalan, ada Firhan yang menyusul dengan sepeda motor dan menghentikan mobil milik Pandu. Pria itu seolah ingin menyampaikan sesuatu.
"Tunggu dulu," teriak Firhan.
Melihat ada yang membuntutinya dan menghidupkan klakson, Pandu pun menepikan mobilnya di bahu jalan. Kali ini hanya Pandu yang turun dari mobil, sementara Ervita dan anak-anak menunggu di dalam mobil.
"Ada apa?" tanya Pandu.
"Tolong berikan ini untuk Indi, dari Ayahnya," ucap Firhan.
Tidak bisa disangkal, jika bersangkutan dengan Indi, perasaan Pandu lebih sensitif. Akan tetapi, Pandu pun menerima kotak dari Firhan itu.
"Akan aku berikan," ucap Pandu.
Pandu mengakui keputusan yang berat. Hingga, Ervita membuka kaca jendela mobilnya dan menanyai apa yang sebenarnya terjadi. Pandu mengatakan maksud dan keinginan Firhan itu. Akhirnya, Pandu memberikan jawabannya.
"Aku akan mengajak Indi keluar, tapi jika anaknya tidak mau. Mohon, jangan dipaksa," balas Pandu. Walau hati tidak rela, tapi Pandu berusaha memberikan jawaban yang sopan dan tidak melukai perasaan Firhan. Sebab, Pandu mengingat bahwa ikatan Indi dengan Firhan adalah ikatan darah yang lebih kuat daripada ikatan Indi dengannya.
Pandu kemudian membuka pintu mobil di belakang. "Nak, turun sebentar yuk?" Pandu dengan begitu lembut mengajak Indi untuk turun.
Akan tetapi, baru melihat wajah Firhan, Indi sudah menangis. Ada memori yang muncul bahwa pria itu akan memintanya untuk memanggil Ayah. Namun, bukan Pandu namanya jika tidak bisa menenangkan Indi. Pandu kemudian menggendong Indi, sebagai bukti bahwa Pandu akan selalu menjaga Indi.
"Cup, jangan nangis dulu dong ... cuma sebentar kok," ucap Pandu.
__ADS_1
Indi justru menyembunyikan wajahnya di dada Yayahnya. Ada rasa takut yang timbul begitu saja. Saking takutnya sampai tidak berani menatap Firhan.
"Indi, Om Firhan mau berikan ini untuk Indi," ucap Firhan.
Di sini Firhan menyebut dirinya dengan sebutan Om, tentu supaya tidak ada penolakan lagi dari Indi. Walau di dalam hati, tidak dipungkiri pastilah begitu sakit. Anak biologis, darah dagingnya sendiri justru tidak mau bertemu Ayahnya, dan kini justru tersedu-sedan dalam gendongan ayah sambungnya. Rasanya, juga sangat memilukan berdiri di posisi Firhan sekarang ini.
"Semoga lain waktu kalau Indi main ke Solo, bisa bertemu lagi yah. Doakan Tante Wati dan Om suatu saat bisa memiliki anak yang lucu kayak Indi yah," ucap Firhan.
Wajah pria itu memerah, matanya pun turut memerah. Menekan perasaan sendiri sangat tidak mudah. Akan tetapi, nyatanya Firhan berusaha keras untuk menekan perasaannya sendiri.
"Sampai jumpa lagi, Indi ... Ayah sayang kamu."
Ketika Firhan mengatakan itu, Indi menggelengkan kepalanya. "Ndak, Yayahnya Didi bukan Om, tapi Yayah Pandu," jawabnya.
Pandu tidak bisa menjawab apa pun. Dia hanya menggendong dan mengusapi kepala Indi. Membiarkan air mata Indi tumpah di kemejanya kala itu.
"Yayah ... Yayahnya Didi cuma Yayah," ucapnya dengan terisak-isak.
Pandu hanya menganggukkan saja. Tidak bisa memberikan jawaban di hadapan Firhan. Itu juga supaya Firhan tidak sakit hati karenanya.
"Baiklah, Pandu ... silakan dilanjutkan perjalanannya. Suwun yow," ucap Firhan kemudian.
Dengan cepat Firhan menjalankan sepeda motornya, sementara Pandu masih menggendong Indi dan menenangkan Indi. Di dalam mobil, Ervita juga meneteskan air matanya. Berat juga situasinya untuk Indi dan Pandu.
"Sudah Sayangnya Yayah ... jangan nangis yah. Kita pulang ke rumah kita di Jogja yah?" ajak Pandu.
__ADS_1
"Iya Yayah ... Didi gak mau ketemu Om itu," balasnya.
Tidak ada yang memberitahu, dan tidak ada rasa kebencian yang ditanamkan orang tua. Namun, seolah Indi sudah membangun tembok sendiri. Di hadapannya sosok Yayah yang dia kenal dan dia sayang hanyalah Pandu seorang.