
Pandu dan Ervita merasa sangat senang karena Mei dan Tanto untuk kali pertama mau main ke Jogja. Mereka terlihat begitu excited ketika menjemput keduanya di Stasiun. Begitu juga dengan Indira yang sangat senang bisa bertemu dengan Om dan juga Tantenya.
“Rumahnya dari stasiun jauh Mas?” Kali ini Tanto tampak bertanya kepada Pandu, menanyakan apakah rumah kakak iparnya itu jauh dari stasiun.
“Lumayan, setengah jam sih … cuma kalau weekend jalanan di Jogja itu macet, jadinya ya bisa lebih dari itu,” jawab Pandu sembari mengemudikan mobilnya.
"Rumah sendiri atau ikut Ibuk, Mbak?" tanya Mei kemudian kepada Ervita.
"Rumahnya Mas Pandu ... aku mengikut Mas Pandu saja. Pasrah bongkokan (memasrahkan semuanya - dalam bahasa Indonesia) kepada Mas Pandu," balas Ervita dengan tertawa.
Pandu pun tersenyum, "Aku yang ikut Mbakmu malahan Mei," balas Pandu kemudian.
Tampak Mei pun mengernyitkan keningnya dan bertanya lagi kepada kakak iparnya itu. "Ikut gimana Mas? Kan yang asli Jogja itu Mas Pandu, sementara Mbak Ervi ke sini cuma seorang diri," balasnya.
"Iya, aku yang ngikut Mbakmu itu. Rumah itu aku beli dan bangun untuk Ervi, Indi, dan anak-anak kami nanti. Atas nama Mbak kamu," balas Pandu.
"Serius Mas?" tanya Tanto yang seakan tidak percaya.
"Iya, serius ... sejak awal ketemu sama Dinda, aku berpikir beli rumah, nanti kalau sudah siap sama-sama menikah, aku akan berikan rumah itu untuk Dinda. Sertifikatnya atas nama Dinda, cuma aku yang simpan," cerita Pandu kemudian.
Mungkin memang tidak banyak yang tahu, tetapi memang Pandu ketika merasa suka dengan Ervita sembari menyelami serta meyakinkan hatinya, Pandu membeli perumahan yang tidak jauh dari rumah orang tuanya dan kemudian merenovasinya, bahkan Pandu juga membuat Pendopo Joglo yang tidak begitu besar di depan rumah karena Ervita pernah berkata dia suka dengan rumah yang dimiliki orang tuanya. Akhirnya, sertifikat rumah itu dibalik nama menjadi nama Ervita ketika Pandu memutuskan untuk menikah. Dia memberikan rumah itu sebagai mahar.
"Masak Mas? Kok kamu tidak pernah bercerita," tanya Ervita kepada suaminya.
"Beneran, Nda ... kapan-kapan aku tunjukkan. Kan dulu aku bilang waktu usai pernikahan kita, rumah ini punya kamu, Nda ... masak kamu lupa sih?" tanya Pandu kemudian.
Ervita memilih tersenyum dan menggelengkan kepalanya sejenak. Membiarkan saja suaminya itu, dan pasti bagi Ervita banyak yang Tuhan ubahkan di dalam hidupnya. Memiliki Pandu dalam hidup bukan hanya menutup celanya, memberikan kesempatan bagi Indi untuk memiliki dan merasakan kasih sayang seorang ayah, dan tentunya secara ekonomi mereka juga lebih stabil.
__ADS_1
"Nah, sudah sampai ... ke rumah Bapak dan Ibu dulu yah, nanti baru ke rumah. Menyapa yang lebih tua dulu," ucap Pandu.
"Ke rumah Eyang Kakung, Yayah? Mau lihat Parkit sebentar boleh Yah?" tanya Indi kepada Ayahnya.
"Iya, boleh ... biar Om Tanto dan Tante Mei kula nuwun dulu kepada Eyang," balas Pandu.
Mei dan Tanto juga kaget melihat rumah dengan Pendopo yang terbuat dari kayu Jepara. Terlihat kokoh, Pendopo yang dipadukan dengan rumah tinggal keluarga Hadinata itu. Kemudian Pandu, mengajak mereka untuk menyapa orang tuanya terlebih dahulu.
"Kula nuwun (permisi - dalam bahasa Indonesia), Bapak dan Ibu, ada adik-adik ini yang datang," ucap Pandu sembari berjalan di depan mengajak Mei dan Tanto untuk masuk ke dalam rumah orang tuanya.
Tampak Bu Tari dan Pak Hadinata keluar dari dalam rumah dan tentunya mereka senang karena ini adalah kali pertama keluarga Ervita main ke Jogjakarta dan ke rumahnya. Pasangan paruh baya itu tampak menyapa dan menyambut keduanya.
"Yuh, akhirnya sampai di Jogja Mbak Mei dan Suami," sapa Bu Tari dengan begitu senang.
"Kula nuwun Bapak dan Ibu," balas Tanto dan Mei berganti.
"Naik apa ke Jogja?" tanya Bu Tari lagi.
"Naik kereta api, Buk ... katanya Mbak Ervi kalau naik sepeda motor dalam kondisi hamil bahaya soalnya Solo ke Jogja bisa macet dan bisa lebih dari dua jam," balas Mei kemudian.
Bu Tari pun menganggukkan kepalanya, "Iya Mbak ... di daerah Bogem, Jogja itu macet Mbak ... apalagi kalau akhir pekan, semua jalan itu kok padat."
"Nggih Bu ... jadinya tadi naik kereta api saja sama Mas Tanto," balas Mei.
Mengobrol dan kemudian Bu Tari menyajikan Teh hangat dan juga aneka camilan untuk dihadangkan kepada Mei dan Tanto. Bu Tari dan Pak Hadinata merasa senang ada adiknya Ervi yang datang ke rumah.
"Saudara kandung cuma berdua aja ya Mbak" Giliran Pak Hadinata yang bertanya kepada mereka.
__ADS_1
"Iya Bapak ... Mbak Ervi yang sulung dan saya," balas Mei.
"Kalau di Jawa itu namanya Kembang Sepasang, Mbak ... karena dalam keluarga punya anak perempuan dua, sepasang. Kalau Bapak dan Ibu ini yang pertama cewek, terus Pandu. Disebutnya Kendhini Kendhana," jelas Pak Hadinata kepada mereka.
Mei pun menganggukkan kepalanya, "Kalau di Jawa itu masing-masing ada penyebutannya nggih Pak," balasnya.
"Iya Mbak ... yang penting paseduluran itu yang rukun. Dengan sedulur atau saudara itu yang rukun. Bapak itu sudah membuktikan Mbak, rukun itu benar-benar agawe sentosa (rukun itu membuat sentosa). Bapak dengan saudara kandung Bapak yang ada tujuh itu rukun semua. Akhirnya hidupnya sentosa Mbak ... begitu juga yang Bapak ajarkan ke Pandu dan Mbaknya Pertiwi," cerita Pak Hadinata.
Petuah yang baik dari Pak Hadinata. Memang ada pepatah dalam bahasa Jawa yang menyebutkan, "Crah Agawe Bubrah, Rukun Agawe Sentosa," yang artinya pertengkaran itu membuat rusak atau menimbulkan kehancurkan, rukun membuat sentosa atau kokoh. Pepatah itu mengajarkan kerukunan dan perdamaian dengan keluarga, saudara, dan juga dalam hidup bermasyarakat. Jika sesama saudara hidup rukun, pastilah mereka tidak akan tercerai berai. Hidup ayem dan tentrem itu juga merupakan cita-cita hidup orang Jawa sejak dulu.
"Nggih Pak ... setuju," balas Tanto di sana.
"Ya sudah, dienakkan. Anggap rumah sendiri. Ya, ini rumahnya orang tuanya, Pandu ... Mbak Mei dan Mas Tanto. Sugeng rawuh (selamat datang - dalam bahasa Indonesia). Nanti diajak main-main Pandu ... Indi biar di sini saja," balas Pak Hadinata lagi.
"Nggih Pak ... nanti diajak muter-muter Jogja, mumpung di Jogja. Mau main ke mana?" tanya Pandu kepada Mei dan Tanto.
"Terserah aja, Mas ... sebenarnya malam itu pengen jalan-jalan di Malioboro beli Angkringan itu loh Mas," balas Tanto.
"Boleh," jawab Pandu. Kemudian Pandu menatap ke Bapaknya, "Nanti malam titip Indi bisa Pak? Mau mengantar adik-adik ke Malioboro," ucap Pandu.
Bu Tari dan Pak Hadinata menganggukkan kepalanya, "Bisa ... Indi nanti malam di rumah Eyang yah?"
"Iya, nonton Parkit sama Eyang Kakung," balas Indi.
"Sukanya Parkit, Mbak Mei ... Indi ini. Katanya lucu, bunyinya cuit-cuit gitu," ucap Pak Hadinata yang tertawa karena Indi sama seperti dirinya yang menyukai Parkit.
"Lucu nggih Pak," balas Mei.
__ADS_1
Mei dan Tanto pun merasa senang karena keluarga Pandu sangat baik, dan bisa memberikan petuah yang bijak. Ervita pun dianggap sebagai seorang anak perempuan di rumah mertuanya. Begitu juga Indi yang diterima dan disayangi sebagai cucu sendiri. Mei yang melihat saja merasa terharu.