Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Dolanan Dakon


__ADS_3

Selang beberapa hari berlalu, agaknya kali ini Ervita memiliki keinginan untuk ngidam yang sangat aneh. Yang dia inginkan bukan makanan seperti Brambang Asem, yang Ervita inginkan justru adalah mainan daerah yang sekarang keberadaannya sudah begitu langka, yaitu Dakon atau dalam bahasa Indonesianya disebut dengan Congklak.


"Yayah, aku pengen sesuatu," pinta Ervita sekarang kepada suaminya.


Pandu pun tersenyum di sana, "Pengen apa Dinda? Kalau gitu kamu kayak Indi deh," balasnya dengan mencubit hidung Ervita karena gemas.


"Beliin Dakon dong Mas ... congklak. Mau enggak?" pinta Ervita kepada suaminya itu.


"Ngidam kali ini super aneh dan semuanya dalam kekhazanahan lokal yah ... sebelumnya ada Brambang Asem dan Lotisan, sekarang Dakon. Kamu mau main sama siapa emangnya?" tanya Pandu.


"Main sama Yayah dong ... bisa enggak?" tanyanya.


Pandu kian tertawa di sana, "Bisa dong ... mainanku waktu kecil dulu. Ya, walau tidak terlalu jago. Kamu mau Dakon yang plastik yang ada di Pasar Malioboro itu atau yang kayu, yang mirip punya orang Jawa pada zaman dulu?" tanyanya.


"Yang kayu Mas ... dulu aku pernah lihat di museum Keraton Solo itu ada Dakon yang terbuat dari kayu dan ujungnya berupa kepala naga. Serem ya Mas," balasnya.


"Ya, itu dulu Sayang ... sekarang dari kayu, tanpa ukiran naga juga ada kok," balas Pandu.


"Beliin ya Yayah," pinta Ervita.


Pandu pun menganggukkan kepalanya, "Oke ... apa sih yang enggak buat Dindaku ... tapi nanti malamnya aku ajak ke Andromeda ya Dinda," ucapnya.


Ervita tampak mengernyitkan keningnya, "Ke Galaksi?" tanyanya.


"Iya, Swargaloka kita tutup dulu ... ganti ke Andromeda," balas Pandu.


"Oke, siapa takut," balas Ervita.


Pandu tentu merasa senang karena Ervita terlihat begitu bersemangat dan juga mau-mau saja dia ajak ke Andromeda. Oleh karena itu, Pandu berniat akan mencarikan Dakon atau Congklak untuk Ervita.

__ADS_1


***


Selang dua hari ....


Pandu benar-benar membelikan Congklak atau Dakon untuk istrinya itu. Dia sengaja mengunjungi toko penjual mainan tradisional di Jogjakarta. Congklak yang dibeli Pandu ini dibuat dari kayu dan dicat cokelat sehingga terkesan begitu unik dan etnik tentunya.


"Nda, ini yang bikin kamu ngidam," ucap Pandu dengan menyerahkan congklak dari kayu itu.


"Weh, sudah dapat Mas? Bagus banget ... yuk, dolanan dakon yuk Mas," ajaknya kepada Ervita.


"Boleh ... janji yah, malamnya ke Andromeda," balas Pandu dengan tertawa.


Congklak atau Dakon adalah mainan tradisional khas Jawa yang terbuat dari kayu dan kepala naga di ujungnya. Terdapat lima atau tujuh lumbung (lubang) yang berderet. Setiap pemain berhak atas lumbungnya dan satu lumbung besar. Cara memainkannya adalah dua orang pemain duduk saling berhadap-hadapan, kemudian lumbung-lumbung kecil itu diisi dengan kuwuk atau butiran hitam sebayak lima atau tujuh sesuai dengan jumlah lumbung kecil yang ada.


Ervita tampak begitu excited mengisi lumbung-lumbung itu dengan biji dan kuwuk, setelahnya mereka membuat kesepakatan bersama. Siapa yang bermain pertama,  Sementara itu, jika kuwuk terakhir berhenti di lubang yang berisi kuwuk, maka pemain tersebut dapat mengambil semua kuwuk yang ada di lubang terakhir, dan terus melanjutkan permainan. Jika kuwuk terakhir berhenti di lubang yang kosong, maka dia mati. Dengan demikian, lawan pun mendapat giliran bermain dengan ketentuan.


"Kamu duluan saja Dinda," ucap Pandu yang mempersilakan Ervita untuk bermain lebih dulu.


Maksudnya kini kuwuk terakhir berhenti dengan cara menembak, maka lumbung yang ada di depannya yang menjadi miliknya. Sementara jika pikul, adalah dua lumbung di samping kanan dan kirinya akan menjadi miliknya dengan syarat kuwuk berhenti di lumbung lawan.


"Tembak saja ... kan aku suka nembak kamu," balas Pandu dengan begitu absurd.


Mulailah Ervita mengambil lumbung pertama dan mulai memainkan kuwuk dengan cara mengisi satu per satu lumbung, Beberapa menit berlalu dan Ervita masih tetap main.


"Wah, kamu jago banget Dinda ... bisa aku tinggal ngopi dulu dong ini," balas Pandu.


Ervita pun tertawa di sana, "Lha gimana, masih bisa bermain og ... sabar ya Ayah," balasnya.


"Iya penting Bumil senang," balas Pandu.

__ADS_1


Hingga akhirnya, Ervita menyelesaikan permainan dan hampir menyapu habis lumbung milik Pandu. Kemudian Pandu pun tampak berpikir dan menghitung-hitung. Sebab, permainan Dakon juga berkenaan dengan peluang yang kita miliki.


"Astaga, gimana ini ... lumbung kamu dah penuh. Sementara punyaku satu saja belum loh," balas Pandu.


"Heheheh ... jago ya Mas," balas Ervita.


"Iya, banget ... suhu kamu, Nda," balas Pandu lagi.


Akhirnya Pandu mencoba bermain sebisanya. Hingga keduanya menyelesaikan permainan dengan Ervita sebagai pemenangnya.


"Yah, lumbungku kebakar ... kalah, Nda," balas Pandu.


Ervita pun tertawa, "Kalah atau menang kan tetap ke Andromeda kan Mas?" balas Ervita.


"Yakin mau?" tanyanya.


"Pelan-pelan saja, kalau terlalu bersemangat kasihan dedeknya," balas Ervita dengan menundukkan wajahnya.


Pandu pun tertawa dan mulai bernyanyi lagu dolanan sewaktu dia masih kecil dulu.


Yo cah dolanan dakon (Yo, anak-anak bermain congklak)


Watu item cacahe pitu (batu hitam jumlahnya tujuh)



(Ini adalah gambar Dakon atau Congklak ya Bestie ... ada yang pernah main ini?)


Pandu mau ke Andromeda nih ...

__ADS_1


Malam ini atau besok Bestie?


__ADS_2