
Mengunjungi anak dan cucu di Jogja, kali ini kedua orang tua Ervita memang ingin menginap, setidaknya untuk satu malam. Itu juga, karena Bapak Agus dan Bu Sri masih ingin menikmati dekat dengan cucu-cucunya.Esok siang barulah, keduanya hendak pulang dari Jogja.
Dulu sewaktu upacara tujuh bulanan Ervita, Bapak Agus dan Bu Sri pernah menginap di Jogja, tetapi kala itu mereka menginap di kediaman Hadinata. Sementara kali ini, mereka menginap di rumah Pandu dan Ervita.
"Anak-anak kalau tidur jam berapa, Vi?" tanya Bu Sri.
"Kadang jam setengah delapan malam sudah bobok kok, Bu ... nanti kami izin menidurkan anak-anak dulu ya, Bu," balas Ervita.
"Iya, tidak apa-apa. Ditidurkan dulu saja Indi dan Irene," balas Bu Sri.
Akhirnya, Ervita dan Pandu berbagi peran untuk menidurkan Indi dan Irene terlebih dahulu. Yayah Pandu yang menidurkan Indi, sementara Bunda Ervi yang menimang Irene dengan memberikannya ASI. Tidak sampai setengah jam rupanya Indi dan Irene sudah tertidur. Sehingga Ervita dan Pandu kini mencari keberadaan Bapak dan Ibunya. Sekadar menemani ngobrol bersama.
"Sudah pada bobok?" tanya Bu Sri.
"Iya, sudah, Bu ... anak-anak itu rutin kok jam tidurnya," balas Ervita.
"Ya, bagus, Vi ... jam segini sudah bisa istirahat," balas Bu Sri.
__ADS_1
Sekarang Bu Sri, Bapak Agus, Pandu, dan Ervita duduk bersama di Pendopo. Sembari merasakan angin malam yang semilir malam itu.
"Di rumah pasti semakin ramai ya Pak ... ada Baby Arka sekarang," ucap Pandu.
"Iya, Ndu ... rame tangisan bayi. Tambah rame," balas Pak Agus.
Kemudian Bu Sri hendak berbicara dan melihat wajah Ervita dan Pandu bergantian. "Ada kabar dari Solo, Vi," ucap Bu Sri dengan lirih.
"Kabar apa, Bu?" tanya Ervita.
Di sana baik Pandu dan Ervita sama-sama diam. Hanya saja, ketika menyangkut Ervita dan masa lalu, Pandu merasa tidak nyaman. Bagaimana pun, Pandu sudah menerima Ervita dan masa lalunya. Cintanya benar-benar memaklumi masa lalu. Bahkan putrinya Ervita diterima Pandu sebagai putrinya sendiri.
"Semuanya hanya masa lalu, Bu ... Ervi sudah tidak ingin mengingat masa lalu itu," balasnya.
Akan tetapi, Bu Sri kemudian menghela nafas panjang dan menatap Ervita kembali. "Istrinya Firhan, Wati meminta kepada suaminya untuk meminta maaf kepada kamu, Vi," balas Bu Sri.
"Meminta maaf untuk apa, Bu? Tidak ada lagi yang perlu dimaafkan," balas Pandu kala itu.
__ADS_1
"Menurut Wati, mungkin saja jika mendapatkan maaf dari kamu, mereka mungkin akan mendapatkan keturunan," balas Bu Sri lagi.
Pandu akhirnya memilih kembali berbicara. "Kenapa tidak mencoba untuk pengobatan dulu, Bu ... kan sekarang teknologi medis itu sudah canggih. Kalau mau berobat pasti juga akan berhasil sehingga bisa mendapatkan keturunan," balas Pandu.
Di sini terlihat bahwa Pandu adalah seorang yang berpikiran logis. Bahwa memang untuk mendapatkan keturunan, bisa melalui jalan pengobatan terlebih dahulu. Tidak perlu mengungkit juga tentang masa lalunya.
"Biar saja, Bu ... Ervi tidak mau terlibat dengan rumah tangga mereka. Bagaimana pun Ervi sudah berumahtangga, sudah bahagia dengan Mas Pandu, Indi dan Irene. Jadi, tidak ada dendam di hati Ervi. Justru Ervi turut prihatin untuk rumah tangganya mereka," balas Ervita.
"Benar Vi ... lebih baik fokus dengan payung yang sekarang kita pegang. Jangan biarkan payung itu terbalik atau terkena angin. Tidak ada baiknya menyimpan dendam, Vi ... justru didoakan saja yang terbaik," balas Pak Agus.
Jika dahulu kala, Ervita seakan dimusuhi sendiri oleh Papanya. Akan tetapi, sekarang semua orang bisa berubah. Menuju ke arah yang lebih dewasa. Justru Pak Agus menasihatkan kepada Ervi untuk mendoakan yang terbaik. Memilih sepenuhnya ikhlas.
"Setuju Bapak ... memang sebaiknya kita turut prihatin. Ketika, ada kesusahan, kita dukung dalam doa," balas Pandu.
"Ya, Ibu hanya sebatas memberi tahu, Vi ... karena beberapa tetangga itu bingung, sebenarnya siapa yang pernah dihamili Firhan dulu?"
Ervita tersenyum getir. Bagaimana pun itu adalah masa lalu yang getir dan pahit. Masa lalu yang membuat diusir jauh dari rumah, dan juga menjadi orang asing di Kota Jogjakarta. Sekarang, Ervita lebih memilih untuk ikhlas. Baginya Indi adalah segala-galanya untuk Ervita. Terlepas dari masa lalu dan juga kepahitan yang dulu dialaminya.
__ADS_1