
Mengawali berbuka puasa pertama di puasa Ramadhan kali ini, Ervita sudah bersiap untuk membuatkan takjil yang sebelumnya sudah dipesan oleh suaminya, yaitu Kolak. Kolak adalah makanan khas Indonesia yang dibuat dari Gula Aren atau Gula Jawa, Santan, dan Daun Pandan. Kolak sendiri bisa berisikan Buah Pisang, Ketela, Kolang-kaling, atau Singkong. Memiliki cita rasa yang manis dan gurih, sehingga Kolak sering kali dijadikan sebagai menu takjil.
Sekarang, Ervita membuat Kolak Pisang dan Kolang-Kaling untuk suaminya. Harumnya Gula Aren yang dimasak dengan Daun Pandan memenuhi seisi dapur milik Ervita. Sampai Indi pun bertanya apa yang sedang dibuat Bundanya sekarang.
"Bikin apa sih, Nda? Kok harum sekali. Enak sekali loh, Nda," ucap Indi dengan mencium dan menghirup dalam-dalam aroma kolak itu.
"Bikin kolak, Mbak Didi. Yayah pengen dibuatkan kolak untuk berbuka nanti," jawab Ervita.
"Nanti Didi juga mau ya, Nda," balasnya dengan cepat.
Ervita pun tersenyum sembari menganggukkan kepalanya. "Iya, nunggu waktunya berbuka yah," balas Ervita.
"Berbuka apa, Nda?" tanya Indi lagi.
"Waktu untuk membatalkan puasa dengan makan dan minum. Sekarang kan Yayah dan Bunda sedang menunaikan ibadah puasa, Sayang. Tidak makan dan minum. Nanti boleh makan saat berbuka dan sahur. Mbak Didi kan belum puasa," balas Ervita.
"Tahun depan, Didi mau belajar berpuasa ya, Nda. Kalau tidak makan dari usai sahur sampai berbuka, apa Didi kuat, Nda?" tanya Indi sekarang.
"Dicoba setengah hari, Sayang. Boleh. Melatih diri untuk berpuasa," balas Ervita.
Indi kemudian menganggukkan kepalanya. "Ya, ya, ya ... Didi mau Bunda. Ajarin ya, Nda," balas Indi.
Tentu Ervita sangat mau untuk mengajari Indi menjalankan ibadah puasa. Inilah peran keluarga sebagai madrasah pertama untuk anak. Segala sesuatu akan anak rasakan di keluarga. Begitu juga untuk pengajaran agama yang juga dimulai dari dalam keluarga. Ayah dan Ibu yang menjadi guru pertama untuk anak-anak.
"Makasih, Nda. Tidak sabar belajar berpuasa tahun depan," balas Indi.
Ervita tersenyum. Memang tahun depan Indi akan berusia 5 tahun, sudah waktunya untuk diperkenalkan dengan ibadah puasa. Selain itu, pastilah Ervita dan Pandu nanti juga akan mengajari dan menuntun Indi untuk berpuasa.
Setengah jam membuat Kolak akhirnya sudah jadi. Terlihat Indi yang sangat ingin, tapi dia mau menahan untuk menunggu Yayahnya.
"Kolaknya enggak dicicip sama, Nda?" tanya Indi kepada Bundanya.
"Kan Nda puasa, Sayang. Jadi, gak usah dicicip. Langsung dimakan nanti saja waktunya berbuka," balas Ervita.
__ADS_1
"Tahunya enak dan tidak enak dari mana, Nda?" tanya Indi lagi.
Ervita kemudian tersenyum. "Pasti enak kok. Apalagi Yayah kan selalu suka masakan Bunda," balasnya.
Sekarang justru Indi yang tertawa. "Yayah emang begitu. Paling suka dengan masakan Bunda," balasnya.
Memang begitulah Pandu. Apa pun yang dimasak Ervita selalu enak untuknya. Semua pasti dimakan dan dihabiskan. Terutama jika memang dia meminta menu khusus, pastilah dia juga menghabiskannya.
"Yayah perutnya ampe agak buncit sekarang loh, Nda. Badannya enggak, perutnya saja sedikit," ucap Indi dengan menatap Bundanya.
Rupanya Indi yang masih kecil perhatian dengan Yayahnya. Dia tahu memang perut Yayahnya sedikit membuncit. Ervita sampai tersenyum karenanya.
"Enggak apa-apa, Mbak Didi. Walau begitu, Yayah tetap menjadi idolanya Mbak Didi kan?" tanya Ervita.
"Iya, selalu sayang Yayah," balasnya.
Sampai sore tiba dan akhirnya Yayah Pandu sudah pulang. Sore hari sebelum berbuka, mereka memilih mengasuh anak-anak di Pendhopo sembari menikmati angin sore. Indi yang bermain kemah, dan Irene yang sibuk dengan boneka-boneka milik kakaknya.
"Iya, Mas. Sambil lihatin anak-anak aja udah seneng," balas Ervita.
Usai itu, Ervita berbicara lagi kepada suaminya. "Yayah, katanya Didi tuh perutnya Yayah agak membuncit," ucapnya.
Pandu menunduk dan mengamati perutnya yang memang lebih membuncit sedikit. Kemudian, Pandu merespons ucapan Ervita. "Apa cowok memang begini ya, Nda. Kalau abis menikah, jadi gemuk. Wajar sih, beratku naik lima kilogram," balasnya.
Sejak menikah sampai sekarang Pandu sudah mengalami kenaikan berat badan kurang lebih lima kilogram. Pantas saja jika perutnya menjadi membenci. Namun, juga Ervita sebenarnya tidak keberatan.
"Cocok susunya, Nda," balas Pandu dengan tertawa.
"Hayo, gak boleh macam-macam. Nanti batal puasanya loh," balas Ervita.
Setelah itu, Ervita dan Pandu sama-sama tertawa. Hingga Indi mendekat ke arah Yayahnya.
"Yayah, tadi Nda udah buatin Kolak untuk Yayah loh," ucapnya.
__ADS_1
"Mbak Didi nemenin Bunda ya tadi?" tanya Pandu.
"Iya, tapi gak dicicip sama Nda, katanya Nda baru puasa. Nda bilang gak dicicip enggak apa-apa karena buat Yayah masakan Bunda selalu yang terenak," ceritanya.
Yayah Pandu pun tersenyum. "Benar, Mbak Didi. Masakan Nda selalu enak. Makanya Yayah perutnya agak buncit yah?" tanya Pandu.
"Iya, agak buncit sedikit, tapi tetap cakep," balas Indi.
Mendengar pujian dari Indi, Ervita dan Pandu sama-sama tertawa. Hingga Indi meminta untuk dipangku Yayahnya. "Yang cantik di rumah ada Nda, Didi, dan Irene. Yang cakep di rumah cuma Yayah," ucapnya.
"Iya, Yayah paling cakep serumah yah?" balas Pandu.
"Sedunia, paling cakep Yayah," balas Indi.
Mendengar suara Indi, nyatanya Yayah dan Bundanya semakin tertawa keras. Memang lucu memiliki anak. Terlebih ketika mereka sudah besar dan bisa diajak berbicara dan bercanda.
"Mau adik cowok dong, Nda ... yang kayak Yayah," ucap Indi dengan tiba-tiba.
"Katanya dulu adiknya cuma satu saja, Irene. Kok sekarang minta adik lagi?" tanya Ervita.
Indi tampak terdiam sebentar, dan menatap Bunda. "Biar Yayah ada temen mainnya, Nda."
"Mbak Indi dan Adik kan bisa juga menjadi temannya Yayah. Kan gak harus cowok sama cowok," balas Ervita.
Indi kemudian tertawa. "Ya, kalau Nda dan Yayah mau aja kok. Kalau Didi mau sih, Nda. Yang cakep seperti Yayah," balasnya.
Di saat yang bersamaan terdengar adzan yang menjadi tanda bahwa mereka bisa membatalkan puasa untuk hari itu. Pandu mengajak Indi dan Irene untuk masuk, mencuci tangan terlebih dahulu. Kemudian Ervita menyajikan Kolak yang tadi dia buat di atas meja. Sembari menyuapi Irene nanti.
"Alhamdulillah ... puasa hari pertama terlewati," ucap Pandu.
"Alhamdulillah ...."
Indi dan Ervita turut menyahut dan mengikuti. Sungguh bersyukur di hari. pertama berpuasa, Allah berikan kemudahan. Menikmati indah dan hangatnya berbuka dengan keluarga.
__ADS_1