
Keluarga Ervita tiba di Solo ketika waktu masih siang. Mereka melanjutkan dengan mengobrol bersama. Lama tidak berjumpa membuat begitu banyak obrolan yang bisa dibagikan bersama. Sama seperti sekarang, banyak sekali yang mereka bahas bersama. Selain itu, juga ada aneka jajanan khas Solo yang disajikan dan juga menemani untuk minum Teh siang itu.
"Sambil dimakan loh Mas Pandu ... jangan hanya didiemin," ucap Bu Sri.
Pandu kemudian menganggukkan kepalanya, kemudian mengambil Serabi Solo yang disajikan mertuanya. Serabi sendiri adalah makanan khas Solo yang dibuat dengan campuran tepung dan santan. Biasanya disajikan original dengan rasa santan, atau dengan rasa coklat biasanya ada meses yang ditaburkan di tengah-tengahnya. Sebenarnya, Pandu juga sungkan karena Ibu mertuanya itu seakan menyajikan semua makanan.
"Pandu ambil Serabinya loh, Bu," ucapnya.
"Iya, Mas ... dimakan, dihabiskan. Ervi, ayo ... makan juga," ucap Bu Sri.
Sekarang Indi sudah main keliling kampung dengan Kakungnya. Sementara Baby Irene kini sedang digendong oleh Uthinya. Sehingga, memang Ervita bisa sedikit bersantai. Ada Mei dan Tanto juga yang turut bergabung. Sebagai keluarga, mereka merasa begitu rindu dan juga bisa bertemu itu seakan ada banyak obrolan yang mengalir begitu saja.
"Irene ini full ASI, Mbak?" tanya Mei kepada Kakaknya.
"Full ASI, Mei ... dulu Indi itu juga full ASI sampai usia 2 tahun kok. Semoga untuk Irene juga cukup yah, sampai Irene dua tahun," balas Ervita.
Memang Ervita adalah pro ASI. Dia menilai bahwa kandungan ASI itu sangat baik. Sumber nutrisi yang tepat dan seimbang untuk semua bayi. Selain itu, bayi yang minum ASI juga memiliki pencernaan yang sehat, memiliki imunitas atau daya tahan tubuh yang kuat. Oleh karena itulah, Ervita kali ini juga berharap bisa memberikan ASI untuk Irene sampai bayinya berusia dua tahun nanti.
"Aku juga, Mbak ... Arka ini juga full ASI. Cuma ya itu sih, minumnya kuat banget," ucapnya.
"Tidak apa-apa. Kan sampai usianya enam bulan yang dia butuhkan cuma ASI. Jangan diberikan makanan apa-apa loh, Mei," ucap Ervita.
Sekaligus Ervita memperingatkan kepada Mei. Bahwa bayi sampai usianya enam bulan yang dia butuhkan hanya ASI. Jika diberikan Makanan Pendukung ASI (MPASI) dini ketika bayi belum berusia enam bulan bisa membuat bayi mengalami gangguan lambung, usus, dan bisa terjadi Syndrom Kematian Mendadak. Hal itu bisa terjadi karena MPASI yang diberikan kurang tepat, seperti teksturnya yang terlalu padat, sehingga lambung bayi belum siap untuk mencernanya. Selain itu bisa meningkatkan obesitas pada bayi. Risiko tersedak pun harus diperhatikan. Maka dari itu, sebaiknya MPASI atau makanan pendamping diberikan ketika bayi sudah berusia enam bulan. Tidak usah berlomba-lomba memberikan MPASI ketika si baby belum berusia enam bulan.
"Iya, Mbak ... aku juga baca-baca seputar parenting tentang bayi berusia 0-6 bulan. Jadi, ya bisa tahu sedikit-sedikit. Maklum, baru anak pertama dan masih awam, Mbak," balas Mei.
__ADS_1
Ervita menganggukkan kepalanya. "Aku dulu waktu Indi bayi juga belajarnya memakai internet kok. Cukup bertanya kepada mesin pencarian internet, ribuan artikel yang bisa dipercaya sudah keluar dalam hitungan detik dan kita bisa membacanya," balas Ervita.
Ya, sekarang untuk semua hal yang ingin kita tahu bisa kita dapatkan dengan berselancar dengan menggunakan telepon pintar kita. Tidak memerlukan banyak buku, karena banyak juga sumber di internet yang bisa dipercaya kebenarannya.
"Iya ya, Mbak ... kalau enggak belajar kan ya enggak tahu ya Mbak. Enaknya sih itu."
Mei sendiri juga merasakan begitu canggihnya teknologi. Untuk belajar saja bisa dilakukan di rumah dan kapan saja. Waktunya tentu juga lebih fleksibel. Itu kemudahan yang dimiliki para ibu di era milenial.
Namun, sekarang ada Bu Sri yang kedua bola matanya berkaca-kaca. Merasa kasihan ketika membayangkan Ervita saat dulu mengasuh Infi sendiri. Sebagai seorang Ibu, saat dia membayangkan bagaimana Ervita memiliki bayinya Indi membuat sang Ibu merasa sedih dan merasa bersalah.
"Ibu masih merasa bersalah ketika kamu melahirkan Indi dulu dan seorang diri, Vi. Maafkan Ibu yang tidak bisa menemani kamu, tidak bisa membantu merawat Indi," ucap Bu Sri.
Ketika diingatkan dengan masa lalu itu, ada rasa bersalah yang muncul dengan sendirinya. Rasa bersalah yang terasa begitu sesak di dalam dada. Berkali-kali Bu Sri meminta maaf pun rasanya hatinya masih terasa sakit dan tetap merasa bersalah.
"Memang masa lalu, Vi. Namun, kamu pasti kesakitan saat itu. Kamu mengalami sakit bersalin dan tidak ada yang merawat kamu. Bahkan kamu sudah full time mengasuh Indi ketika luka jahitanmu masih terasa begitu sakit. Kalau Ibu diam dan tiba-tiba membayangkan itu. Ada rasa bersalah yang muncul dengan sendirinya," cerita Bu Sri.
"Mbak, dulu melahirkan dan merawat seorang diri gitu, Mbak Ervi mengalami Baby Blues enggak?" tanya Mei sekarang.
Ervita pun menganggukkan kepalanya. "Iya, mengalami. Puncaknya tiga hari usai melahirkan Indi, mungkin lelah, sakit, dan kurang tidur menjadi satu, aku pernah Indi nangis itu enggak aku tolong. Aku ikut nangis di sampingnya. Untung saat itu Ibu dan Mas Pandu datang, terus aku diajak tinggal di rumahnya. Perlahan-lahan, Baby Bluesku sembuh," cerita Ervita.
Baby Blues adalah syndrom atau bentuk kesedihan dan kemurungan yang dialami seorang ibu setelah melahirkan. Baby blues biasanya muncul pada waktu dua hari hingga tiga minggu sejak bayi dilahirkan. Baby Blues sendiri adalah kondisi yang berbahaya, karena jika tidak ditangani bisa berpotensi menjadi depresi pasca melahirkan.
Sekarang ketika Ervita menceritakan pengalamannya dulu, Bu Sri menitikkan air matanya. Kasihan sekali dengan cerita dari anaknya itu. Di saat dia dalam kondisi jatuh dan terpuruk, keluarga yang terjalin dari darah, justru sama sekali tidak memberikan pertolongan. Untunglah ada keluarga Hadinata yang kala itu datang dan berbaik hati kepada Ervita dan Indi.
"Sedih ya Mbak," balas Mei. Sang adik yang mendengarkan cerita dari Kakaknya saja, merasa begitu sedih. Tidak bisa membayangkan bagaimana kondisi kakaknya kala itu. Namun, ada rasa syukur di dalam hati Mei karena kakaknya masih dikelilingi oleh orang-orang yang baik. Ada keluarga Hadinata yang tulus menyayangi dan menerimanya.
__ADS_1
"Ya, itu sedihnya. Hamil tanpa suami, tanggung jawab untuk diri sendiri dan janinku, bersalin sendiri, hingga menjadi ibu tunggal semuanya sudah kualami. Sekarang, mungkin aku sedang menikmati kemurahan dari Allah. Air mataku ditakar oleh Allah dan digantikan dengan kebahagiaan," balas Ervita.
Ya, semua yang terjadi dalam hidup manusia hanya misteri Illahi. Semua cobaan datang dan berganti dengan tawa. Semua musim berlalu. Bahkan tak jarang manusia harus berkubang dalam lembah air mata. Seakan tidak ada uluran tangan yang membantu. Namun, ketika semua cobaan itu berlalu dan digantikan dengan pelangi sehabis hujan, barulah manusia bisa tersenyum dan memaknai kehidupan yang sudah dia jalani.
"Kuat banget sih, Mbak," balas Mei yang sekarang juga menangis.
"Mbakmu ini lebih kuat daripada yang kamu kira, Mei," sahut Pandu.
"Benar, Mas. Kuat banget. Kalau aku sudah gila mungkin mengalami semuanya itu sendiri," balas Mei.
Bu Sri juga meneteskan air matanya. Cerita pilu dari Ervita yang benar-benar menyayat hatinya. Pengalaman hati yang Ervita rasakan sangat menyedihkan rasanya.
"Sudah jangan nangis ... sekarang aku kan sudah baik-baik saja," balas Ervita.
"Cuma, teringat yang dulu kan kasihan banget, Mbak," balas Mei.
"Tidak apa-apa, memang garis takdirku seperti itu. Kalau aku tidak melewati semua kepahitan dan lembah air mata itu, bisa jadi aku tidak bertemu dengan Mas Pandu loh," balas Ervita.
Pandu, Mei, dan Bu Sri sama-sama menganggukkan kepalanya. Menyadari Ervita menunjukkan kedewasaannya sebagai seorang manusia, seorang wanita. Menyingkapi masa lalunya dulu yang pahit adalah sarana untuk bertemu dengan jodoh sejatinya.
"Kemarin aku ngobrol sama Mbak Pertiwi, mbaknya Mas Pandu. Mungkin semua kepahitan itu adalah cara Allah untuk menjauhkanku dari orang yang tidak tepat denganku, dan mendekatkanku dengan jodohku. Alhamdulillah, aku bisa menerima semuanya. Alhamdulillah juga, Allah pertemukan aku dengan Mas Pandu," ucap Ervita.
"Amin ... alhamdulillah ya Allah," balas Bu Sri dan Mei bersamaan.
Obrolan seputar parenting yang akhirnya menjadi cerita pilu Ervita di masa lalu. Semua terasa sesak. Namun, ketika memiliki sudut pandang yang baru, semua duka dan air mata adalah cara untuk menikmati keagungan dan kebesaran Allah semata.
__ADS_1