Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Dua Perbandingan yang Kontras


__ADS_3

Sementara itu di Solo, keluarga Firhan tengah berdiskusi bersama. Secara khusus ada keinginan dari Pak Supri. Memang, kondisi Pak Supri usai pernah terkena penyumbatan Iskemik, berangsur-angsur pulih. Namun, ada keinginan di dalam hatinya yang ingin dipenuhi oleh Firhan.


"Han, Bapakmu ini sudah tua ... sudah pernah terserang Stroke. Mumpung Bapak masih gesang (hidup), Bapak ingin melihat kamu menikah," ucap Pak Supri kepada Firhan.


Pria muda yang bekerja di bank itu, menghela nafas yang terdengar begitu berat. "Firhan belum ada calon Pak ... apalagi sekarang Firhan jalannya tidak sempurna, satu kaki yang tidak benar bagian ototnya. Mungkinkah masih ada yang mau sama Firhan yang seperti ini," ucapnya dengan menghela nafas lagi dan lagi.


"Bagaimana kalau ta'aruf, Han?" balas Bu Yeni yang menawarkan ta'aruf kepada putranya itu.


"Apa berhasil Bu?" tanya Firhan dengan pesimis.


Bukan lantaran masa lalunya yang tidak baik, tetapi yang Firhan masalahkan adalah kondisi fisiknya. Dia bisa berjalan baik, tapi bila diperhatikan bagian kakinya tidak sempurna. Mungkinkah masih ada wanita yang mau dengan pria yang tidak sempurna sepertinya. Itulah yang membuat Firhan merasa pesimis.


"Jujurlah dengan masa lalumu, Han ... ceritakan semua. Kalau benar ada yang mau, ajaklah untuk menikah dengan serius," balas Bu Yeni.


Pak Supri menatap Firhan di sana, "Cuma, apa masih ada gadis yang mau dengan pria lajang yang sebenarnya sudah punya anak?"


Ya, Firhan memang masih lajang dalam artian belum menikah. Namun, Firhan bukan seorang jejaka. Itu semua karena perbuatannya di masa lalu bersama Ervita berhasil menghasilkan Indi yang adalah anak kandungnya sendiri. Walau terus-menerus dielak, tetapi darah yang ada di dalam tubuh Indi adalah darahnya.


"Tidak bisakah dengan menutup semua yang terjadi di masa lalu?" tanya Firhan.


"Tidak tahu, Han ... daripada terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dan justru akan menjadi bumerang di kemudian hari. Jadi, tidak ada salahnya memulai satu hubungan dengan kejujuran," balas Bu Yeni.


Firhan memilih diam dan menimbang-nimbang dalam hatinya, "Tidak bisakah dengan menutupi apa yang ada? Setidaknya ada yang bisa menerima Firhan dengan kondisi fisik yang tidak sempurna ini," balasnya.


Ya, yang menjadi pertimbangan bagi Firhan adalah sosok yang bisa menerimanya dengan kondisi fisik yang tidak sempurna. "Semoga saja ada ... jadi, mau ta'aruf?" tanya Bu Yeni kemudian.


"Ya coba saja Bu ... Firhan sih sekarang tidak ada kriteria. Jika memang pada akhirnya ada yang mau, itu sudah berkah," balasnya.

__ADS_1


"Mumpung Bapak masih memiliki usia, tidak tahu sampai kapan Bapak akan berumur panjang. Jadi, mumpung Bapak masih ada, menikahlah, Han," pinta Pak Supri lagi.


Firhan pun menganggukkan kepalanya, "Ya Pak ... semoga nanti ada yang mau," balasnya.


"Ya, pelan-pelan ... nanti kalau sudah jadi, sebaiknya terus-terang, Han ... termasuk dengan masa lalu kamu bersama Ervi itu. Jangan sampai semuanya hancur," balas Bu Yeni lagi.


Dalam pandangan Bu Yeni hanya saja jangan sampai ketidakjujuran justru merusak ikatan pernikahan yang baru saja dibangun. Pun, Bu Yeni melihat bahwa Ervita juga sudah menemukan jodoh yang baik dan bisa menerima dirinya apa adanya. Oleh karena itu, Bu Yeni berharap ada sosok yang bisa menerima Firhan apa adanya. Menerima masa lalunya dan kondisi kaki yang tidak sepulihnya dalam kondisi yang baik.


"Semoga adik kamu Erma juga bisa segera lulus dan mendapatkan pekerjaan. Biar ekonomi keluarga kita lebih baik. Sekarang, praktis kita hanya bergantung pada usaha kost yang kita miliki. Bapakmu sudah tidak bekerja lagi. Kalau Erma sudah lulus kuliah, rasanya juga semakin ringan nanti," ucap Bu Yeni lagi.


"Iya Bu ... semoga," balas Firhan.


Bagi Firhan sendiri usai gagal menikah dengan Tiana beberapa waktu yang lalu, dan ditambah dengan kondisi kakinya yang tidak baik, rasanya Firhan juga merasa tidak memiliki kriteria sendiri. Asalkan ada yang mau dengannya saja, rasanya sudah cukup. Terlihat jelas bagaimana Sang Kuasa menguji Firhan, membuat pria itu tidak lagi jumawa, walau di dalam hatinya Firhan masih saja keras dan juga seakan ingin menutup semua kenangan bersama Ervita. Sebab, berawal dari masa lalu dengan Ervita, Firhan merasa seluruh hidupnya runyam karenanya.


***


Keluarga Pandu Hadinata masih menonton televisi dengan Ervita yang masih dusel-dusel sembari menciumi aroma parfum suaminya, sementara Indi juga duduk tenang dengan bergelayut manja dengan Ayahnya. Petang yang indah untuk keluarga kecil itu.


"Yayah kok pulangnya sore banget?" tanya Indi kepada Ayahnya di sana.


"Iya, tadi Ayah bantuin Eyang Kakung dan Eyang Uthi untuk turunin stok batik di Kios dulu," balasnya.


"Oh, Yayah ke Kios yah ... nanti kapan-kapan Didi ikut Eyang lagi ke kios boleh?" tanyanya.


"Boleh ... cuma harus hati-hati yah ... di Pasar Beringharjo itu sangat ramai. Jangan pernah lepas dari Eyang loh yah," balas Pandu.


Indi pun menganggukkan kepalanya perlahan, "Iya ... cuma enggak kios yang di Pasar kok Yayah. Ada butik, kan Eyang membangun butik. Nah, Didi mau ikut di situ," balasnya.

__ADS_1


Ervita pun melirik ke suaminya, "Iya tow Mas? Bapak dan Ibu membuat butik?" tanyanya.


Pandu pun tersenyum di sana, "Bukan Bapak dan Ibu, tapi aku sih, Nda ... nanti kalau kamu butuh hiburan, jualan di butik, Nda. Cuma memang dikerjakan karyawan saja. Masih dengan branding Batik Hadinata karena sudah memiliki nama dan pasarannya," balas Pandu.


Tanpa Ervita sadari, rupanya diam-diam suaminya itu membangun butik batik yang tentu lebih modern dan juga tetap mempertahankan branding nama besar Hadinata. Ervita pun sampai kaget, karena mertuanya juga selama ini tidak pernah bercerita akan hal itu.


"Buat kamu, Nda ... sapa tahu nanti kamu bisa jadi pengusaha batik juga," balas Pandu.


"Ya ampun Mas ... segitunya. Aku cuma mengurus pembelian online saja sudah seneng loh Mas ... malahan dibuatkan butik," balasnya.


"Ya, sekaligus untuk investasi. Bukan butik, cafe batik tepatnya, Nda. Kita kan di rumah, yang ngerjain orang lain tidak masalah. Jadi konsepnya mini store dan kafe Jawa gitu. Kita jualan aneka menu di Jawa atau konsep Angkringan Modern, dan aku sama teman kerja sama jualan Jamu. Aku buat itu atas nama kamu, Nda," ucap Pandu lagi.


"Hmm, atas nama aku bagaimana Mas?" tanya Ervita bingung.


"Ya, tanah dan bangunan dan nanti izin operasional Hak Guna bangunan semuanya atas nama kamu. Itu untuk kamu," balas Pandu.


Ervita sampai tercengang mendengarnya. Sebab, dia sudah menikmati hidup bersama Pandu seperti ini. Dia yang semula adalah orang asing justru memiliki keluarga. Dia yang semula terisolasi dan menumpang, kini bisa tinggal dan hidup bersama suaminya di rumah. Itu sudah berkah yang luar biasa untuk Ervita.


"Hasil kerja suami kan untuk istrinya, Nda ... hitung-hitung investasi juga. Daripada dipegang uang itu bisa hilang atau terpakai habis. Kalau untuk investasi juga justru akan naik nilainya. Nanti kalau ada rejeki lagi bangun kost, Nda ... atas nama kamu juga," balas Pandu.


Ervita menggelengkan kepalanya, "Jangan Mas ... itu uang kamu. Hasil kerja kamu. Aku bisa hidup bersama kamu seperti ini sudah cukup dan bahagia. Aku tidak menginginkan lebih," balasnya.


"Tenang saja Dinda ... ya semua yang aku miliki punya kamu dan anak-anak kita. Aku kerja keras banting tulang buat kalian juga. Mungkin nanti kalau tua, aku ingin menerima setoran uang dari usaha yang kita punya, aku di rumah saja sama kamu kalau tua nanti," balas Pandu dengan terkekeh perlahan.


"Momong (mengasuh) cucu ya Mas," balas Ervita.


Pandu pun menganggukkan kepalanya, "Iya, ngasuh cucu saja di rumah. Sambil pelihara Parkit," balasnya dengan tertawa.

__ADS_1


__ADS_2